My Upside Down World

My Upside Down World
I Can't Loving You


__ADS_3

"Aw...aw...aw." Aku memegangi keningku karena habis terjatuh tadi. Belum lagi kakiku rasanya nyeri sekali untuk di gerakan.


"Kakimu tidak boleh dipakai untuk berlari atau naik tangga dulu. Istirahatkan seperti ini supaya memar dan bengkaknya mengempis." Kata dokter menjelaskan.


Aku hanya mengangguk dan meratapi nasibku. Aku tidak berani melihat ke atas untuk melihat seberapa jauh hatiku berkurang.


Saat aku terjatuh, untung saja ada Zen yang menangkapku setelah aku terjungkal, terbalik, dan terguling-guling di anak tangga. Kalau tidak, mungkin aku akan mati dan di kuburkan disini tanpa ada orang yang tau bahwa aku berada di dunia yang bukan duniaku. Sedih sekali.


Zen mengantar sampai ke apartemenku dan dia menolak untuk pulang, kamar apartemen kami hanya berjarak tiga kamar.


"Kalau aku pulang, bagaimana kamu akan mandi? Bagaimana kamu bisa memasak? Bagaimana kamu akan berpindah ke ranjangmu? Tidak! Aku menjagamu disini. Aku akan pulang untuk mengambil baju dan peralatanku setelah itu aku akan menemanimu lagi! Jangan bergerak sampai aku datang!" Seru Zen.


Begitu dia keluar, aku benar-benar tidak bisa bergerak. Kaki kananku di perban dan aku berada di atas kursi roda. Ingin sekali rasanya rebahan. Kalau aku ingat-ingat lagi, kenapa aku menolong Iria? Harusnya kubiarkan saja dia yang terjatuh.


Aku memang baik hati dan sisi kemanusiaanku cukup tinggi. Aku bangga dengan diriku sendiri.


Tok..tok


Aku mendengar suara pintu ruanganku di ketuk. Cepat sekali Zen kembali, tapi biasanya dia membuka pintu sendiri.


Tok...tok


"Sebentar." Sahutku dari dalam. Aku berusaha mendorong kursi rodaku sendiri tapi ini terlalu berat. Aku menyerah.


"Masuklah. Pintunya tidak dikunci." Sahutku lagi mempersilahkan tamuku siapa pun itu.


Krieet.


Aku melongok ke arah pintu, dan kenapa juga aku harus berdebar?


"Hai." Sapanya.


"Iria?" Aku tidak menyangka Iria akan datang ke apartmenku.


"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih kepadamu dan sekaligus ingin bertanya." Katanya.


"Bertanya apa?"


"Kenapa kamu bodoh sekali? Kalau kamu membiarkan aku terjatuh saat itu, maka itu akan menguntungkanmu. Dan hatimu tidak akan berkurang sebanyak ini!" Tukas Iria kesal.


"Hmmm, itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Apa salahnya menolongmu? Semua yang ada di posisiku pasti akan menolongmu bukan? Siapa pun itu." Sahutku.


"Apa kamu sudah mengecek hatimu?" Tanya Iria lagi sambil menunjuk ke atas.


Aku menggeleng, "Itu terlalu mengerikan." Aku menjawabnya.


"Baiklah, aku akan memberitahumu. Sisa hatimu hanya empat sedangkan tantanganmu belum ada yang komplit dan levelmu masih level awal. Pikirkan itu!" Tukas Iria.


Aku rasa dia berada di persimpangan perasaan antara mendukungku atau mengalahkanku.


"Aku tau. Aku yakin aku bisa melewati semua tantangan itu. Aku bukan wanita lemah." Jawabku sambil berharap.


"Semoga. Dan cepatlah pulih!" Katanya kemudian Iria melengos pergi dengan membanting pintu.


Setelah Iria pergi, aku memberanikan diri melihat hati yang melayang-layang di atas kepalaku,


Deg!

__ADS_1


Benar saja, hanya tersisa empat hati. Bagaimana ini?


***


Seminggu setelah kejadian itu, perban kakiku sudah di lepas dan aku berjalan menggunakan crutches. Selama itu pula Zen selalu ada untukku.


Andai ini dunia nyataku aku pasti akan berbahagia dengannya. Sayang sekali ini dunia dimensi yang aneh.


"Kei, aaaa." Ucap Zen menyuapiku sesuap nasi gulung saat makan siang kami di atap.


"Aku bisa sendiri." Sahutku.


"Sudah, turuti saja kata-kataku." Perintahnya. Dengan menanggung rasa malu aku terpaksa membuka mulutku,


Cup!


Zen mengecupku, setelah itu memasukan nasi gulung ke dalam mulutku.


"Hehehe, maaf." Katanya.


Jujur saja aku menyukai Zen melebihi Ryu. Zen benar-benar mencurahkan waktunya untukku dan aku hargai itu. Jika di dunia nyata Zen adalah aku yang sibuk mencari perhatian kepada Ryu.


Aku memandang Zen yang sibuk mengoceh di depanku dan tiba-tiba mata kami bertemu.


"Ada apa denganmu, Kei?" Tanya Zen.


"Aku tidak tau bagaimana aku jika tanpamu, Zen." Jawabku tulus.


Zen tertawa, "Aku diciptakan memang untuk menemanimu, Kei. Sampai kapan pun." Katanya tersenyum.


