
Aku terus berlari dan semakin dalam masuk ke hutan. Jamur-jamur itu terus mengejarku kemana pun aku melangkah, mereka harus di budidayakan siapa tau bisa untuk camilan jamur crispy, bukan?
Aahh, Keira! Fokus!
Aku terus berlari sambil berpikir, "Apakah api?" Pikirku.
Tanganku sibuk mencari sesuatu di dalam tas, lighter. Dan aku berhasil menemukannya!
Tapi aku harus menyalakan kemana api ini? Sedangkan jamur-jamur kelaparan itu terus mengikutiku.
Gubrak!
Aku terjatuh!
"Sakit sekali." Aku meringis kesakitan dan kulihat darah mengalir dari lutut dan sikutku juga telapak tanganku. Aku menyeret tubuhku untuk menghindari jamur yang ingin memakanku itu.
Clap...clap..hap
Clap...clap...hap
Clap...clap...hap
Akhirnya aku bersembunyi di balik dahan besar dari sebuah pohon yang besar, mereka tidak dapat menjangkauku lagi untuk saat ini. Aku aman.
Aku menyeka airmataku menggunakan lengan bajuku, pedih sekali.
Baju? Ah! Aku bisa memakai bajuku untuk menyalakan api!
Aku segera mencari sepotong kayu panjang untuk aku ikatkan ke potongan pakaianku. Setelah aku ikatkan, aku nyalakan api ke potongan pakaianku,
Swosshh!
Aku berusaha untuk berdiri dengan setengah terpincang-pincang, dan benar saja dugaanku. Jamur-jamur itu kembali mengikutiku,
Clap...clap...hap
Clap...clap..hap
Swoosh!
Mereka mundur! Berarti aku berhasil!
Aku terus mengibaskan kayu itu sambil berlari dan itu membuat mereka menjauhiku.
Aku berhenti di tengah hutan yang aku sama sekali tidak tau ini dimana. Aku mengambil kompasku dan berusaha untuk mengetahui dimana aku berada.
Aahh, bodohnya aku! Aku tidak bisa membaca kompas dan sekarang aku kelaparan.
Aku mencari tempat istirahat yang aman, dan mendirikan tenda disana. Aku kembali mencari potongan kayu untuk aku jadikan api unggun.
Jaket, air, kompor kecil, segala jenis makanan aku keluarkan dari tas ransel ajaibku. Entah kapan Bibi Jemima mengepaknya untukku.
__ADS_1
Aku mulai menyalakan kompor listrikku dan mengambil panci serta kutuangkan air kedalamnya. Bibi Jemima membawakanku nasi instant beserta lauk pauknya. Aku berterimakasih sekali kepadanya karena ini sangat memudahkanku dan aku tidak perlu mencari buah di hutan atau bahkan memburu seekor binatang.
Tapi, bagaimana aku bisa sampai ke balik gunung untuk menyelamatkan orang-orang? Dan siapa pula yang mengatur sistem permainan ini? Merepotkan sekali! Apa dia tidak tau kalau aku seorang wanita? Kalau sampai dia ternyata seorang pria, aku akan mencaci makinya lebih dulu! Bersyukurlah aku karena aku kuat.
Bau harus nasi instan mulai memenuhi hutan ini, aku menyendoknya dan memasukan sesuap besar ke dalam mulutku.
Hangat sekali.
Setelah makan aku menjadi mengantuk. Aku mengambil kantung tidurku dan masuk ke dalamnya, "Ini nikmat sekali." Sahutku kepada diriku sendiri.
Aku rasa aku butuh teman untuk berbicara. Menyedihkan sekali.
Tak sampai lima menit aku segera jatuh ke alam mimpi, dan aku pun berharap aku berada di dalam mimpi. Ketika aku bangun besok pagi, aku sudah berada di apartemenku dengan segelas kopi hangat atau beberapa lembar pancake. Nikmat sekali hidupku saat itu.
Beberapa jam kemudian aku terbangun karena aku mendengar suara hembusan nafas dari luar tendaku, aku melihat sebuah bayangan, mungkin itu rusa. Kalau harimau atau macan tidak mungkin hanya mengendusku, mereka pasti akan segera memakanku dalam sekali lahap. Aku pun kembali tertidur dengan pikiran seperti itu.
Tweet....tweet
Tweet...tweet
Suara cicit burung membangunkan tidur, apakah sudah pagi? Cepat sekali! Aku membuka kantung tidurku dan meregangkan tubuhku.
