
Aku tidak boleh terdistraksi oleh Zen. Keputusanku sudah bulat untuk dapat kembali ke duniaku.
Aku membawa kue dan beragam hasil kebun menggunakan gerobak kecil, "Ryu, aku sudah siap." Sahutku.
Ryu yang sedang membopong seekor domba tambun berbulu lebat mendekatiku, "Baiklah. Bantu aku dengan si kecil ini dulu Kei." Katanya.
"Aku harus apa?" Tanyaku.
Ryu tersenyum lebar, "Kamu bisa bantu apa?" Tanyanya, "kamu berani memegangi dia?" Ryu bertanya lagi.
Awalnya aku ragu, tapi melihat domba itu aman dan damai dalam gendongan Ryu maka aku mengangguk. Ryu memberikan domba itu ke dalam pelukanku, "Tahanlah sebentar. Ini tidak akan lama." Kata Ryu.
Dengan cekatan Ryu memotong bulu-bulu domba itu, dan segera saja bulu-bulu itu berjatuhan di tangan kakiku.
Setelah selesai aku membantu Ryu mengumpulkan bulu yang sudah di potong untuk kami jual.
"Semoga ini akan mendapat koin cukup banyak dan kita bisa naik level." Kata Ryu.
"Semoga." Jawabku.
Ryu memintaku naik ke atas gerobak dan dia akan mendorongku.
Sesampainya di tempat Nyonya Cissy kami menurunkan barang-barang bawaan kami dan menghitung semua keuntungannya.
Setelah selesai Nyonya Cissy memberikan kami koin dan suara gemericing koin mulai terdengar.
"Hari ini tidak bersama Zen?" Tanya Nyonya Cissy tersenyum.
Deg...deg!
Mereka sudah hapal aku selalu kesini bersama Zen. Mengingat Zen membuat hatiku sangat sakit.
"Zen sedang sibuk di rumah. Hari ini aku ditemani Ryu." Jawabku.
Nyonya Cissy tersenyum kembali, "Sampaikan salamku untuknya yah Kei. Dan bawakan cupcake ini untuknya, dia suka sekali kan?" Nyonya Cissy memberikan 6 buah cupcake kepadaku.
Aku menerimanya dengan haru, "Terimakasih bibi Cissy, aku akan memberikan ini untuk Zen dan menyampaikan salammu." Ucapku kemudian berpamitan kepadanya.
Aku hanya terdiam, aku tidak tau harus bicara apa dengan Ryu. Seluruh isi kepalaku di penuhi oleh Zen.
"Ryu, saat kita berhasil kembali nanti apakah aku akan kembali seperti semula?" Tanyaku.
Sambil mendorong gerobak yang sekarang hanya diisi olehku Ry melihat ke arahku, "Memang kamu kenapa sampai harus bilang kembali seperti semula?" Tanya Ryu.
Aku menggeleng, "Tidak apa." Jawabku singkat sambil menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku.
"Zen?" Tanya Ryu lagi.
Aku menundukkan wajahku mengusap airmata yang perlahan mulai turun membasahi pipiku.
Ryu memberhentikan gerobaknya. Andai saat ini aku belum mengenal Zen, mungkin aku akan tetap jatuh cinta dengan Ryu.
Ryu terlihat keren dan gagah sekali saat ini, "Zen? Aku benar kan?" Tanya Ryu sambil membantuku mengusap airmata.
Aku mengangguk pelan, , "Dia membuatku berpikir. Setauku cinta itu tidak rumit." Jawabku.
"Sejak kapan cinta itu rumit?" Tanya Ryu tersenyum.
__ADS_1
Aku mengangkat bahuku, Ryu melanjutkan mendorong gerobak kecil kami sambil bersiul dan terkadang bernyanyi kecil.
***
"Berapa lagi?" Tanya Ryu.
Aku memperlihatkan grafik kemajuan kami untuk naik level dan sistem permainan ini sudah memutuskan aku akan terus bersama Ryu karena hatiku dan hati Ryu berubah warna menjadi ungu, sebagai tanda kami saling mencintai.
Serangan Audrey pun berpindah menjadi Ryu. Namun, karena Ryu bukanlah suatu program maka ia punya lebih banyak kesempatan untuk bergerak sendiri, tidak seperti Zen atau Ryu yang lain.
"Tinggal sedikit lagi. Andaikan aku bisa menggesernya ke kanan." Ucap Ryu gemas.
Aku mengangguk, "Ya, aku juga ingin sekali menggerakannya ke kanan." Sahutku.
"Baiklah, apa yang harus kita lakukan lagi?" Tanya Ryu.
Aku berpikir dan mengecek angka yang masih rendah, ada home decor dan style.
"Ryu, kita harus membenahi rumah dan berdandan untuk diri kita sendiri." Jawabku.
Ryu melihat lebih dekat ke arahku, jarak kami menjadi dekat sekali dan nafasnya terdengar lembut di telingaku.
"Ryu, apa ini tidak terlalu dekat?" Tanyaku kepada Ryu.
