My Upside Down World

My Upside Down World
Awake


__ADS_3

Tit...tit


Tit... tit


Suara alat monitor vital sign di samping tempat tidurku membangunkan tidurku. Aku mengerjapkan mataku dan melihat ke kanan dan kiriku.


Aku melihat Ryu yang segera berlari mendekatiku, begitu pula dengan Jane dan Bern. Ruangan ini pun di penuhi oleh buket bunga dan keranjang buah mau pun snack.


"Kei, kamu sudah sadar?" Tanya Ryu.


Aku masih belum jelas mendengarnya, aku kembali menguatkan diriku. Jane kemudian pergi dari hadapanku dan tak lama ia kembali dengan menyeret seorang perawat dan dokter.


Dokter itu menyinari mataku dengan sebuah senter, dan menanyaiku, "Nona Keira, apa anda mendengar saya?" Tanya dokter.


"Kalau anda mendengar, anda boleh mengerjapkan mata, menggerakan tangan atau jari atau mengangguk. Apa anda mendengar saya?" Tanya dokter itu lagi.


Aku mengangguk. Ingin sekali bicara tapi rasanya sulit sekali untuk membuka mulut.


Dokter itu kembali melanjutkan pertanyaan untukku, dia menunjuk perutku, "Apa terasa sakit disini?" Tanya dokter sambil menekan perutku. Aku menggelengkan kepalaku.


Dokter itu memegang pergelangan tanganku, dan mengecek frekuensi detak nadiku. Selesai menghitung dia mengangguk-angguk.


Setelah itu dokter berbicara dengan Ryu dan Jane. Mereka mengangguk-angguk. Aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, apa yang mereka bicarakan. Aku berusaha mencari Zen dan Iria. Dimana mereka? Yang lebih aneh, kenapa Jane Bern bahkan Ryu baik kepadaku?


Aku kembali tertidur, mungkin tadi aku masih bermimpi. Aku berharap aku tidak akan terbangun kalau tadi itu mimpiku.


"Kei, bangunlah Kei."


Aku mendengar suara seseorang memanggil namaku, aku membuka mataku perlahan.


Ryu...


Aku mengangkat tanganku dan memegang pipinya, "Ryu.." aku berusaha memanggilnya.


Ryu meminta Jane untuk mengambilkanku air, "Minum dulu Kei. Kerongkonganmu sudah lama sekali tidak dialiri air. Minumlah." Kata Ryu dan membantuku untuk minum dari sedotan.


Setelah minum kekuatanku muncul sedikit, "Dimana aku? Mana Iria dan Zen?" Tanyaku kepada Ryu.


Kemudian aku melihat ke arah Jane, "Jane akhirnya kamu mau berteman denganku." Sahutku pelan dan airmataku mengalir di kedua pipiku.


Ryu dan Jane saling berpandangan dan mengangkat bahu mereka bersamaan.


"Kei, kamu di rumah sakit. Kamu pingsan kecapekan dan yang bawa kamu ke rumah sakit itu Ryu." Kata Jane menjelaskan.


Aku mengerutkan keningku, "Aku pingsan? Aku pingsan dimana? Dan sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?"


"Kamu pingsan di apartemen Ryu. Kemarin itu kan Ryu memintamu untuk mencoba game barunya padahal kamu habis lembur. Pingsan deh akhirnya. Untung ada Ryu jadi kamu cepat tertolong Kei." Jawab Jane memelukku, "jangan buat kami khawatir lagi yah Kei. Aku takut sekali kamu tidak bangun-bangun selama tiga hari." Sambung Jane.

__ADS_1


"Tiga hari kamu tertidur Kei. Kami pikir kamu mati karena tidak ada tanda-tanda kehidupan darimu. Kadang jantungmu berdetak sangat cepat, kadang kamu mengeluarkan airmata, dan kadang kamu tenang sekali. Apa kamu bermimpi?" Tanya Ryu.


"Tiga hari? Aku tiga hari tertidur?" Tanyaku tidak percaya. Apakah ini berarti aku kembali ke dunia nyata. Aku mencoba untuk duduk, tapi,


"Ouch..aw!" Seruku.


Ryu dan Jane membantuku, "Kenapa Kei? Efek kelamaan tidur mungkin jadi badanmu sakit semua." Sahut Jane.


Tidak! Ini bukan efek terlalu lama tidur, ini karena aku terjatuh dari atap apartemenku tapi kenapa aku bisa kembali ke duniaku? Apa yang terjadi?


Kepalaku berdenyut sakit sekali, aku memegangi kepalaku yang terus berdentang-dentang.


"Berbaringlah kembali, Kei. Jangan memaksakan dirimu." Sahut Ryu dan membantuku berbaring kembali.


"Ini dimana?" Tanyaku lagi.


"Ya di rumah sakit Kei. Ada apa denganmu?" Tanya Ryu.


