
Bump
Bump
Bump
"Iria dia semakin mendekati kita? Apakah mungkin aku melewati celah terkecil itu?" Tanyaku.
Monster raksasa itu semakin mendekati mobil kami,
"Kita coba saja, Kei. Aku mendukungmu!" Sahut Iria.
"Beritahukan aku celahnya." Pintaku.
"Oke, siap. Kamu siap Kei?" Tanya Iria..
"Always." Jawabku pasrah.
Aku mulai melajukan mobilku dengan kecepatan super tinggi untuk mengincar celah di antara kedua kaki monster raksasa itu.
"Sekarang Kei!" Seru Iria ketika mobilku sudah melaju,
Wush!
Grep!
"Aaahhh, dia menangkap kita! Iria apa yang harus kulakukan?" Tanyaku.
"Em...em...em... tunggu sebentar...em..."
"Iria! Kita harus tenang! Apa aku bisa menggunakan senjataku untuk menyerangnya?" Tanyaku.
"Senjata apa saja yang kamu punya?" Tanya Iria.
Aku melihat tombol senjataku, "Aku tidak tau tapi aku akan mencoba segalanya." Ucapku.
"Baiklah. Ayo kita mulai!" Seru Iria.
Aku menekan tombol hijau, gelembung-gelembung keluar dan mengganggu penglihatannl si raksasa. Ini membuat pegangannya goyah.
"Aku mual..." Ucapku kepada Iria.
"Aku juga..." Sahut Iria.
Bagaimana tidak mual, raksasa itu menggoyang-goyangkan mobil kami dan menjungkir balikkannya seperti memainkah sebuah mobilan.
Tunggu!
"Iria! Apakah raksasa ini adalah raksasa anak kecil?" Tanyaku.
"Entahlah, aku tidak tau!" Tukas Iria.
Aku mengambil kesimpulan bahwa monster raksasa ini adalah seorang anak kecil, maka aku memberanikan diriku untuk keluar dari mobil itu.
__ADS_1
"Kei, mau kemana?" Tanya Iria.
"Menghampiri si raksasa, kan? Aku ingin memastikan sesuatu." Jawabku.
Aku nekat keluar dari mobilku hanya bersenjatakan stick bubble dan berdiri di genggaman jari-jarinya yang terkepal memegang McLarenku.
"HEI! LIHAT INI!" Aku berseru kepada raksasa itu, dan meniupkan stick bubble itu ke arah wajahnya.
Raksasa itu mencari arah bubble dan berhenti menggoyang-goyangkan mobilku, aku kembali melompat ke arah jendela mobil, "Iria, ambil alih kemudi. Begitu raksasa ini menjatuhkan mobil kita, kamu harus siap untuk menjalankan mobil ini sampai ke ujung terowongan itu." Sahutku.
"Lalu bagaimana denganmu Kei?" Tanya Iria khawatir.
"Jangan memikirkan aku, nanti aku akan segera menyusulmu. Ikuti kata-kataku, please." Sahutku lagi.
Raksasa itu mulai mencari bubble kembali, dan dia melihat ke arahku, "Percayalah kepadaku! Aku akan menunggumu disana! Bersiaplah Iria!" Tukasku sambil melompat dan kembali meniupkan bubble di depan wajah raksasa itu.
Aku melihat dan memastikan Iria sudah berada di belakang kemudi, dan begitu aku melihat dia sudah siap, aku segera melompat ke atas hidung raksasa itu dan meniup bubblenya disana.
Raksasa itu sangat senang, matanya mengejar bubble-bubble itu terbang dan menangkap mereka dengan tangannya yang besar.
Aku harus membuat raksasa itu melupakan mobilku, dengan jantung berdebar, aku mendekatkan stick bubble ke mulut raksasa itu dan membiarkan ia meniupnya.
Ffffuuuuuhhhh!
Raksasa itu meniup stick bubbleku dan dia bersorak kegirangan karena ia berhasil mengeluarkan gelembung. Aku terus mencoba pendekatan dengan cara itu, sampai akhirnya dia ingin memegang sendiri botol gelembung yang ada di tanganku,
"Wuoh! Wuoh!" Sahut raksasa itu.
Aku memberikan botol gelembung kepadanya dan si raksasa menerimanya.
Bruk!
Ia terduduk di tengah jalan dan sudah sibuk bermain dengan gelembungnya.
Aku melihat Iria sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang bisa ia taklukan, tak lama aku sudah mendengar bunyi klakson mobil,
Bip!
