
Ryu mengetuk-etuk pintu apartmentku,
"Kei!" Sahutnya
Aku membukakan pintu untuknya,
"Zen, dia seperti akan menghilang." Ucapku.
Ryu melihat tubuh Zen dan mencoba menyentuhnya, "Kamu tau terkadang game itu mengalami crush, Zen sedang mengalami itu. Kita harus mengupdate aplikasinya." Kata Ryu.
Ryu keluar lagi dari apartmentku dan tak lama dia sudah kembali dengan membawa flashdisk dan laptopnya, "Apa yang terjadi kalau aku mengupdate aplikasinya? Apakah jumlah level akan bertambah dan kami akan tertarik lagi ke duniamu, Zen?" Tanya Ryu
"Aku tidak tau, tapi kalau kalian tidak mau kembali lagi kesana jangan update. Karena bisa saja itu menjadi kemungkinan terburuk kalian, kan?" Jawab Zen.
Ryu sedikit ragu dan tampak ia berpikir keras, "Lalu bagaimana?" Ryu bertanya kepada Zen.
"Jangan update. Aku masih mau disini, jika aku sudah tidak sanggup maka aku akan memberitahukan kepada kalian supaya kalian dapat mengupdate aplikasi permainan itu sehingga aku bisa kembali ke duniaku." Jawab Zen.
Aku memandangnya, "Apa kamu akan baik-baik saja Zen? Aku takut terjadi sesuatu kepadamu." Ucapku.
"Kamu tidak mau kembali ke dunia itu kan? Sedangkan aku belum puas menghabiskan waktu bersamamu, Kei. Aku juga masih ingin bermain bersama Ryu dan lainnya disini. Ijinkan aku untuk tinggal sebentar lagi." Kata Zen.
Aku dan Ryu saling melempar pandang, "Kami akan berbicara sebentar, Zen." Sahut Ryu
"Bagaimana?" Tanya Ryu kepadaku saat kami berada di kamarku.
"Kamu mau kembali kesana?" Tanyaku.
Ryu mengangkat bahunya, "Ini gambling, Kei. Jika aku mengupdatenya ada kemungkinan level akan bertambah bukan tidak mungkin kita bisa kembali ditarik oleh Iria kesana lagi. Tapi jika terus disini, cepat atau lambat Zen yang akan menghilang." Jawab Ryu.
Aku menghela nafasku dan berusaha berpikir cepat, "Bagaimana kalau kita yang disana? Apa kita juga akan menghilang?" Tanyaku.
Ryu menggelengkan kepalanya, "Kita akan kembali begitu permainan itu selesai sama seperti saat ini. Kita akan otomatis keluar." Jawab Ryu.
Aku kembali berpikir, "Ayo kita coba mengupdate permainan itu." Sahutku mengambil keputusan.
"Kamu yakin?" Tanya Ryu
Aku mengangguk mantap, "Ya, aku yakin dan kita akan hadapi ini bersama-sama kan?" Aku bertanya lagi hanya untuk memastikan bahwa Ryu akan bersamaku.
Ryu tersenyum kecil dan mengangguk, "Tentu saja Kei. Ayo kita berikan jawaban kita kepada Zen." Katanya.
"Jadi?" Tanya Zen begitu melihat kami.
"Aku akan tetap mengupdatenya. Kami sudah sepakat untuk menyelamatkanmu, Zen. Kami akan menemanimu disana andai Iria membawa kami kembali kesana nanti." Jawab Ryu.
Zen melihat kami dengan tatapan berterimakasih.
Kalau dipikir-pikir, aku ini egois sekali. Aku minta Ryu menemaniku kalau nanti Iria menarikku kembali kesana tapi aku mencintai Zen dan ingin membuatnya tetap hidup melalui pertolongan Ryu.
Aku merasa buruk sekali saat ini.
***
Ryu mulai memasukan flashdisknya ke dalam laptop dan mengutak-atiknya.
__ADS_1
"Kita hanya akan menunggu selama dua jam. Bersabarlah." Kata Ryu.
Sambil menunggu, aku membuatkan mereka makan malam dan kudapan setelah makan.
