
"Apa yang akan kamu lakukan di duniaku?" Tanyaku kepada Iria.
"Aku hanya ingin mencoba berada disana." Jawab Iria.
Aku memandangnya kesal sekaligus kasihan kepadanya, "Jangan pernah bermimpi, Iria! Kamu tidak akan pernah menjadi nyata dan tempatmu memang disini bukan di duniaku!" Ucapku geram.
Aku kesal karena dia menarikku kesini, aku marah karena dia mengambil posisiku, dan aku sangat marah karena Irialah yang membuat Ryu mengambil beasiswanya di dunia ini sehingga menyebabkan aku tidak dapat kembali ke duniaku!
Aku tidak akan membawa sesuatu yang tidak nyata ke duniaku!
Mata Iria tampak berapi karena menahan kesal, "Aku akan membuatmu menjadi tidak nyata, Kei! Kamu akan merasakan menjadi aku dan terperangkap disini selamanya!" Tukas Iria gusar.
Aku tertawa mengejek, "Aku masih punya kesempatan tujuh hari ke depan. Dan kamu memberikanku dua pilihan, bertahan atau menyerah. Pilihanku adalah bertahan, Iria! Aku akan mendapatkan hati Ryu dalan waktu tujuh hari!" Sahutku. Kemudian aku bergegas pergi meninggalkan Iria di atap.
Aku tidak peduli dengan aturan main di dunia permainan ini, saat ini fokusku adalah kembali ke duniaku! Aku sudah sangat muak berada disini.
"Keira, wajahmu menyeramkan." Bisik Ryu kecil di telingaku.
Deg!
Aku lupa sedari tadi dia ada di pundakku dan menyaksikan perbuatanku yang seperti seorang preman itu.
"Apakah daritadi kamu mendengarku berbicara kepada Iria?" Tanyaku kepada Ryu.
Ryu terkikik perlahan, "Hihihi, kamu keren kok tadi. Aku tidak menyangka kamu akan mengambil keputusan itu. Kenapa kamu tidak membiarkan Iria untuk ikut bersama kita?" Ryu balik bertanya.
"Dia tidak pernah nyata Ryu. Dia hanya imajinasimu. Apa yang akan terjadi jika dia berada di dalam dunia kita? Dia akan mengacaukan segalanya kan?" Jawabku.
Ryu termenung, "Benar katamu. Tapi apakah kamu juga takut kalau aku tertarik dengan Iria?" Tanya Ryu lagi.
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak. Untuk apa? Dia seperti imajinasimu Ryu. Hadapilah kenyataan bukan hadapilah imajinasimu. Seperti itu kan? Dan lagi, aku berjuang disini bukan untuk mendapatkan Ryu tapi untuk kembali ke duniaku." Jawabku tegas.
Jujur saja, aku tidak suka dengan cara Iria yang selalu menarikku ke dalam sini. Tidak sopan namanya! Lagipula untuk apa dia mencampuradukan kenyataan dengan imajinasi?
"Jadi, kamu sudah mempunyai rencana untuk mendapatkan Ryu dalam waktu tujuh hari?" Tanya Ryu lagi.
Aku menggeleng, "Belum. Kita jalani saja karena biasanya apa yang sudah kita rencanakan akan hancur berantakan." Jawabku.
Ryu mengangguk, "Baiklah! Berjuanglah Kei!" Sahut Ryu.
Aku sama sekali tidak tau apa yang harus aku lakukan l, aku tidak punya rencana apa pun, bahkan aku tidak tau bagaimana cara mendekati Ryu.
"Jadilah dirimu sendiri Kei. Itu cara paling mudah bukan?" Jawab Ryu.
__ADS_1
Dan tiba-tiba saja otakku seperti tersengat listrik, "Benar katamu Ryu." Ucapku bersemangat.
***
Karena semangat yang diberikan Ryu kecil kepadaku maka pagi ini, aku membuatkan sarapan untuk Ryu. Aku tidak peduli mau dimakan atau tidak.
Aku merapikan mereka satu per satu ke dalam box makanan.
Isi kotak makanan itu kesukaan Ryu, mulai dari roti lapis cokelat (untukku roti kayu manis tentu saja), nasi gulung telur dan rumput laut, serta segelas kopi hitam.
Aku memberikan seperempat bagian kepada Ryu kecil dan sekarang dia tertidur karena perutnya terlalu penuh, "Wuah enak sekali Kei." Katanya sebelum tertidur.
Dengan hati-hati aku memasukkan Ryu kecil ke dalam tasku dan kumasukan ia ke dalam kotak tissu kecil.
Karena levelku sudah naik dan aku bisa memgumpulkan koin, jadi sepanjang perjalanan banyak koin yang bisa aku sundul, aku tangkap, aku ambil saat merunduk, begitulah.