Lalu, bagaimana caraku melarikan diri sekarang?
"Kamu sudah puas bermain, bolehkah aku bernyanyi untukmu?" Tanyaku.
Raksasa itu memandangku dengan kepalanya ke kanan dan kiri, "Wuoh! Wuoh!" Kata raksasa itu dan aku mengartikan jawaban itu sebagai tanda setuju.
Kemudian, aku mengambil suaraku. Sebenarnya aku tidak peduli bagus atau tidaknya suaraku hanya saja paling tidak enak di dengar oleh seorang monster raksasa kecil ini.
"Ehem, rock a bye baby on a tree top. When the wind blows the cradle will rock. When the bough breaks the cradle will fall. But, mama will catch you, cradle and all."
Aku mengulangi nyanyian itu sambil menepuk-nepuk punggung si raksasa, sampai akhirnya,
"Kkkrrrr....grrookk!"
Dia tertidur, aku meluncur perlahan dari wajahnya sambil masih bersenandung lembut supaya ia tau aku masih ada disana.
__ADS_1
Dan begitu aku sampai di kakinya, aku segera berlari secepat mungkin menuju mobilku.
"Iria!" Tukasku.
Iria kembali pindah ke belakang dan aku mengambil alih kemudiku seperti semula.
"Yes! Kei! Yes! Bagaimana bisa kamu punya ide untuk bermain dengannya? Dan bagaimana caramu menidurkannya?" Tanya Iria.
"Karena raksasa itu hanya memainkan mobil-mobil ini, dan begitu tadi kuserang dengan bubble dia tidak menangkisnya melainkan mencari bubble itu dan memainkannya dari situlah aku berpikir mungkin dia raksasa anak-anak." Jawabku sambil terus fokus ke lap timeku.
"Dan bagaimana kamu menidurkannya?" Tanya Iria lagi masih penasaran dengan yang kulakukan.
"Mudah saja. Bernyanyi. Aku menyanyikan dia lagu yang sering di nyanyikan ibuku saat aku masih kecil." Jawabku lagi.
Iria bertepuk tangan dan memekik senang.
"Sekarang apa lagi?" Tanyaku.
"Pit stop." Jawab Iria.
Dan benar kata Iria, pit stopnya mulai terlihat.
Dua puluh menit disana, aku bisa beristirahat sebentar selagi mobilku dilakukan pengecekan.
"Setelah ini final lap, kita harus mengumpulkan banyak senjata dan siapa yang berhasil melewati garis finish paling cepat, dialah pemenangnya." Sahut Iria.
"Apa yang terjadi jika aku kalah?" Aku bertanya.
"Kamu harus mengulang level ini dengan pasangan berbeda. Maka itu aku harus memastikan kemenanganmu kali ini." Jawab Iria, wajahnya tegang karena memikirkan kalah atau menang.
Prriit!
Suara peluit berbunyi menandakan pengecekan telah selesai.
"Iria, ayo!" Tukasku.
Iria menganggukan kepalanya, "Hmm, ayo!" Jawabnya mantap.
Kami mulai memasuki final lap dimana lap ini lebih panjang dengan halangan dan rintangan lebih banyak. Aku melirik ke arah Iria dari kaca spion, "Iria, terimakasih sudah menemaniku dan bermain denganku hari ini. Kita harus melakukan ini lebih sering." Sahutku menyeringai lebar.
Iria tampak terkejut mendengar ucapanku, "Be...benarkah? Terimakasih Kei. Aku juga senang. Ayo kita jadi juara hari ini!" Iria berseru.
...----------------...
Halo, mampir yuk ke karya teman aku,
Blurb :
Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tiba-tiba masuk ke dunia di dalam cerita yang kamu tulis sendiri? Marah, frustasi, atau justru malah senang?
Kali ini aku akan membawa kisah seorang penulis novel ternama yang bernama Amelia Tan. Dia tiba-tiba masuk dan terdampar ke dalam dunia fantasi yang dia ciptakan dalam novelnya dan menjadi tokoh protagonis wanita yang menerima ketidakadilan.
Amelia Tan yang jomblo akut di dunia real bertemu dengan seorang pangeran tampan yang sangat mirip salah satu aktor kenamaan yang akan memerankan film yang diangkat dari novelnya. Apakah Amelia Tan selamanya akan terjebak di sana sebagai Xiao Jin?
__ADS_1
Simak kisah selengkapnya dan jangan lupa support novel ini ya ... 🥰