
"Zen?" Jawabku.
Zen duduk di sampingku, aku terus menatapnya dengan heran karena seharusnya dia berada di dalam kastil dan menunggu untuk aku selamatkan dan lagi aku mengambil bendera Ryu bukan bendera Zen.
"Apa kabar? Kita sudah lama tidak bertemu yah Kei. Mmm, berapa bulan yah?" Tanya Zen.
Aku mengangkat bahuku, "Aku tidak menghitungnya. Apa yang kamu lakukan disini?" Tanyaku.
"Aku ingin menemuimu." Jawab Zen singkat.
Ini bukan Zen!
"Baiklah, karena kamu sudah ada disini bantu aku untuk mendorong gerobak ini." Sahutku.
Zen dengan sigap berdiri dan mendorong gerobak itu, "Mau dibawa ke Nyonya Cissy?" Tanya Zen
Aku mengangguk, "Iya, seperti biasa." Jawabku.
Aku sedikit menyesal tidak mengajak Bibi Jemima bersamaku, tapi paling tidak sekarang ada Zen jadi aku tidak kesepian.
Sesampainya di Nyonya Cissy, Zen menurunkan seluruh isi gerobak, "Apa kabar Nyonya Cissy yang cantik?" Kata Zen menggoda Nyonya Cissy.
Nyonya Cissy tersipu malu wajahnya di penuhi semburat merah dan ungu, "Hehehe, Zen. Selalu bisa meluluhkan hati Cissy Tua ini." Katanya terkekeh.
Tak beberapa lama, Nyonya Cissy memberikan kami koin bayaran beserta tips untuk Zen. Segera saja pundi-pundi koinku bergemirincing keras karena adanya penambahan koin yang signifikan.
Rasa-rasanya aku akan melanjutkan level 7 setelah ini. Kalau Zen saat ini adalah sebuah sistem maka aku bisa memulainya sekarang.
Aku melongok koinku, tujuh belas ribu. Itu cukup untuk menyelesaikan level ini dengan cepat.
Walau pun Zen hanya sebuah sistem aku tetap menjaga perasaannya.
"Kei, bagaimana keadaan rumah kita?" Tanya Zen
"Semua berjalan dengan baik. Dan aku mempunyai teman baru. Aku memanggilnya Bibi Jemima. Bibi Jemima ini suka membantuku mengerjakan aktifitas di ladang dan pertanian. Orangnya juga cekatan, aku suka kepadanya." Jawabku
Zen mendengarkan ceritaku dengan antusias, itulah mengapa aku selalu salah dalam membedakan mana Zen yang sedang dalam mode silent dan mana Zen yang dapat mengontrol keinginannya sendiri.
Sesampainya kami di rumah, aku mengenalkan Bibi Jemima kepada Zen.
"Zen, kenalkan ini Bibi Jemima dan Bibi ini adalah Zen. Dia temanku." Sahutku.
Bibi Jemima dan Zen saling berjabat tangan dan menyebutkan namanya masing-masing.
Aku mempersilahkan mereka duduk dan berbincang-bincang sedangkan aku berjalan masuk ke dalam kamarku. Dan baru saja aku hendak mengklik tombol play pada mini games, Zen mengetuk pintu kamarku,
Tok...tok
"Kei, apa kamu ada di dalam?" Tanya Zen
Aku menjawab tanpa membuka pintu itu, "Aku ingin berbaring sebentar Zen. Tunggulah di luar." Sahutku.
Dengan cepat aku mengklik tombol play,
Tiba-tiba saja aku seakan memakai kostum jari telunjuk yang besar yang berada di dalam sebuah layar berbentuk persegi,
"Apa ini?" Aku bertanya kepada diriku sendiri. Aku melihat sekelilingku.
Teng... teng
__ADS_1
Iria muncul dengan dramatis, "Selamat datang Keira. Di level enam ini kamu harus menyelesaikan tiga level. Pertama adalah level mudah, level kedua adalah level sedang, dan yang terakhir adalah level sangat sulit. Disini permainan yang harus kamu mainkan adalah puzzle tile. Jika kamu gagal di level sedang maka kamu akan mengulang di level mudah, begitu juga jika kamu gagal di level sangat sulit, maka kamu akan mengulang permainan ini dari level mudah." Ucap Iria menjelaskan.
Aku berusaha mencerna penjelasan Iria yang panjang itu,
"Aku akan memberikanmu 3 kali kesempatan jika setelah tiga kali kamu gagal maka kamu akan mengulang levelmu. Ada pertanyaan?" Tanya Iria.
Aku menggelengkan kepalaku tanda aku sudah memahami permainan ini, hanya menyelesaikan sebuah puzzle kan? Itu permainan yang sangat mudah
Iria tersenyum, "Baiklah kalau kamu sudah mengerti. Bergerak cepatlah Kei karena ini akan menggunakan waktu." Kata Iria
Klutuk...klutuk
Klutuk...klutuk
Tile puzzle mulai berjatuhan, "Selamat bermain Keira dan semoga berhasil." Sahutnya kemudian Iria menghilang.