"Siapa yang menciptakanmu memangnya?" Aku memancingnya.


Blush!


Wajahku panas, dan memerah.


Romantis sekali, Ya Tuhanku bolehkah Zen kubawa pulang saat aku memenangkan game ini?


"Apakah kamu selalu manis seperti ini, Zen?" Tanyaku.


Zen tersenyum, "Hanya kepadamu." Sahutnya.


Ya Tuhan, aku lemah terhadap tatapan matanya.


"Ja...jangan menatapku seperti itu!" Tukasku.


Namun Zen tidak menggubrisku, "Kenapa tidak boleh? Ada larangannya kah?" Tanya Zen yang masih belum melepaskan tatapan matanya.


"Bu...bukan larangan. Nanti aku jadi suka kepadamu dan itu tidak boleh!" Jawabku.


Zen tertawa, "Kenapa tidak boleh? Siapa yang melarangmu untuk jatuh cinta kepadaku?" Tanua Zen lagi.


Aku tidak menjawabnya karena aku tidak tau bagaimana menjawabnya. Alih-alih menjawabnya, airmataku jatuh bergulir di pipiku.


Zen memelukku, "Kei, ada apa denganmu?" Tanyanya.


Aku menggelengkan kepalaku. Ini sangat sulit. Aku hanya mempunyai empat hati, tapi aku sama sekali tidak bisa mendekati Ryu dan saat ini aku malah jatuh cinta dengan Zen. Aku kesal kepada diriku sendiri.

__ADS_1


Sore itu sepulanh kantor, aku berjalan di sisi Iria. Jane dan Bern memandangku kebingungan. Mereka saling menyikut memberi kode.


Iria memperlambat jalannya, "Ada apa?" Tanya Iria.


"Permainan ini tidak adil!" Tukasku.


Iria tertawa, "Dimana letak ketidakadilannya?" Tanya Iria.


"Tidak bisakah aku mengulang di level ini?" Tanyaku.


Iria berhenti. Tidak! Iria tidak berhenti, tapi Iria memberhentikan waktu.


"Kamu mau mereset level ini? Apa kamu pernah bermain game?" Tanya Iria.


Aku mengangguk.


"Lalu, apa yang terjadi saat kamu mereset permainanmu?" Tanya Iria lagi.


Aku baru menyadarinya, "Aku akan kehilangan nyawaku." Jawabku lemas, "maksudku apa tidak bisa aku mengulangi semua permainan ini dari awal?"


Iria tertawa, "Aku rasa kalau kamu sudah sering bermain game, apa yang terjadi jika kamu ingin mengulang semua permainanmu dari awal?" Tanya Iria seakan berbicara kepada seorang anak kecil.


Aku kembali tersadar, jadi tidak mungkin untuk mengulang permainan ini.


"Berusahalah Kei." Sahut Iria.


"Kenapa harus kamu yang dekat dengan Ryu?" Tanyaku kesal.


"Karena memang begitu pengaturannya kan?" Jawab Iria, "apa kamu merasa tidak adil dibagian itu?" Tanyanya.


"Tentu saja." Sahutku singkat, "dan lagi dia tergila-gila padamu. Saat terakhir aku menemuinya, kalian sedang, ehem. Aku yakin kamu tau maksudku." Tukasku.


"Aku sama sekali tidak bisa mendekatinya!" Tambahku lagi.


"Oh, jadi kamu cemburu?" Tanya Iria menggoda.


"Bukan seperti itu! Aku tidak mempunyai celah untuk mendekatinya karena di kepala Ryu hanya ada kamu, kamu, dan kamu!" Kataku jengkel.


Pembicaraan ini sungguh membuat emosiku memuncak. Dan sepertinya akan berakhir sia-sia.


"Hahaha, aku tidak selalu ada di sampingnya. Carilah celah itu, Kei. Aku tidak akan membantumu karena hanya kamulah yang mampu menyelesaikan permainan ini." Sahut Iria, "sudahlah, mereka sudah menungguku terlalu lama." Sahutnya lagi sambil melirik ke arah Jane dan Bern.


"Tunggu dulu. Apa yang terjadi jika aku memutuskan untuk bersama Zen?" Tanyaku hanya untuk memastikan.


Iria tersenyum menggodaku, "Jadi, kamu tertarik kepadanya? Wow, akhirnya seluruh perlawanan yang dilakukan oleh hatimu luluh lantak?" Tanyanya.


Aku mengangguk.


Iria bertepuk tangan, "Maka, selamat datang di duniaku, Kei." Jawab Iria.


"Tapi... Tapi aku mencintainya! Aku ingin membawanya pulang!" Tukasku.


Iria menggerakkan jarinya, "Pilih salah satu. Itu yang kukatakan dari awal. Zen memang diciptakan hanya untukmu, dan kamu harus berjuang mendapatkan cinta Ryu setelah itu kamu bisa keluar dari dunia ini." Katanya.


"Aku...aku..." Aku tidak bisa menjawabnya. Karena yang kucintai saat ini Zen bukan Ryu.


"Berpikirlah Keira. Dan cepatlah supaya hatimu tidak segera habis karena termakan waktu." Jawab Iria.

__ADS_1


Iria kembali mengaktifkan waktu dan aku melihat ke arah hatiku, tersisa tiga setengah. Bagaimana ini?


...----------------...


__ADS_2