Ryu menatapku, "Apa kamu tidak suka?" Tanya Ryu tersenyum menggodaku.
"Bu...bukan itu. Semenjak berada disini kamu berubah cukup banyak." Ujarku.
Ryu semakin memperkecil jarak di antara kami, "Yang aku tanyakan kamu suka atau tidak kalau aku seperti ini?" Ryu bertanya lagi.
Deg!
Ryu bodoh! Apa yang ia lakukan?
"Apakah akhirnya kamu berdebar karenaku, Kei?" Tanya Ryu.
"Ehem! EHEM!" Suara Zen terdengar di belakang kami.
"Mohon maaf, bisa permisi sebentar? Maaf maaf kalau mengganggu acara cinta-cintaan kalian." Katanya berseru.
Ryu akhirnya menjauh dariku dan mengangkat kedua tanganya, "Relax. Kalau tidak suka tinggal lewati saja tidak perlu menegur kami." Kata Ryu.
Zen menatapku sebentar dan bergegas pergi tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
"Aku rasa kamu terlalu keras padanya." Sahutku pada Ryu. Aku merasa tidak enak hati kepada Zen. Padahal selama ini dia yang selalu ada di sampingku dan dia juga yang selalu menghiburku.
"Baiklah, aku akan meminta maaf kepadanya jika aku bertemu dia lagi." Ucap Ryu sedikit kesal.
Aku menghela nafas panjang dan kembali fokus kepada tujuanku, yaitu kembali ke duniaku. Dengan begitu aku bisa melupakan Zen kan?
Setidaknya begitulah harapanku.
***
Aku dan Ryu sepakat membenahi rumah kami. Menambahkan lukisan, mengganti sofa, mengganti wallpaper dan tiles lantai kami. Dan memberikan beberapa pajangan kecil untuk menambah isinya. Sekarang rumah kami menjadi berwarna dan sangat ramai.
"Hanya bergerak setengahnya. Butuh seperempat gerakan lagi untuk sampai ujung." Sahutku putus asa.
__ADS_1
Aku menghenyakkan tubuhku di sofa baru yang berwarna pink ini. Ryu bersandar di sebelahku.
"Aku akan istirahat lima menit. Setelah itu bangunkan aku." Pintaku pada Ryu.
Ryu mengangkat ibu jarinya, "Baiklah." Katanya.
Entah sudah berapa lama kami tertidur, dan entah apa yang terjadi selama kami tidur. Tapi, begitu kami terbangun kami berada di apartemenku.
"Ryu, bangunlah!" Aku berseru memanggil Ryu dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Ryu! Ayolah! Kita berada di apartemenmu, Ryu! Apa yang terjadi?" Aku masih berseru dan berusaha membangunkan Ryu.
Ryu akhirnya terbangun, "Apa sih Kei? Kamu baik-baik saja kan? Ah, aku harus memberi makan sapi, domba dan ayam." Kata Ryu menggeliat.
Aku memandang Ryu, "Buka matamu, Ryu!" Sahutku.
Ryu tersadar, "Loh? Kita kembali Kei? Apakah ini dunia kita? Apakah ini dunia nyata? Kei!" Ryu berseru.
Aku menggelengkan kepalaku, "Aku juga tidak tau. Aku takut salah lagi seperti waktu itu. Kupikir aku sudah kembali ternyata permainan bodoh itu terupdate." Jawabku sedih.
Ryu mengetuk-etuk seluruh tiang bangunan di dalam ruangan apartmentnya,
Tuk...tuk!
"Ini cukup kuat." Katanya.
Tak hanya sampai situ, Ryu menaiki sofa dan bersiap untuk lompat ke lantai.
Aku melarangnya, "Tu... tunggu! Tunggu! Apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan melompat, begitukah?" Tanyaku meyakinkan diriku sendiri.
Ryu mengangguk dan memberikanku seringai lebar, "Kalau ini di dalam permainan, ini akan hancur Kei." Katanya.
Ryu mengayun-ayunkan kedua tangannya, "Menjauhlah Kei!" Kata Ryu berseru.
"Tu...tunggu dulu." Aku memberikan bantal, selimut, boneka besar pemberianku untuk berjaga-jaga supaya jika Ryu terjatuh itu tidak akan terlalu sakit.
Ryu menatapku dan memberikan tatapan keyakinan yang cukup kuat, "Satu,"
"Dua,"
"Tiga,"
Bruk!
...----------------...
Apakah Ryu dan Kei sudah kembali ke dunia mereka? Well, sambil nunggu aku up lagi, mampir yuk ke novel bestieku.
Blurb:
Terlahir sebagai putri seorang ningrat, terbiasa dengan aturan yang begitu ketat membuatnya susah didekati kaum Adam.
Terpaksa menikah karena perjodohan, tetapi sebelum pernikahan terjadi sang mempelai pria justru meninggal karena hal mistik.
Konon karena ia adalah perempuan spesial dengan sebutan "Bahu Laweyan". Akankah ia mampu bertahan di atas kutukan yang tidak pernah ia minta?
__ADS_1