
"Maafkan aku Zen, aku tidak bisa. Aku harus segera menyelesaikan ini." Aku mencari senjata di tas pinggangku dan aku menemukan sebuah senapan.
Haruskah aku memakai senapan ini? Jujur saja aku belum pernah memakai ini, satu-satunya senapan yang pernah kupakai adalah senapan air.
Aku berusaha memantapkan hatiku, aku berdiri dan mengarahkan senapanku kepada Zen,
Zen mengangkat tangannya, "Kei, ini aku. Apa yang mau kamu lakukan dengan senapan itu Kei?" Tanya Zen mendekatiku.
Ceklek!
Aku mengokang senapanku, " Jangan mendekat Zen! Atau aku akan menembakmu!" Tukasku masih berurai airmata.
Zen menghentikan langkahnya, "Oke, i'll stop Kei and put it down your gun, please." Pinta Zen.
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik tanpa ada pertumpahan darah atau kekerasa. Mendekatlah kepadaku Kei." Sahut Zen lagi.
Entah kenapa aku tidak mempercayainya, feelingku terus memintaku untuk menghabisinya, jadi aku tidak meletakkan senapanku. Aku terus mengarahkan senapanku kepadanya,
Zen perlahan bergerak maju, "Kei, come on. Letakkan senapanmu atau kamu bisa memberikannya kepadaku." Zen mengulurkan tangan terbukanya ke arahku.
Dor!
Aku menembak Zen dan dia menghilang menjadi kepingan puzze yang sepertinya harus segera aku selesaikan,
Dengan cepat aku menyusun kepingan puzzle itu, ini tidak terlalu sulit. Dan begitu aku selesai, dari puzzle yang telah kususun Zen muncul kembali.
Kali ini tanpa ragu dan tanpa derai airmata aku kembali menembak Zen,
Dor!
Hanya mengenai kakinya, Zen jatuh berlutut dan memanggil namaku dengan lirih, "Ke...Keira hentikan. Kamu menyakitiku Kei." Lirih Zen.
Deg!
Apakah aku menyakitinya sungguhan, aku menurunkan senapanku sedikit tapi pikiranku mengambil alih dengan cepat!
Jangan turunkan senapanmu Keira bodoh! Tembak saja dia! Pikirku.
Senapanku terjatuh karena tanganku bergetar dengan hebat, Zen semakin mendekatiku.
"Kei, peluk aku. Kumohon jangan menjauh dariku Kei." Ucap Zen dan dia jatuh berlutut di hadapanku.
Aku pun jatuh tersungkur, "Zen, kumohon jangan mendekatiku. Aku...aku akan menghilangkanmu jika kamu mendekatiku." Ucapku mundur ketakutan karena Zen terus maju.
Senapanku ada jauh disana karena jatuh tadi dan terseret oleh kaki Zen, aku terus meraba-raba belakangku dan berharap mungkin saja ada yang bisa aku gunakan untuk menghadang Zen.
Akan tetapi secara bersamaan hatiku pun terasa sangat sakit sekali melihat Zen menangis dan memintaku untuk jangan menjauh darinya karena itu membuatnya sakit.
Dadaku terasa sesak, "Zen..menjauhlah kumohon." Ucapku.
Zen meraih pergelangan kakiku, "Kei, kamu tau aku tidak bisa menjauh darimu. Dan aku juga memohon kepadamu untuk tidak menyakitiku, Kei. Kumohon." Katanya menangis.
Tangan Zen merambat naik, aku menyingkirkan tangannya dari kakiku.
Aku terus mundur untuk menjauh darinya, dan tiba-tiba saja tanganku menyentuk sesuatu, aku merabanya untuk memastikan benda apa yang kupegang.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga aku mengambil benda itu, dan
Swing!
Itu sebuah pedang, aku tau Zen akan terus berbicara hingga aku berhenti menyerangnya.
Aku telah mengambil keputusan dan,
Swish!
"Ke...Kei..."
Bruk!
Zen terbelah menjadi dua dan dengan sekejap dia kembali menjadi potongan puzzle,
Dengan susah payah aku berdiri dan segera menyelesaikan potongan puzzle itu. Airmataku tak berhenti berderai,
"Zen, maafkan aku. Hiks...hiks..maafkan aku Zen!" Aku terus mengucap potongan kalimat itu seakan aku telah di setting untuk terus mengucapkan kalimat itu.
Setelah potongan puzzle itu selesai, aku menunggu Zen muncul kembali dengan pedang terhunus di depanku. Siap menyerang!
Aku tidak ingin melihat Zen yang menangis atau pun berurai airmata dan berkata bahwa aku menyakitinya. Itu akan membuatku sakit juga.
Aku mengusap airmataku dengan kasar, aku lelah.
Lima menit berlalu namun Zen belum muncul. Apakah ini sudah selesai? Apa sudah berakhir?
"IRIA! IRIA!" Aku berseru memanggil Iria karena ia yang kubutuhkan sekarang.
"IRIA! KELUAR KAMU! IRIA!" Aku terua berteriak dengan lantang memanggil namanya.
