
Piiiip..
Piiip...
"Suara apa itu?" Tanya Ryu bingung.
"Satu karakter terbuka.." jawabku
"Dan, siapa itu?" Tanya Ryu lagi.
Tiba-tiba saja sebuah topeng berwarna putih terpasang sempurna di wajah Ryu.
Pluk!
Ryu kelabakan dan berusaha melepaskan topeng tersebut dari wajahnya, "Aarrgghh, apa ini? Kei! Keira! Lepaskan benda ini dari wajahku!" Tukasnya sambil terus menarik topeng itu, namun tetap saja topeng itu tidak terlepas dan seperti menyatu dengan wajah Ryu.
Aku memukul pucuk kepalanya,
Tuk!
"Hei, Ryu. Kamu adalah karakter yang terbuka itu. Kamu menjadi Manusia Bertopeng yang sepertinya akan menyusahkanku tapi ketika aku berhasil menolongmu nanti, aku akan mendapatkan koin." Jawabku, dan kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Ryu terdiam dan terperangah, "Aku? Bagaimana bisa aku menjadi tokoh karakter di game buatanku sendiri?" Tanyanya.
"Ya, karena kamu sudah masuk ke dalam permainan ini kan? Jadi kamu sekarang harus ikut bermain denganku." Sahutku mencoba untuk bersabar.
Sepertinya Ryu sudah terpengaruh game ini karena sifatnya berubah, biasanya dia cepat sekali memahami sesuatu yang baru namun kali ini berasa sulit sekali.
Aku hanya bisa mengelus dadaku, sabar Kei sabar. Orang sabar rejekinya lebar. Aku menghembuskan nafas panjangku.
"Benarkah? Tapi apa yang harus kulakukan?" Tanya Ryu.
Aku membuka amplop tantangan di atas kepalaku, "Yang harus kulakukan adalah menemani Manusia Bertopeng ke suatu tempat. Hmmm? Apa maksudnya?" Aku melihat Ryu.
Ryu menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua bahunya, "Aku juga tidak paham."
Aku mengembalikan amplop quest tadi ke atas kepalaku, "Bagaimana kita sekarang?" Tanyaku.
Ryu menjadi kecil sekali sehingga dia bisa memanjat tubuhku dan duduk di pundakku. Itu belum seberapa, suara Ryu pun berubah,
"Tidak usah khawatir Kei karena saat ini kita akan memecahkan permainan ini bersama-sama, dan..."
Aku tertawa terpingkal-pingkal, "Hahahahaha, Ryu suaramu berubah seperti chipmunk. Hahahaha!" Sahutku.
Ryu meninju pipiku dengan tangan mungilnya, "Jangan menggodaku! Lihat kalau aku sudah membesar lagi nanti!" Ancamnya.
"Oh yah? Kalau kamu sudah besar nanti kamu mau jadi apa? Hahahaha, jadi apa Ryu?" Aku masih tertawa geli dan menggodanya.
"Haduh, perutku sakit sekali. Tapi bagaimana pun aku berterimakasih padamu karena kamu sudah menyusulku kesini dan membuatku tertawa terpingkal-pingkal seperti ini." Sahutku lagi tulus, kemudian mengecup tubuh mungilnya.
Blush!
Wajahnya memerah dan dari atas kepalanya keluar asap kecil seperti mainan kereta api uap.
__ADS_1
"Ryu bagaimana aku mendapatkan hati Ryu disini?" Tanyaku teringat itu satu-satunya goalku di game ini.
"Iria menempel terus kepadanya seperti seekor kutu anjing, dan lagi Ryu akan pergi ke luar negri selama enam tahun. Aku berbicara dengannya hanya karena dia memintaku untuk tidak berkencan dengan Zen." Sambungku lagi.
"Kumpulkan koinmu Kei, setelah itu belikan dia roti kesukaannya, baju dengan motif tokoh game kesayangannya, belikan dia software juga. Itulah guna koin-koinmu. Satu lagi percantik dirimu." Jawab Ryu kecil.
"Darimana aku bisa mendapatkan koin itu?" Tanyaku putus asa.
"Aku akan menunjukannya kepadamu. Ayo!" Seru Ryu kecil.
Aku mengikutinya dan baru saja aku akan keluar, Zen sudah berdiri di depan apartemenku, "Hai, Kei." Sapanya.
Zen berdiri disana dengan tampan seperti patung pahatan yang tampan yang diukir dengan tepat di tempat yang juga tepat, "Hai Zen." Sahutku dan aku tidak bisa menahan senyumku.
Dan aku mendengar seruan dari Ryu kecil di pundakku, "Kei! Sadarlah Keira! Zen hanya seorang distraktor! Hei, kembali ke permainanmu!"
Aku memasukan Ryu kecil ke dalam tas kecilku, "Apa kamu akan mengajakku jalan hari ini?" Tanyaku.
"Mmmm, boleh. Kamu mau kemana? Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" Tanya Zen.
"Tidak ada, ayo kita berjalan-jalan saja." Aku mengajak Zen untuk mulai berkeliling sambil sesekali mencari koin yang dimaksud Iria dan Ryu.
Ting...
