
Aku mengikuti saran Zen, bagaimana pun aku butuh sesuatu untuk berpegangan dan aku menjadikan Zen sebagai tiang sandaranku.
Kami menanam gandum, apel dan membeli seekor ayam yang entah bagaimana caranya ayam itu bertelur setiap tiga menit sekali.
Ryu membantu kami untuk menyiapkan penjualan dan pemasukan, dan itu memang Ryu sekali.
"Apa yang harus aku buat untuk mendapatkan kawan?" Tanyaku kepada Zen dan Ryu.
"Kita ada apel, telur dan gandum. Bisakah itu dibuat menjadi pie apel?" Tanya Ryu.
Aku bersemangat, "Oh benar juga! Baiklah aku buat itu saja lalu aku bagi-bagikan kepada penduduk sekitar sini." Aku berseru.
Luar biasanya disini adalah untuk membuat sebuah pie apel hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas sampai dua puluh menit, setelah itu selesailah sudah pie apel itu.
"Bagaimana?" Tanyaku kepada Zen dan Ryu.
Mereka berdua mengacungkan ibu jarinya, "Kalau aku punya sepuluh ibu jari akan kuberikan sepuluh-sepuluhnya untukmu, Kei. Ini enak sekali." Jawab Zen.
Aku tersenyum lebar, "Oke nanti bantu aku untuk membagikan ini kepada warga sekitar." Jawabku.
Mereka mengangguk setuju. Awal kehidupan kami di kota ini sangat mengasyikan tapi lama kelamaan ini membosankan. Semua aktifitas hanya dilakukan pengulanga, walaupun pada akhirnya kami sudah mempunyai peternakan yang cukup luas, tanah untuk bercocok tanam yang sama luasnya. Sekarang kami bisa menghasilkan keju, susu, dan kami juga sudah mempunyai peternakan domba yang cukup besar.
"Kapan ini berakhirnya Zen?" Tanyaku suatu hari kepada Zen. Karena ini seperti tanpa akhir.
Zen yang saat itu sedang menabur benih kopi dengan memakai overall tanpa lengan dan topi straw hat tampak tampan sekali, "Target kita adalah menjadikan lahanmu ini sebagai kota kecil yang maju dan berpenghasilan tinggi." Jawab Zen sambil menyeka keringatnya.
Pemandangan yang indah andai aku tidak terlalu panik seperti ini.
Aku sudah memasuki Hard Level di permainan ini, dimana nanti ketika aku sudah memilih salah satu di antara Ryu atau Zen maka aku akan mempunyai seorang lawan yang akan menyukai orang yang sama denganku.
Aku tidak tau apakah itu Iria atau bukan. Mengingat soal Iria emosiku kembali naik! Ingin kucabik-cabik rasanya perempuan itu! Dia yang membuat hidupku berantakan.
"Kei, ayo ikut denganku. Aku akan memberikan susu ini kepada nenek Simon di sebrang sana." Ucap Zen.
Nenek Simon adalah tokoh karakter baru di dalam game ini. Nenek Simon tinggal di pesisir pantai, dan ia mempunyai seorang cucu. Kata Ryu, cucunya nenek Simon yang akan menjadi sainganku nanti. Pada akhirnya, aku harus menikah di dalam permainan ini.
Biasanya kalau ada kesempatan untuk berkeliling aku sambil mencari lubang atau apalah itu yang bisa membawaku keluar dari dunia ini.
Aku butuh Ryu asli saat ini bukan Ryu yang ada sekarang. Karakter Ryu dalam game berbeda sekali dengan Ryu asli. Karena memang Ryu disini diciptakan untuk bersama Iria, dan saat Iria tidak ada maka ia akan berubah menjadi diam.
Sedangkan Zen, dia tampak semakin nyata. Kemampuan dia untuk selalu membantuku membuatku terkesan. Belum lagi dia mengajarkanku untuk bersosialisasi katanya ini untuk membantuku naik level.
__ADS_1
Aku sangat berterimakasih kepadanya baik dia nyata atau tidak, dan aku tidak tau bagaimana aku disini jika tidak ada Zen.
