My Upside Down World

My Upside Down World
Fall Down


__ADS_3

Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya. Ini memang benar dunia permainan sampai perasaan cinta pun dibuat mainan. Yang menjadi pikiranku adalah kemana Ryu akan pergi dan kapan?


"Kei, mau kutemani berbelanja untuk keperluan pestamu nanti malam?" Tanya Zen.


Aku mengangguk, "Tentu saja. Tapi aku sepertinya akan ke kantor sebentar karena Mr. Sean menunggu laporanku." Jawabku.


Zen mengangguk, "Baiklah. Akan aku tunggu." Jawab Zen.


Zen bersikap seperti biasa. Dia tidak menunjukkan gelagat aneh sama sekali.


Aku menyelesaikan semua laporanku dengan cepat dibantu oleh Zen. Sesekali aku memperhatikan dia namun tidak ada yang berbeda darinya. Saat aku melihatnya kemarin bersama dengan Ryu, Zen bukanlah Zen yang sekarang ada di sampingku.


"Ah selesai juga akhirnya." Sahutku, "aku akan mengantar ini kepada mr. Sean, apa kamu mau menungguku disini?" Aku bertanya kepada Zen.


"Aku ikut denganmu setelah itu kita akan berbelanja." Jawab Zen.


Aku mengangguk setuju. Sepanjang perjalanan itu kami sangat menikmati waktu kami. Karena terlalu asik aku sampai lupa kalau Zen kemungkinan punya kepribadian ganda.


Sesampainya di kantor aku menyerahkan laporanku kepada mr. Sean, "Well, that was a great job for you Kayla. I think you should get a promotion next month." Sahut mr. Sean.


Aku bersorak kegirangan, "Really? I'm so excited. Thank you so much mr. Sean." Ucapku.


Mr. Sean mengajakku untuk ber high five dan kemudian aku berpamitan kepadanya sekaligus mengundangnya ke acaraku malam ini.


"Aku senang sekali, Zen." Sahutku kepada Zen, namun aku menangkap raut wajah Zen yang tidak senang saat aku menceritakan itu kepadanya.


"Ada apa denganmu?" Aku bertanya kepada Zen.


Zen menjawabnya gelagapan, "Ah, tidak. Aku turut bahagia karena kamu bahagia hari ini. Hanya saja aku sedang memikirkan bagaimana tanggapan orang lain kalau kamu di promosikan sedangkan aku masih berada di posisi yang sama." Kata Zen.


Aku tidak boleh percaya begitu saja, bisa saja kan dia tidak senang karena dengan aku naik jabatan, level permainanku pun semakin naik.


Kami berbelanja banyak sekali, Zen berkata kepadaku nanti dia akan membantuku memasak dan menyiapkan segalanya. Zen kembali seperti semula, Zen yang ceria dan manis dengan tatapan serta senyuman yang menawan. Tidak sedikit orang-orang melihat ke arah kami hanya untuk mengagumi seorang Zen.


Sama sepertiku mereka terpesona kepada Zen. Apalagi sikap Zen yang sangat manis dan selalu merangkulku. Tidak disangka, kami bertemu dengan Ryu disana.


"Kei!" Ryu memanggilku.


Aku melihat Ryu yang berjalan mendekatiku tapi aku tidak melihat Iria, dimana Iria?


"Hai, kamu sendirian?" Aku bertanya kepadanya karena aku tidak menemukan Iria sejauh mataku memandang.


Ryu mengangguk, "Aku bisa pinjam Kei sebentar saja?" Tanya Ryu kepada Zen. Namun sebelum Zen menjawabnya, Ryu sudah menarik tanganku.


"Kemana Iria?" Aku bertanya mendahuluinya.


"Dengar, Zen ingin memilikimu selamanya. Apa kamu bersedia menua bersamanya? Apa kamu tidak mau mencoba mencari yang lebih baik dari Zen?" Tanya Ryu bertubi-tubi.