Aku memfokuskan perhatianku ke arah biji puzzle-puzzle itu, aku harus mengumpulkan tiga atau lebih gambar puzzle yang sama, dan jangan sampai menumpuk ke atas atau aku akan kalah.
Aku mempersiapkan diriku sendiri, dan mengangguk mantap. Tak lupa aku menarik nafas dan berdoa sebelum permainan ini dimulai.
Selesai berdoa aku mengklik tombol play dan,
Klutuk..klutuk
Muncul kotak bergambar wajah Zen, ada yang sedang tersenyum, ada yang sedang cemberut, ada yang sedang tertawa, ada yg sedang sedih, dan mereka semua memanggil namaku, "Kei..Kei. Lihat aku!" Atau, "Kei, Kei kemarilah. Ini lucu sekali."
Mereka menyiksaku, bagaimana aku bisa menghancurkan Zen ini?
Syut...
Bangunan puzzle itu bertambah tinggi, aku memantapkan hatiku,
Semua bergambar Zen, aku memfokuskan perhatianku dan memikirkan waktuku,
Syut,
Tring..
Tring
Tring
Aku bergerak dengan cepat, jari telunjukku terus melaju tanpa henti.
Hingga aku mampu membersihkan layar dan muncullah wajah Ryu di belakang layar itu.
Musik pun berbunyi tanda aku telah memenangkan level mudah ini, koin-koin pun dikalkulasikan dan dengan segera masuk ke dalam sakuku.
Oke, sekarang aku bersiap di level sedang.
Klutuk...klutuk
Klutuk...klutuk
Level sedang ini mempunyai tiles yang lebih banyak dan parahnya lebih menyakitkan, tiles-tiles itu berisikan kenanganku bersama Zen.
Suara percakapan kami bergaung dimana-mana dan memenuhi otakku,
Permainan apa ini?
__ADS_1
Aku melihat tiles bergambar aku dan Zen sedang tertawa bersama bahkan ada tiles dimana Zen sedang mengecup keningku.
Aku memejamkan mataku, dan mulai mencari tiles yang sama untuk kuhancurkan.
Tring...tring
Tring...tring
"Zen, sepertinya aku menyukaimu." Suara itu bergaung di telingaku walau pun saat ini aku berbentuk sepotong jari.
Aku menahan airmataku supaya tidak jatuh, "Maafkan aku Zen aku ingin kembali!" Sahutku mantap dan menghancurkan tiles bergambarkan momen aku yang sedang menangis dan Zen merangkulku.
Sialan!
Hiks...hiks...airmataku menetes tapi aku tidak akan goyah!
Tring...tring
Tring...tring.
You Won!
Aku menghempaskan diriku dan menata kembali emosiku. Sambil menunggu level berikutnya, aku menuntaskan rasa nyeri yang sedari tadi menyerang hatiku.
Sekarang entah apa lagi yang harus kuhadapi.
Level sangat sulit sudah muncul, tapi anehnya tidak ada tiles puzzle yang berjatuhan.
Alih-alih tiles, aku di hadapkan oleh Zen yang berdiri di depanku sambil tersenyum manis, "Hai Kei. Ayo bermain bersamaku." Katanya
Apa ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku mengikutinya Zen, dan kali ini aku kembali menjadi Kei bukan sepotong jari telunjuk lagi.
"Kei, jika kamu bisa mengalahkanku maka kamu bisa memenangkan level ini dan akan naik ke level berikutnya." Ucap Zen
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah bermain puzzle lagi?" Tanyaku
Zen tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tentu tidak kamu cukup menemaniku bermain seharian ini. Jangan libatkan perasaanmu Kei, fokus saja dengan apa yang kamu inginkan itu satu pesan dariku." Kata Zen dan sekarang ia mengulurkan tangannya untuk menggandengku.
Aku ragu,
"Tidak perlu takut. Kita hanya akan berjalan seperti biasa. Anggap saja ini sebagai kencan kita yang terakhir Kei." Katanya lagi tersenyum.
Aku mengulurkan tanganku tanpa ragu sekarang dan menggenggam tangannya, hangat. Selalu hangat.
...----------------...
Hai friends, mampir dulu yuk ke karya temanku ini. Ceritanya bagus dan seru loh,
Bercerita tentang seorang anak yang bernama Hana yang mengalami trauma karena telah gagal nikah, tetapi tiba-tiba ia masuk kedalam novel yang ia benci yang berjudul "Being the Youngest Brother"
Hana pun menjadi adik dari 2 kakak laki-laki tampan dan terkenal di sekolahnya, yang membuat nya sangat tidak menyukai mereka.
Tetapi ia mengingat dan belum pasti alur cerita tersebut yang menurut nya, akan ada yang membunuh dirinya, yaitu tokoh antagonis yang sedang berpacaran dengan kakaknya di dalam novel.
Ia pun memutuskan untuk bisa membuat sang kakak putus dari pacar nya, agar ia terhindar dari maut kematian itu.
Bagaimana kisah Liuzzi untuk memisahkan sang kakak dan pacar nya?
__ADS_1