Seperti ini di rumah Nenek Simon, "Halo Zen, kamu membawakan apalagi kali ini? Oh, ada Kei juga. Masuklah masuk." Dengan langkah tertatih-tatih dan dibantu dengan crutch, Nenek Simon menyambut kedatangan kami.
Zen memberikan sekeranjanh apel dan tiga botol susu untuk Nenekn Simon, "Ini untuk nenek. Di habiskan yah? Besok aku akan datang lagin" kata Zen.
"Kok sudah mau pulang? Cucuku sedang bermain disini, sebentar kupanggilkan." Ucapnya.
Tak lama Nenek Simon membawa seorang gadis cantik berkepang dua, "Dia cucuku namanya Audrey. Ah, bertemanlah dengannya." Sahut Nenek Simon.
Nenek Simon memperkenalkan Audrey kepadaku dan kepada Zen tapi Audrey hanya menyapa Zen. Awal yang sangat indah, batinku.
"Hai Zen, aku Audrey." Sapanya.
Dengan manis Zen menyambut uluran tangan Audrey, "Halo, aku Zen." Balas Zen.
Aku tersenyum menunggu Audrey menyapaku tapi tidak. Dia tidak menyapaku. Mengesalkan, persis seperti Iria.
Dan seharian di rumah Audrey membuat waktu berjalan sangat lambat, dan aku hanya tersenyum tanpa berbivara karena Audrey dan nenek Simon hanya berbicara dengan Zen.
"Kei, apa kamu tau kalau Audrey itu Iria?" Tanya Zen ketika kami sudah berada di luar rumah Nenek Simon.
"Apa? Bagaimana bisa?" Tanyaku terkejut.
Wah, pantas saja sifatnya sama-sama menyebalkan.
"Zen, aku mau pergi memancing sebentar. Level memancingku masih sangat rendah. Maukah kamu mengajariku?" Tanyaku.
Aku harus meningkatkan setiap level di permainan ini, ada level berkebun, level beternak, dan memancing. Mengerikan bukan? Biasanya aku yang bermain tapi kali ini aku yang di permainkan.
Zen mengangguk, "Baiklah, sekalian kita memancing untuk makan malam nanti. Apa kamu bisa mengolah ikan, Kei?" Tanya Zen.
Aku mengangguk, "Bisa." Jawabku.
Sesampainya kami di dermaga, karena bentuknya seperti dermaga Zen memberikanku alat pancing beserta umpannya.
Dia mengajariku melemparkan umpan dan menarik pancingan begitu aku merasa ada yang menggigit umpanku.
Aku mengangguk memahaminya. Aku orang yang cepat mengerti jadi kupikir tidak terlalu sulit tapi ternyata ini sulit sekali,
Namun tiba-tiba,
__ADS_1
Srek
Srek
"Zen, kailku ada yang menggigit! Bantu aku!" Tukasku.
Zen berlari dan memegang kedua lenganku dari belakang untuk menarik pancinganku,
"Jangan di lepas Kei! Aku bantu!" Ucapnya.
Dengan susah payah Zen dan aku menariknya. Ikan yang sangat besar pasti, pikirku.
"Kita tarik ke atas pada hitungan ketiga yah Kei, siap?" Tanya Zen
Aku mengangguk,
"Oke..satu!"
"Dua!"
"Tiga!"
"Tarik Kei yang kuat!" Tukas Zen.
Kail ini berat sekali, mana mungkin aku mendapatkan ikan paus di pinggiran seperti ini. Mustahil!
Kail semakin terangkat, dan
Gedebruk!
Kami berdua jatuh ke belakang dan segera melihat ikan apa yang menggigit kailku, namun betapa terkejutnya aku..
"Ryu!" Seruku.
Ryu berdiri, dan menyeringai lebar ke arah kami, "Hai Kei dan senang bertemu denganmu Zen." Sahutnya tersenyum lebar.
...----------------...
Hai Guys, sambil nungguin aku lanjutin ceritanya. Baca karya temanku dulu yuk,
Deskripsi :
__ADS_1
seorang istri yang selalu diabaikan tak pernah disapa apalagi disentuh oleh suaminya dan suatu malam saat suaminya mabuk mereka berdua melakukan sentuhan untuk pertama kalinya dan disaat itu lah kisah cinta mereka dimulai