Aku memandangnya heran, "Ada apa denganmu Ryu?" Aku balik bertanya kepadanya.


Dan lagi-lagi sebelum Ryu menjawabnya, Zen sudah menarik tanganku lagi, "Kalau pinjam itu tidak boleh terlalu lama. Apalagi Iria seorang yang pemarah." Tukas Zen.


"Zen, apa yang ingin dibicarakan oleh Ryu? Apakah kamu dan Ryu bermusuhan?" Aku bertanya kepadanya.


Zen tertawa mendengar pertanyaanku, "Hahaha, aku tidak bermusuhan hanya saja dari dulu aku dan Ryu selalu bersaing dalam hal apa pun. Aku tau kamu teman kecil Ryu dan dia terlalu ikut campur dalam segala hal tentangmu. Aku tidak suka itu!" Jawab Zen.

__ADS_1


"Tapi semenjak bersama Iria, dia tidak mengaturku. Baru ini saja lagi." Jawabku.


Dan karena acara berbelanja kami sudah selesai, kami segera kembali untuk menyiapkan keperluan pesta kami nanti.


Sesuatu yang aku tidak tau sebelumnya adalah, ternyata Zen pintar menghias makanan. Sepertinya Zen pria serba bisa, dia mampu melakukan apa pun dengan baik.


Cintaku kepadanya pun semakin besar begitu aku semakin dekat dengannya.


"Ini cantik sekali Zen." Sahutku sambil mengambil sebuah bunga yang dibentuk dari buah pepaya.


"Tapi kamu lebih cantik, Kei." Katanya menggodaku.


Tidak bisa dihindari, wajahku bersemu memerah karena ucapannya. Zen merengkuh pinggangku dan menciumku dengan lembut.


Ciuman yang semakin dalam dan menuntut, aku terhuyung-huyung ke belakang karena Zen terus mendesakku, dan dia tidak melepaskan ciumannya.


"I love you Kei." Bisiknya, dan mengangkatku ke atas meja kemudian menjatuhkan segala barang yang berada di atasnya.


Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya dan ini pengalaman pertamaku, seorang pria menciumku dan menginginkanku seperti yang Zen lakukan saat ini denganku.


Zen memindahkan ciumannya ke leherku, dan...


Tok...tok


"Kei! Kami datang!"


Suara ketukan pintu membuat Zen melepaskan kesibukannya dengan leherku dan menatap mataku sambil tersenyum, "Pengganggu." Katanya kemudian Zen mencium bibirku lagi bahkan lebih panas dari sebelumnya dan aku tidak rela melepaskannya.


"Nanti kita teruskan lagi. Sekarang kamu harus bersiap-siap, aku yang akan membawanya ke atap." Bisik Zen lagi dan mengecup pipiku.


Acara pesta yang kubuat di atap apartmentku berlangsung meriah, karena kupikir tidak ada yang datang ternyata hampir semua teman di kantor kami datang.


Mereka semua memberikanku selamat dan mengajakku jalan di lain waktu. Aku terharu sekali karena rencanaku berjalan lancar. Semoga Zen tidak mengetahui taktiku ini.


Ryu datang bersama Iria, Jane dan Bern.


"Tidak kusangka caramu cerdas juga untuk memperoleh teman." Bisik Iria.


Aku tersenyum, "Sedikit lagi rencanaku satu per satu berhasil dengan baik, Iria. Aku akan kembali ke duniaku." Aku membalas bisikannya.


Iria mengerutkan keningnya dan tersenyum licik, "Oh yah? Ryu akan pergi dalam waktu dekat ini untuk mengambil beasiswa impiannya dan tentu saja aku mendukungnya." Kata Iria lagi.


Deg!


Ini yang kemarin Ryu bahas bersama dengan Zen. Ternyata benar, Ryu akan pergi jauh.


"Pe...pergi? Kemana? Berapa lama?" Aku tidak bisa menyembunyikan keingintahuanku.