Apa itu? Apa itu koin? Aku melihat ke atas kepalaku, dan benar saja aku mendapat seratus koin. Aku tau sekarang, kalau koin besar nilainya seratus, sedangkan kalau koin kecil hanya bernilai lima puluh.
Zen melihatku dengan heran, "Kei ada apa denganmu? Sedari tadi sibuk sekali." Tanya Zen.
"Oh, aku?" Aku memberikan senyuman lebar kepada Zen, "Tidak ada apa-apa." Sahutku.
Aku mengangguk bangga, "Dan itu berkat bantuanmu juga Zen." Jawabku dan menggelayut manja di lengan Zen.
Zen mengecupku keningku, "Lalu apa yang kamu lakukan selanjutnya?" Tanya Zen lagi.
"Menurutmu aku harus apa?" Aku balas bertanya.
Zen mengajakku untuk duduk di sebuah taman yang sangat cantik, "Menurutku kamu harus fokus pada kita." Jawab Zen mencium bibirku lembut.
Aku mengalungkan lenganku ke leher Zen dan membalas ciumannya. Aku tidak peduli kami berada di taman dimana ada beberapa pasang mata yang melihat kami dan tertawa mengejek. Aku juga tidak peduli dengan level permainan sialan ini.
Ciuman Zen sungguh candu untukku. Segala yang ada padanya sanggup mengalihkan semua duniaku. Dia seperti menyihirku hanya dengan kedatangannya.
Ditengah ciuman kami, tiba-tiba ada sesuatu yang menggigit pinggangku,
Ciyut!
"Aw!" Aku melepas ciumanku dan melihat apa yang mengigitku, Ryu kecil! Ryu memanjat dari tasku menuju ke pundakku lagi.
Mengganggu saja Ryu ini, mau besar mau kecil tetap saja mengganggu.
"Kei apa yang kamu lakukan? Zen itu distraktormu!" Seru Ryu melompat-lompat di pundakku.
"Kenapa Kei?" Tanya Zen, "ada serangga?"
__ADS_1
Aku menggelengkan kepalaku, "Aku tidak tau hanya sedikit gatal disini." Ucapku sambil pura-pura menggaruk pundakku.
Zen beranjak dari kursinya, dia berjalan ke belakangku dan menyibakkan rambutku.
Kemudian Zen mengecup pundakku, "Gatalnya disini?" Tanya Zen.
Glek!
Aku memegang jantungku yang memberontak kegirangan, semua organ-organ di tubuhku bersorak kegirangan saat Zen mengecup pundakku.
"Keira! Aaaa!" Ryu kecil terjatuh. Aku melihatnya sedang bergelantungan pada tali tasku. Aku memungutnya dan memasukannya kembali ke dalam tas.
Aku membalikkan tubuhku hingga berhadapan dengan Zen, "Sudah tidak terasa kok Zen. Terimakasih." Ucapku.
Zen melanjutkan aktifitasnya yang tadi terputus karena gigitan Ryu kecil yang menyebalkan.
Kami kembali saling berciuman dan berpagutan seolah tidak ada yang bisa mengganggu kami dan aku rela menghentikan game ini sementara hanya untuk menikmati ciumannya.
Tiba-tiba latar belakang tempat ini berubah menjadi di dalam apartemenku. Dan kami masih berpacu dengan irama nafas kami yang semakin memburu.
Begitu tangan Zen mulai masuk ke dalam bajuku, aku seakan tertampar dan mendorong Zen untuk menjauh, "Ehem! Zen aku perlu ke kamar kecil sebentar." Sahutku.
Di dalam kamar kecil, aku mengeluarkan Ryu dari dalam tasku. Aku memeluknya dengan kuat.
"Ryu, bagaimana ini aku hampir saja melakukan itu dengannya." Bisikku.
Ryu kecil memukul keningku, "Anak bodoh! Sudah kubilang dia itu distraktor. Dia akan menganggumu untuk mendekati Ryu! Ryu di dunia ini memang tergila-gila kepada Iria tapi aku memprogramnya untuk bisa membuka hati kepadamu. Maka itu, berjuanglah Kei." Bisik Ryu kecil.
"Tapi Zen membuatku berdebar-debar. Ah, aku tidak bisa menahannya." Ucapku.
Tanpa aba-aba Ryu kecil melompat tinggi dan mengecup bibirku,
Cup!
"Semoga ini menguatkanmu supaya tidak terbuai oleh Zen. Ingatlah aku Kei dan kembalilah bersamaku." Sahut Ryu kecil.
Aku meneteskan airmata haru mendengar ucapan Ryu kecil.
Tok...tok
"Kei, kamu tidak apa-apa?" Tanya Zen.
"Itu Zen!" Sahutku dan menyembunyikan Ryu kecil di dalam saku tasku.
"Maafkan aku Zen." Ucapku.
"Apa kamu berbicara dengan seseorang di dalam?" Tanya Zen.
Aku menggeleng, "Mana mungkin. Amu sendirian di dalam sana." Jawabku.
Zen memelukku dan tiba-tiba saja Zen menarik sesuatu dari saku tasku,
"Dan makhluk apa ini Kei?" Tanya Zen memegang bagian leher Ryu kecil yang meronta-ronta.
__ADS_1
...----------------...