
"Hai Zen." Sapaku begitu melihat Zen datang ke apartemen Ryu.
Zen menundukan kepalanya untuk melihatku, "Darimana kamu tau namaku? Ah, Ryu sudah bercerita tentangku yah? Apakah dia menceritakanku yang baik atau yang jeleknya?" Tanya Zen kemudian tertawa dan masuk ke dalam apartemen Ryu.
Mereka bersalaman dengan cara yang tidak biasa, ini sisi lain dari Ryu yang belum pernah kulihat. Yang aku bingung, kenapa Zen tidak mengenalku? Dan dimana aku sekarang?
"Kei, kenalkan dia Zen. Dia temanku dan kami mempunyai hobi yang sama yaitu bermain game." Kata Ryu ceria.
Aku bersalaman dengan Zen, "Keira. Panggil saja Kei." Sahutku.
Zen tersenyum manis kepadaku bahkan sangat manis, "Halo Kei, aku Zen. Darimana kamu tau namaku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Zen.
Aku menggerakan kedua tanganku ke kiri dan kanan, "Tidak, kita belum pernah bertemu hanya saja kamu mirip sekali dengan seseorang yang kukenal dan nama kalian juga sama. Dia bernama Zen juga. Maafkan aku." Sahutku.
Aku berpamitan kepada Ryu, "Ryu aku pulang saja. Oh iya, aku tinggalkan makanan untukmu di kotak hijau itu makanlah. Aku membuat banyak kalian bisa makan berdua kalau kurang hubungi aku. Oke Ryu!" Ucapku.
Ryu memandangku, "Kenapa kamu pulang? Katanya mau bermain bersamaku, Kei?" Tanya Ryu kecewa.
"Maafkan aku Ryu, aku teringat ada sesuatu yang harus aku kerjakan." Jawabku berkilah.
"Benarkah itu?" Tanya Ryu.
Aku mengangguk, "Oke. Bye Ryu dan bye Zen."
Sesampainya di apartemenku sendiri aku menghenyakan tubuhku di atas ranjang, mungkin aku hanya perlu tidur. Pasti ini mimpi kan? Mana mungkin Zen muncul di dunia nyata? Atau apakah aku belum keluar dari dunia permainan ini? Mengerikan sekali.
Aku memaksakan mataku untuk terpejam bahkan aku sudah mengabari Jane kalau hari ini aku sakit dan tidak dapat datang bekerja.
Setelah beberapa jam aku kembali terbangun karena mendengar suara pintuku di ketuk,
Tok...tok
"Ya, tunggu." Sahutku dari dalam.
Aku membukakan pintu, dan aku kembali terkejut karena Jane dan Bern membawa Iria bersama mereka.
"Hai Kei." Kata Jane, dia melihatku dengan kesal kemudian menerobos masuk begitu saja ke dalam, "diajak masuk dong akunya." Kata Jane lagi.
Iria yang malu-malu ikut masuk ke dalam bersama mereka.
Setelah mereka masuk Jane memperkenalkan Iria kepadaku, "Kei, ini Iria. Iria ini Kei." Kata Jane.
Aneh sekali. Aku benar-benar tidak paham apa yang terjadi disini. Atau aku yang sudah kehilangan kewarasan atau bagaimana. Semua orang tampak biasa saja kecuali aku.
"Hai Kei." Sapa Iria mengulurkan tangannya kepadaku. Aku membalas uluran tangannya.
__ADS_1
"Hai, namaku Kei. Silahkan nikmati waktumu disini." Sahutku.
Aku mencoba untuk mengikuti alur permainan aneh ini dan mulai mengajak Iria berbincang-bincang. Sekaligus memancing Iria mungkin saja dia mengetahui sesuatu dan memberitahukan kepadaku apa yang sedang terjadi. Tapi tidak satu kata pun keluar dari mulut Iria tentang permainan ini.
Ketika mereka berpamitan untuk kembali ke kantor, aku menahan tangan Iria, "Boleh kita bicara sebentar?" Tanyaku.
Iria mengangguk namun Jane dan Bern menatapku dengan rasa ingin tau, "Sebentar saja." Sahutku kepada mereka.
Aku menutup pintu apartemenku dan menggandeng tangan Iria untuk kembali duduk, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanyaku.
Iria berpikir sejenak kemudian menggeleng, "Kita baru bertemu hari ini. Aku berasal dari kota kecil yang jauh jadi tidak mungkin kita pernah bertemu." Jawabnya.
Aku terdiam, benar juga kata Iria. Lalu? Kenapa tokoh dari permainan ini keluar semua ke dunia nyata? Apa kali ini mereka nyata?
Aku mengucapkan terimakasih kepada Iria dan berharap padanya semoga kita berempat menjadi teman baik. Mengingat perlakuan dia di dunia permainan kemarin itu sangat membuatku sakit hati.
***
"Kei, Zen ingin mengenalmu. Apakah boleh?" Tanya Ryu suatu hari.