"Dia akan pergi ke sebuah negara selama enam tahun, dan tentu Ryu akan menetap disana." Jawab Iria.


Aku lemas mendengar ucapan Iria. Dia tidak mungkin berbohong karena aku sudah mencuri dengar percakapan antara Ryu dan Zen.


Aku berusaha kuat dan tidak terpengaruh dengan ucapan Iria itu, "Kapan Ryu akan berangkat?"


"Pertengahan bulan depan. Kita lihat saja apa kamu bisa menamatkan permainan ini dengan cepat atau kamu akan gigit jari karena kepergian Ryu." Kata Iria.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkanmu menang, Iria. Berarti targetku sampai pertengahan bulan depan, begitu bukan?" Kataku lebih kepada diriku sendiri.


Jantungku sudah berdetak dengan tidak normal, ingin menangis, ingin mengajak Ryu kembali ke duniaku. Bahkan jika ada pintu, aku akan mendobrak pintu itu supaya terbuka.


"Silahkan dan selamat mencoba." Kata Iria melengos pergi dan aku melihat Jane serta Bern sudah menantinya.


Aku jadi merasa sendiri di tengah keramaian ini. Bagaimana tidak, semua orang disini tidak nyata. Aku melihat Zen, dia tidak nyata, mr. Sean tidak nyata, bahkan Jane serta Bern. Bahkan Ryu tidak nyata.


Dan ketika aku merasa gundah, seseorang memberikan aku sehelai tisu, "Pakailah. Aneh sekali kamu ini di acaramu sendiri kamu berdiri di pojokan dan menangis. Bagaimana aku bisa meninggalkanmu Kei?"


Aku mengangkat wajahku, "Ryu?" Sahutku tidak percaya.


Ryu menepuk pucuk kepalaku, "Aku akan pergi jauh dan cukup lama. Carilah pria yang baik yang bisa kupercaya untuk menjagamu." Kata Ryu.


"Kenapa tidak kamu saja." Tukasku gusar.


Ryu tertawa, "Aku akan meraih impianku, Kei. Dan aku berharap kamu juga bisa meraih impianmu sendiri." Kata Ryu.


Mataku sudah di genangi oleh airmata, aku tidak lagi bisa menatapnya.


Zen tiba-tiba mendekati kami, "Ahoy kalian! Sedang bicara apa serius kembali?" Tanya Zen.


Dia melihatku mengusap airmata, dan dengan emosi Zen memukul Ryu,


Bugh!


"Apa yang kamu lakukan padanya!" Kata Zen.


Ryu berdiri dan mengembalikan pukulannya untuk Zen,


Bugh!


"Aku hanya sedang berbicara dengannya, bodoh!" Tukas Ryu.


Segera saja adegan pukul-pukulan pun terjadi. Zen dan Ryu bergulat dengan garang.


Semua yang hadir melihat ke arah kami dan berteriak histeris.


"Iria! Bantu aku memisahkan mereka!" Teriakku kepada Iria yang hanya menonton mereka.


Iria tersenyum dan mengangkat bahunya. Ini bagian dari permainan, pikirku.


Aku berusaha memisahkan mereka, "Zen hentikanlah!" Sahutku, "Ryu, berhenti!" Ujarku lagi sembari mendorong tubuh keduanya agar menjauh.


Aku menahan tubuh Ryu dari belakang agar ia berhenti menyerang Zen, tapi aku tidak sanggup untuk menahannya sehingga aku terdorong ke belakang dan..


"Aaaaaaaaaa!" Aku terjatuh dan berusaha menggapai apa yang bisa kugapai.


"Kei!" Seru Ryu histeris.


Dan tiba-tiba saja,


Bruk!


Aku tidak sadarkan diri lagi...apakah aku mati? Karena pasti hatiku sudah banyak berkurang saat jatuh. Segera saja pandanganku menjadi kabur dan gelap.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2