
"Ryu? Kamu Ryusan? Ryu dari duniaku? Benarkan kamu Ryu?" Tanyaku menuntut.
Aku tidak percaya Ryu tiba-tiba saja muncul dari sungai ini dan memakan umpanku. Tapi ini dunia tidak nyata, apa pun bisa terjadi kan?
Ryu tersenyum lebar, "Hehehe ... menurutmu? Apakah aku Ryu asli atau Ryu dari game?" Ryu balik bertanya.
Aku memeluknya, "Oh Ryu aku merindukanmu. Aku sempat berpikir kamu tersesat ke dimensi lain. Aku takut sekali." Ucapku.
Ryu membalas pelukanku dan itu membuat Zen jengah sehingga ia memalingkan wajahnya, "Ehem! Apa kamu mau meneruskan memancing atau kita sudahi disini?" Tanya Zen.
Aku melepaskan pelukanku, "Ayo kita teruskan. Aku hanya terlalu senang karena ada yang nyata selain aku disini." Sahutku mengusap airmataku.
Seolah ingin memperlihatkan kedekatanku dengannya, Zen memeluk pinggangku dan memegang kedua lenganku untuk membantuku melemparkan kail, "Semoga kali ini kita bisa dapat ikan atau bahkan Zen yang lain? Hahaha." Serunya tertawa.
Ryu mendorong Zen untuk menjauh, "Apa kamu harus sedekat ini dengan Kei? Biarkan aku yang memancingnya." Ucap Ryu.
Zen mundur dan menggertakan giginya, "Dia kekasihku secara sah dan aku akan membuatnya menjadi nyata. Ingat itu Ryu!" Gertak Zen.
"Aku tunggu kamu di duniaku, Zen!" Ucap Ryu menantangnya.
"Oke. Aku terima tantanganmu!" Sahut Zen.
Baru saja aku akan melerai mereka, suara notifikasi permainan ini berbunyi dan muncullah sebuah amplop merah besar, "Selamat, anda telah menyelesaikan level 4 dengan sangat baik. Terimalah koin-koin ini sebagai hadiah dari kami,"
Tring! Tring! Tring! Terdengar suara koinku bertambah cukup banyak.
"Lanjutkan perjuanganmu untuk membangun kotamu sendiri! Kekasihmu yang sesungguhnya akan menantimu di level ini dan berhati-hatilah kamu mempunyai saingan baru! Selamat bermain!"
Splash! Amplop itu menghilang dan menempatkan diri di sudut kananku, sehingga jika aku melirik ke kanan amplop itu akan berbinar-binar.
"Jadi, sekarang aku berada di level 5? Dan tantanganku adalah membangun kota dan menemukan kekasihku?" Tanyaku.
Zen dan Ryu mengangguk. Di atas kepala mereka kembali ada hati yang berputar-putar dan sekali lagi aku harus memilih dengan siapa aku akan menikah? Baiklah, aku akan cup cip cap cip cup saja. Ini juga dunia tidak nyata jadi akan mudah untuk menetukan siapa yang aku nikahi bukan?
Aku mengetuk hati yang berada di atas kepala Zen, dan begitu hati Zen kuketuk muncul keuntungan yang akan kudapatkan serta kelebihan Zen. Begitu pula dengan Ryu.
Hmmm, aku tentu saja akan memilih yang menguntungkanku dan yang dapat membawaku segera keluar dari dunia aneh ini.
Zen atau Ryu? Siapa pun mereka aku akan tetap bersaing dengan Audrey. Aku masih memiliki waktu untuk memikirkan ini.
Aku kembali menekan play dan permainan dimulai kembali.
***
Beberapa hari kemudian saat aku sedang asik menanam kopi dan strawberry, Audrey datang ke rumah kami.
__ADS_1
"Selamat pagi Keira. Benar kan namamu Keira?" Tanya Audrey dengan gaya menyebalkan.
Ketika nanti aku sudah keluar dari dunia ini aku akan meminta Ryu untuk memperbaiki sifat tokoh karakter wanita dalam permainan ini.
"Oh, hai Audrey. Kamu mencari Zen atau Ryu?" Tanyaku.
Ryu yang berada di dalam permainan kini sibuk dengan sistem penjualan permainan ini, dia menjadi peran belakang layar.
"Apakah Zen ada?" Tanya Audrey.
Hatiku lebih dominan kepada Zen, maka itu dia mendekati Zen juga.
"Ada, masuklah." Sahutku mempersilahkan Audrey ke dalam.
"Zen, Audrey mencarimu." Ucapku dan melihat Zen sedang mengolah biji kopi.
Zen mencium pipiku,
Cup!
"Kopi untukmu." Bisiknya.
Blush!