"IRIA!" Suaraku mulai serak, ketakutan mulai menyelimutiku. Aku takut, jujur saja. Aku berlari ke tempat awal aku memainkan permainan ini.
"IRIA! IRIA! KELUARLAH!" Akan tetapi usahaku sia-sia. Iria sama sekali tidak muncul.
Gubrak!
Aku terjatuh! Aku meringis kesakitan, lututku berdarah. Airmataku kembali mengalir, "Hiks...hiks! Aku ingin kembali! Hiks...hiks!" Tangisku.
Entah sudah berapa lama aku tersungkur sambil menangis. Aku lelah, sangat lelah. Bahkan aku perhatikan, aku hanya berputar-putar di pantai sialan ini!
Aku memejamkan mataku, aku ingin beristirahat sebentar saja.
***
"Nona Kei, bangun dulu non."
Srak!
Suara gorden dibuka membangunkanku, sinar matahari menyambut pagiku hari ini, aku memicingkan kedua mataku begitu sinar matahari masuk ke dalam kamarku.
"Non. Nona Keira."
Suara siapa itu? Kepalaku berputar hebat, bahkan untuk mengangkatnya saja aku tidak sanggup.
__ADS_1
"Non.."
Suara itu terus memanggilku. Aku berusaha membuka kedua mataku, "Bibi Jemima?" Tanyaku.
Bibi Jemima? Dimana aku sekarang?
Aku berusaha untuk duduk dan semua rasa mual yang aku rasakan.
Bibi Jemima membantuku duduk, "Pelan-pelan Non. Aku bantu." Kata bibi Jemima.
"Dimana kita bi?" Aku bertanya.
"Di rumah non. Nona Kei pusing? Aku akan membawakan makananmu ke kamar." Kata Bibi Jemima dan dengan segera pergi keluar kamar untuk membawakan makananku.
Aku kembali membaringkan tubuhku ke ranjang hangatku, kapan aku kembali dan bagaimana aku bisa sampai sini?
Ketika aku berhasil memenangkan ini, aku bersumpah aku tidak akan main game lagi. Ini terlalu mengerikan.
Bibi Jemima membawakanku makanan dan ia berpamitan kepadaku untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Aku menggigit sepotong garlic bread dan menyesap segelas susu putih hangat. Itu membantu menenangkanku.
Aku menghabiskan makananku dan kembali tertidur. Aku benar-benar sangat lelah dan tidak kuat untuk melakukan aktifitas sepanjang hari ini, bahkan untuk berpikir pun aku tidak sanggup.
Tiba-tiba aku terbangun karena suara ketukan di pintu, aku duduk dan melihat siapa yang datang. Ternyata Iria.
Ia datang membawa sebuah amplop cokelat merah yang aku sudah hafal itu adalah amplop notifikasi.
"Ada apa?" Tanyaku kesal. Suaraku masih serak karena memanggil-manggil dia semalam suntuk tapi Iria sama sekali tidak muncul.
Iria menyerahkan amplop notifikasi itu kepadaku sambil tersenyum, "Aku pikir kamu akan goyah Kei. Ternyata keinginanmu untuk segera keluar dari dunia ini tidak main-main. Aku jadi semakin menyukaimu." Sahut Iria
"Mana ada aku main-main! Dan yang kamu lakukan kepadaku tadi malam itu jahat, Iria! Kamu mempermainkan hatiku!" Tukasku gusar.
"Aku hanya mengetestmu. Menguji hati dan keseriusanmu untuk keluar dari dunia permainan ini." Jawab Iria tersenyum dengan manis.
Jika kami berada di dunia normal, orang akan mengira Iria sahabat baikku dan sedang menjengukku.
"Kamu telah menyelesaikan levelmu dengan sangat baik, dan aku ucapkan selamat untuk itu. Hari ini kamu bisa istirahat dan besok aku akan datang lagi untuk memberikan level selanjunya. Take a good rest, Keira." Ucap Iria dan kemudian ia menghilang.
...----------------...
Halo, yuk mampir ke karya temanku yang satu ini sambil nunggu Keira istirahat niy, thank you.
"ampun, apa salahku Ibu,?" teriakan dan tangisan getir dari seorang gadis kecil berusia lima taun. Saat tubuh mungilnya di cubit oleh sang ibu.
"janga panggil aku ibu! Karena aku bukan Ibumu!!" bentak seorang wanita Dewasa yang tengah memukul si gadis malang itu.
"nyonya, sudah nyonya, saya mohon kasihan Nirmala ," seorang wanita pa, mrruh baya datang menghampiri sang Majikan yang tampak tengah murka itu.
Ny. Kania yang mendengarnya, menatap tajam kearah Maid yang berani menghentikan tindakanya itu.
"kau, kau berani menghalangi aku,?!" tanya Ny.Kania berapi api. Tangannya dengan cepat menyambar rambut gadis kecil itu dan menariknya dengan kuat.
"akh sakit Ibu, hiks hiks," Nirmala mebangis sejadi jadinya dan meronta sekuat tenaga.
__ADS_1