"Aaahhh!" Seruku. Nikmatnya berteriak pagi-pagi.
Aku menyiapkan segelas susu hangat, dan apa ini? Cereal, bubur, dan roti. Wah, Bibi Jemima! Ketika aku kembali nanti aku akan menyerahkan rumah, lahan pertanianku, semua sapi dan ternakku kepadanya. Luar biasa sekali.
Aku sarapan sambil mempelajari peta dan setelah itu mengambil kesimpulan bahwa sampai kapan pun aku tidak paham bagaimana cara membaca peta. Yang aku tau ada garis merah dan hijau serta tulisan kecil yang sulit kubaca. Bahkan aku tidak tau mana kanan mana kiri. Sangat menyedihkan.
Selesai sarapan aku beristirahat sebentar kemudian merapikan tenda serta barang-barangku dan aku memasukkan segalanya ke dalam tas ransel ajaibku.
***
Aku kembali berjalan menyusuri hutan dengan sepatu baru dan pakaian baru karena yang kemarin sudah sangat tidak layak aku pakai.
Sepi sekali hutan ini hanya terdengar suara jangkrik dan entah binatang apa itu yang berteriak-teriak dari kejauhan.
Matahari mulai menembus pepohonan di dalam hutan, aku bahkan belum sampai ke kaki gunung. Aku menekan tombol pause untuk melihat seberapa banyak koin yang kupunya. Masih sedikit sekali. Aku melihat boosterku dan mereka kosong. Apakah aku terlalu boros? Semua jajanan sudah masuk ke dalam tasku bahkan beberapa bagian lagi sudah berada di perutku menunggu untuk di proses.
Srak
Srek
Srak
Srek
Aku terus berjalan sambil menyingkirkan daun-daun kering di depanku.
Tak beberapa lama aku mendengar bunyi sesuatu, bunyi binatang liar dari kejauhan. Mereka melonglong dan mendeking kesakitan.
Apakah itu?
__ADS_1
Sebuah bola berwarna jingga terbang dengan cepat ke arahku.
Aku spontan menundukkan kepalaku,
Swing!
Aku merunduk! Apa itu?
Tanpa perlu di jawab aku sudah mengetahuinya, kepulan asap! Apakah itu bola api? Katakan kepadaku bahwa aku bermimpi! Ini bukan di era Dragon Ball kan?
Aaaa! Aku kembali berlari! Aku dibayar berapa di novel ini sehingga pekerjaanku hanya berlari, melompat dan sebagainya? Menyebalkan sekali.
Swing!
Swing!
Bola-bola api itu dengan cepat membakar hutan! Lalu, aku harus lewat mana?
Aku hanya bisa menghindar dari bola api itu dengan terus berlari. Namun, bola-bola itu seperti sengaja di arahkan kepadaku! Sialan!
Tidak ada tempat bersembunyi sejauh ini. Aku masih harus berlari tapi kakiku sudah tidak sanggup berlari lagi.
Aku menemukan sebuah gua kecil disana tertimbun dan tertutup semak-semak belukar. Aku menerobos semak itu dan masuk ke dalam sana.
Bola api itu masih diluncurkan! Bagaimana jika mengenaiku? Aku akan mengulang level pastinya. Dan aku tidak suka itu!
Aku berpikir, apa yang harus aku lakukan? Apakah dengan air? Aku meraba-raba isi ranselku dan aku menemukan raket tenis.
Untuk apakah ini? Apakah bola-bola api itu terbuat dari bola tenis? Tidak mungkin kan?
Jadi apakah aku harus menghadapinya? Apa kata pusat koin tadi? Kalau aku berhasil mengalahkan rintanganku aku bisa mendapatkan koin. Baiklah, demi koin! Ayo kita berjuang!
Aku membawa raket tenisku dan segera keluar dari gua kecil itu.
Aku tidak berlari! Aku berdiri dengan posisi kuda-kuda sempurna dan siap memukul bola.
Bola pertama datang, bersiaplah Kei!
Duk!
Swiing! Boom!
Yes! Bola api itu meledak dan lenyap.
Tak lama, datang lagi bola api lainnya dan aku berhasil memukul semuanya. Saat ini tidak satu, melainkan 2 bola api, 3 bola api, 4 bola api,
Tidak bisa kan kalau 4!
Aku mulai kelelahan! Bola-bola api terus berdatangan dengan cepat! Bagaimana ini?
...----------------...
__ADS_1