Ryu tampak khawatir kepadaku.


Aku kembali bertanya, "Ryu, dimana Iria dan Zen?"


"Iria? Zen? Mereka kan tokoh di gameku, Kei. Mana mungkin mereka keluar dan menjengukmu bukan?" Kata Ryu tertawa.


Tidak ada Iria dan Zen? Aku kembali ke duniaku? Apakah ini nyata atau mimpi?


Keesokan harinya dokter sudah mengijinkanku untuk pulang dengan syarat aku tidak boleh berpikir terlalu banyak dan kelelahan. Menurut dokter aku terlalu banyak pikiran dan lelah sehingga aku pingsan tanpa kusadari.


Ryu menyarankanku untuk tinggal sementara di apartemennya supaya lebih mudah mengawasiku. Ah, aku jadi teringat Zen.


"Waktu itu kamu bertanya tentang Iria dan Zen. Ada apa dengan mereka? Apakah kamu sempat memainkannya?" Tanya Ryu.


Aku mengangguk, "Memang ada apa Ryu?" Aku balik bertanya.


"Karena sewaktu kamu pingsan, aku sempat kembali kesini setelah mengantarmu ke rumah sakit. Dan game itu bergerak sendiri. Seingatku saat aku mengantarmu layar komputerku mati. Aku berpikir apakah ada sesuatu some like you know," kata Ryu takut-takut.


"Dan sekarang?" Tanyaku lagi


"Masih error dan belum sempat kuperbaiki. Aku juga belum lihat lagi sih." Jawab Ryu.


"Tidak perlu! Jangan pernah kamu nyalakan lagi games itu! Aku melarangmu dengan keras, tidak boleh!" Tukasku


Ryu menenangkanku, "Hei...hei. Tenanglah. Ada apa denganmu dan games itu?"


"Kalau aku bercerita pasti kamu akan menertawakanku dan menganggapku gila!" Tukasku lirih.


"Coba saja," Ryu menantangku.

__ADS_1


Akhirnya aku memberanikan diri menceritakan kepada Ryu tentang apa yang aku alami.


Ryu tidak tertawa, "Berapa lama kamu di dunia itu?" Tanya Ryu.


"Hampir sebulan." Jawabku.


"Jadi sebulan disana dan tiga hari disini. Apa yang bisa kulakukan jika kamu di tarik lagi ke dunia sana?" Tanya Ryu.


Aku mengangkat bahuku, "Entahlah, aku tidak tau. Mungkin saja kamu bisa menyentuh layar komputermu supaya tertarik masuk ke dalam." Usulku.


"Kalau itu nyata terjadi padamu, aku akan melindungimu Kei. Kamu tidak akan kubiarkan masuk lagi ke dunia sana. Aku akan rubah semua tokohnya." Katanya. Kemudian bergegas menyalakan komputernya dan memasukan program game My World ke dalam komputer.


Tak lama Ryu sudah asik mengutak ngatik komputernya. Ryu memintaku untuk berbaring di ranjangnya sementara dia merubah semua settingan pada permainan My World.


***


Aku tertidur dan Ryu membangunkanku, "Kei, mereka tidak akan bisa menarikmu lagi karena dunia dan sifat karakter mereka sudah kuubah. Namamu tidak ada lagi disana begitu pula dengan namaku." Sahut Ryu lega sekaligus ingin di banggakan.


"Benarkah Ryu? Berarti aku tidak akan masuk ke dalam permainan itu lagi?" Tanyaku.


Ryu mengangguk dengan semangat. Aku mengalungkan lenganku ke leher Ryu dan Ryu mencium bibirku lembut. Aku membalas ciuman Ryu yang kucintai. Ryu yang tidak akan pernah digantikan oleh siapa pun selain Zen.


Ryu membawaku duduk di kursi di depan komputernya, dan aku berada di dalam pangkuan Ryu. Seketika aku mendengar bunyi mendesis dari komputer Ryu,


Drrt


Drrt


"Ryu, komputermu." Sahutku melepaskan ciuman kami.


Drrt


Drrrt


Ryu menyadari ada yang tidak beres dari komputernya, dan Ryu memeriksa bagian belakang komputer itu untuk mengecek kelistrikannya.


Bunyi menderit dan mendesis semakin kencang. Aku takut, dan memanggil Ryu, "Ryu! Temani aku. Aku takut!" Aku berseru kepada Ryu namun Ryu tidak mendengarku.


Dan tiba-tiba saja, dari layar komputer itu muncul Iria yang menjulurkan tangannya ke arahku,


Aku mundur ke belakang supaya Iria tidak dapat menariku tapi tetap saja namanya keajaiban dan halusinasi tingkat tinggi, tangan Iria berhasil meraihku dan menarikku masuk ke dalam layar komputer itu,


"Ryu! Toloooongg!"


Aku berharap Ryu mendengarku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2