"Kan kamu bisa mewakiliku." Jawabku.
Sudah hampir dua minggu aku berada di dunia yang entah dimana ini. Aku berusaha menikmatinya tanpa prasangka macam-macam dan beranggapan mungkin saja Zen dan Iria memang benar-benar ada di dunia nyata dan kebetulan saja mereka di tempatkan dekat denganku. Aku berusaha menerima kenyataan aneh itu.
"Dia mengajakmu jalan seselesainya kamu bekerja sore ini, aku sudah memberitahunya alamat kantormu." Ucap Ryu lagi.
"Sesukamulah. Aku berangkat." Sahutku menarik nafas panjang.
"Kei," Ryu kembali memanggilku.
"Apa?" Tanyaku galak.
Ryu tersenyum lebar sambil mengangkat tas bekal yang kuberikan untuknya, "Thank you." Katanya.
Mau tidak mau aku tersenyum, "Habiskan. Nanti sore aku akan mengambil tempatnya!" Ujarku lagi.
Sore hari itu sesuai kata Ryu, Zen benar-benar datang menjemputku di kantor.
"Kei." Katanya.
Deg!
Senyum yang sempat melumpuhkan hatiku kini ia tebarkan lagi di depan wajahku.
"Hai." Aku membalas sapaannya yang sangat manis itu.
__ADS_1
"Aku hanya akan mengantarmu pulang tadinya mau mengajakmu jalan tapi aku belum hafal dengan jalan di sekitar sini. Nanti malah salah jalan, hehehe." Sahutnya sambil tertawa.
Deg....deg....deg!
Jantungku kuat dan bertahanlah! Jangan pingsan disini.
"Oke." Jawabku salah tingkah.
"Hmmm, pertemuan pertama kita itu aku menganggapnya berkesan Kei. Kamu lucu sekali saat itu. Bahkan aku sempat berpikir apa memang kita sudah pernah bertemu sebelumnya." Kata Zen berusaha memecah keheningan dan menyingkirkan kecanggungan diantara kami.
Aku mengangguk-angguk, "Oh yah? Maafkan aku kalau aku salah orang. Kalian mempunyai tingkat kemiripan yang sama bahkan sampai nama kalian pun sama." Jawabku tanpa berusaha menutupi. Mungkin saja sama seperti Iria, Zen mengetahui sesuatu kan?
"Kei, apa kamu percaya dengan cinta pada pandangan pertama?" Tanya Zen.
"Percaya saja tapi aku tidak pernah mengalaminya kalau hanya sekedar bertemu kemudian mengagumi sudah sering tapi untuk jatuh cinta pada pandangan pertama belum. Apa itu yang sedang kamu rasakan?" Tanyaku. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku menyesalinya,
"Aku percaya." Jawab Zen.
Aku tidak menyesalinya. Aku bisa menggali informasi dari Zen. Siapa tau dia menyukai orang lain berarti dia Zen dunia nyata yang memang kebetulan teman baru Ryu.
"Aku jatuh cinta padamu Kei." Sambung Zen lagi.
"Oh yah? Eh, bagaimana?" Tanyaku.
Zen berhenti melangkah, ia menatap mataku dalam dan memasukan kedua tanganku ke dalam genggaman tangannya yang hangat.
"Aku menyukaimu Kei." Katanya lagi.
Deg!
Benarkah ini hanya sebuah kebetulan? Kebetulan yang mengerikan sampai membuatku takut.
Tapi saat ada Zen di depanku dengan tatapannya yang sangat dalam seolah menariku masuk dan pernyataan cintanya yang terlihat serius dan sungguh-sungguh, apa masih bisa dikatakan mengerikan?
Zen yang selalu ingin kubawa ke duniaku sekarang berada tepat di hadapanku. Ini tidak mengerikan, bahkan aku masih menyimpan rasa cintaku kepadanya. Ini sama sekali tidak mengerikan Kei, ini indah. Sangat indah.
...----------------...
Guys, mampir ke karya temanku juga yuk. Makasih
Sinopsis :
Namanya Sassya Bellvara. Di masa lalunya ia hidup layaknya seorang putri yang bisa mendapatkan segala sesuatu dengan mudah. Namun karena penghinatannya dan ibunya pada keluarga William di masa lalunya membuat kehidupan serba mewah yang dulu mudah ia dapatkan,kini tidak lagi ia rasakan.
Kondisi perekonomian mereka kian sulit,sampai dimana Sassya kembali terlibat masalah dengan seorang pengusaha bernama Sky Aska Ghatama. permasalahan mereka membuat Sassya terjebak dalam pernikahan kontrak.
__ADS_1
Bagaimanakah kehidupan Sassya setelah dinikahi oleh Aska? Akankah pernikahan mereka yang di dasari kepentingan masing-masing membuahkan hasil? Ataukah mungkin pernikahan mereka akan berakhir dengan perceraian setelah kontrak mereka selesai?