Tak beberapa lama aku sudah sampai di apartemen Ryu, "Good morning Ryujin." Sapaku dengan senyum ceria.
Ada Iria. Tentu saja.
"Selamat pagi Kei, masuklah." Balas Iria.
Aku masuk dan melihat mereka sedang memasukan semua barang-barang Ryu ke dalam koper dan Iria bertugas memilah-milah barang Ryu.
"Apakah kamu sudah makan?" Aku bertanya kepada Ryu.
Ryu mengangguk, "Ya, tadi Iria yang membawakan makanan untukku." Jawab Ryu sambil tetap fokus memasukan barang-barangnya ke dalam koper.
"Aku ada sedikit makanan untukmu, makanlah. Kalau saat ini kamu sudah kenyang kamu bisa memakannya untuk siang. Dan kurasa aku tidak dibutuhkan disini, jadi sampai jumpa Ryu." Sahutku berpamitan.
Ryu melihatku, "Kei,"
Aku menoleh memandangnya, "Ya Ryu?"
Ryu tersenyum dengan manis, "Terimakasih untuk ini." Kata Ryu sambil mengangkat tas bekal yang kuberikan.
Aku mengacungkan ibu jariku kepadanya kemudian melambaikan tangan.
Aku anggap pagi ini aku berhasil dengan misiku.
Langkah pagiku terasa sangat ringan. Dan yang membuatku bahagia lagi adalah, aku berhasil membuat Jane dan Bern dekat padaku walau belum sedekat di dunia nyata tapi paling tidak mereka sudah tidak semena-mena terhadapku lagi.
Sepanjang hari itu merupakan hari terbaik di hidupku selama aku berada di dunia permainan ini.
__ADS_1
Dan sebagai penutup hari, sebuah amplop merah datang kepadaku,
Ting...tong
Ting... tong
"Selamat anda telah berhasil naik ke tingkat selanjutnya! Kumpulkan koin lebih banyak untuk mendapatkan Sang Pujaan Hati." Begitu isi suratnya.
Aku bisa melihat kemampuanku sudah banyak peningkatan, dan aku mendapatkan lencana baru karena level pertemananku sudah meningkat hingga 200%.
Clap...clap
Clap...clap
"Keira Ophelia, tidak kusangka kamu bisa berada di level empat ini dalam waktu yang cukup cepat. Dan kemampuanmu sungguh luar biasa. Kemampuan dirimu serta kemampuanmu untuk bersosialisasi."
"Iria?" Ucapku, kenapa dia harus selalu ada saat aku naik level?
Tapi Iria tidak sendiri,
"Hai Kei, selamat yah karena kamu berhasil naik level. Level empat ini kamu akan bertarung dengan hatimu. Aku akan selalu hadir di waktumu."
"Zen?" Biasanya hanya ada Iria tapi kali ini ada Zen juga. Perasaanku mulai tidak enak. Kiprah kehidupan percintaanku dengan Zen bisa dikatakan luar biasa, karena bagaikan tutup dengan botol yang tidak dapat dipisahkan.
Segala sesuatu tentang Zen membuatku terbuai. Candanya, wajahnya, tubuhnya yang atletis, dan belum lagi ciumannya.
"Zen akan menjadi penghalangmu untuk mendapatkan Ryu, di level ini hati Ryu yang semula biru berubah menjadi hijau artinya dia sudah membuka hati untukmu. Level warna hatimu ada di sebelah kanan." Kata Iria menjelaskan.
Aku mendongak ke atas kananku, warna hatiku untuk Ryu hijau. Artinya aku masih menyukai Ryu.
"Warna hatimu akan berubah menjadi merah jika kamu tidak menyukai Ryu lagi. Bersiaplah Kei." Ucap Iria.
Zen tersenyum sangat manis ke arahku, "Fokuskan hatimu di level empat ini Kei. Dan tetap kumpulkan koinmu karena kamu akan di hadapkan kepada dua pilihan, itu untukku atau untuk Ryu." Katanya.
Aku mengangguk, "Baiklah, aku paham." Sahutku bertekad kuat supaya aku tidak terjatuh dalam pesona Zen.
"Waktumu tersisa enam hari Kei, apa kamu siap? Kamu masih bisa merubah pilihanmu." Ucap Iria. Zen menyandarkan lengannya di pundak Iria. Tatapannya yang seksi seolah menarikku untuk menciumnya.
Aku kembali mengangguk, "Ya, aku siap. Ayo kita mulai level ini!" Sahutku.
Mereka tersenyum dan mengangguk. Musih tema permainan ini kembali dimainkan, sebagai tanda level baru telah di mulai.
...----------------...
__ADS_1