Wajahku memerah dengan cepat karena perlakuan manis dari Zen. Hentikan Kei! Itu tidak nyata! Tapi hatiku berkata itu nyata.
"Hei Audrey. Apa ada yang diperlukan oleh nenekmu?" Tanya Zen.
Audrey menggeleng dan membawakan Zen pie susu, "Nenek memintaku untuk memberikan ini untukmu." Jawab Audrey sambil menyerahkan seloyang pie susu kepada Zen.
Cih! Aku juga bisa membuatnya! Batinku dalam hati tak mau kalah.
"Untuk Kei maksudmu? Karena pie apel kemarin Kei yang membuatnya dan susu itu juga Kei yang memerahnya jadi rasanya lebih pantas kalau ini untuk Kei." Kata Zen melihat Audrey dan menyerahkan loyang itu kepadaku,
"Makanlah Kei. Ini untukmu." Ucap Zen kepadaku.
Aku menerimanya, "Kita akan memakannya bersama. Kamu habis menggiling kopi kan? Aku akan menyeduhnya lalu kita makan bersama-sama." Sahutku mencari aman. Karen Audrey menatapku dengan tajam seolah ada pedang di balik tatapannya.
Sambil menyeduh kopi, aku mencari Ryu dan bertanya kepada Zen saat aku menyajikan pie dan kopi.
"Dimana Ryu?" Tanyaku.
"Dia sedang berada di barn." Jawabnya.
Aku mengambil beberapa potong pie dan membawakannya untuk Ryu, aku masih sempat mendengar Audrey bertanya siapa Ryu.
__ADS_1
Wanita serakah! Kanan kiri mau!
Aku memainkan hati Ryu dan Zen dengan sempurna, aku membuat hati Ryu menghijau begitu pula dengan hati Zen. Bagaimana dengan Audrey? Sudah jelas dia mendekati keduanya.
Aku tidak akan kalah dengan sistem ini, jika karakter mereka bisa berontak maka aku pun demikian.
Persaingan antara aku dan Audrey pun semakin sengit, setiap kali aku bertemu Ryu, maka Audrey pun segera menemui Ryu. Begitu juga dengan Zen.
Ini menjadi sesuatu hal yang sangat lucu, sampai suatu ketika Ryu datang tergopoh-gopoh, "Gawat! Semua alat berat tidak berfungsi! Apa yang terjadi?"
Suara sirine bergaung di seluruh kota itu,
Nguing! Nguing! Nguing!
"Ada apa Ryu? Ada apa ini Zen?" Aku bertanya kepada mereka tapi mereka tiba-tiba tidak bergerak.
Latar permainan ini berubah, aku berada di sungai tempat kami biasa memancing,
"Apa yang terjadi?" Tanyaku.
"Kegagalan sistem. Kamu mempermainkan sistem permainan ini! Pilih satu bukan dua!" Tukas Audrey.
"Aku hanya mau mengatakan bahwa aku juga tidak semudah itu di permainkan! Perasaanku nyata saat Zen berbuat baik kepadaku jadi tidak ada salahnya kan kalau aku mempermainkan mereka juga?" Sahutku galak.
"Tentu saja salah! Kamu yang bodoh terbawa perasaan harusnya dari awal kamu sudah paham ini hanya permainan artinya semua yang ada disini tidak pernah nyata. Saat ini hanya ada dua orang yang nyata yaitu kamu dan Ryu." Kata Audrey menjelaskan.
"Kalau kamu tidak mau permainan ini diulang ikuti aturannya dan jangan melenceng. Permainan ini akan di restart, bersiaplah semuanya akan berubah menjadi gelap." Ucap Audrey lagi.
Tanpa aba-aba dan tanpa peringatan apa pun seluruh isi kota ini gelap gulita dan tidak ada cahaya setitik pun.
"Audrey! Ini berapa lama? Audrey hei!" Aku berteriak memanggil Audrey.
Aku takut sekali kegelapan ini seakan menelanku, bagaimana ini?
"Hei! Audrey! AUDREY!"
...----------------...
Gimana yah nasib Keira? Sambil nungguin Keira nemu senter, baca karya temenku yuk friends..
Blurb :
Love is blind. Sebuah quote paling terkenal dan mungkin sesuai untuk Adriano D’Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar di benua Eropa. Dia telah jatuh cinta kepada wanita bersuami yaitu Florecita Mia. Cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. Dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu.
Adriano memilih untuk menghilang dan menutup masa lalunya. Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan sang wanita pujaan. Bedanya, saat itu Mia telah menjadi janda. Wanita yang dulu pernah mencoba menghabisi nyawanya, kini menghadap dan meminta bantuan Adriano untuk mengungkap pelaku dari pembunuh sang suami.
__ADS_1