Ryu dan Zen benar-benar seperti saudara. Mereka menjadi akrab sekali, padahal pertemuan terakhir mereka di dunia permainan itu sangat dingin.
Tak terasa dua jam telah berlalu, Ryu menekan play pada kursor bertuliskan Mulai Permainan.
Dan benar saja, ada history permainan terakhir kami. Tak tanggung-tanggung, mereka menambahkan hingga lima level lagi yang harus kami selesaikan.
Aku dan Ryu saling berpandangan dan mengangguk penuh keyakinan bahwa apa pun yang terjadi kami akan menghadapi ini bersama-sama.
"Apakah kita harus tidur dulu baru akan masuk kesana?" Tanyaku.
Zen dan Ryu mengangkat bahu mereka, "Aku juga tidak paham." Kata mereka.
"Apakah kita bisa hanya masuk begitu saja?" Aku bertanya lagi.
Ryu dan Zen menggelengkan kepala mereka.
"Bukan Ryu pernah seperti itu? Kamu masuk saja ke dalam sana? Dan saat itu apa yang kamu lakukan?" Tanyaku menuntut jawaban untuk pertanyaanku.
Ryu mengingat-ingat, "Saat itu layar komputerku seperti ada pusaran dan ketika aku menyentuhkan tanganku ke layarnya rasanya seperti tersengat dan tiba-tiba aku masuk ke dalam. Begitu saja." Jawab Ryu sambil memperagakan tangannya yang tersengat saat itu.
"Benarkah?" Tanyaku.
Aku mendekati laptop Ryu dan menyentuhkan tanganku ke layar laptop Ryu,
Tuk...tuk
Tidak ada perubahan.
Aku ikut tertawa bersama mereka.
Kami mengobrol sampai lewat tengah malam sambil menerka-nerka apa yang terjadi jika Iria menarik kembali atau bahkan kami tidak kembali kesana. Bagaimana dengan Zen nantinya? Karena dia punya cita-cita yang sangat sederhana yaitu ingin menikah denganku dan tinggal bersebelahan dengan Ryu.
Aku hanya bisa tersenyum sambil berharap dalam hati semoga keinginan kami menjadi nyata.
Selewat tengah malam, saat kami tidur. Kami tidak tau bahwa laptop Ryu tiba-tiba menyala sendiri dan seperti ada sesuatu yang membuatnya berkelap-kelip, mati menyala.
Drrrt
Bzzzt
Drrrt
Bzzzt
Laptop Ryu terus berdesis...
Sampai akhirnya aku terbangun karena suara mendesis itu, aku mendekati laptop Ryu dan mengerikan sekali, seolah ada yang memainkan permainan ini.
Tampak di layar aku dan Ryu sedang memetik hasil kebun, dan Zen membawa seekor anak sapi untuk di cek kesehatan dan tingkat kebahagiannya.
Aneh sekali. Apa yang terjadi?
__ADS_1
Aku membangunkan Ryu, "Ryu! Bangunlah." Sahutku menggoyang-goyangkan badan Ryu.
Tak habis akal, aku membangunkan Zen.
"Zen, bangunlah. Ada yang aneh dengan laptop Ryu." Ucapku.
Aku kembali melihat layar laptop, sekarang permainan itu seperti di percepat tiga kali lipat dari kecepatan normalnya.
"Ryu!" Aku memukul kaki Ryu untuk membangunkannya.
"RYU! ZEN! BANGUNLAH!" Teriakku panik.
Ryu akhirnya terbangun, tepat bersamaan dengan sebuah tangan menggapai-gapai ke arahku.
"Ryu, tolong aku!" Ucapku.
Tangan itu berhasil menarikku, Ryu dengan cepat menarik tanganku satu lagi.
"Bertahanlah Kei! Aku menarikmu!" Ucap Ryu dengan susah payah.
Tanganku mulai kemerahan karena cengkraman tangan aneh itu dan tangan Ryu.
Tiba-tiba Zen datang, melepaskan tanganku dan menggantinya dengan tangannya sendiri.
Srruusut.
Zen masuk ke dalam laptop Ryu. Aku spontan menyusulnya tanpa berpikir.
Begitu aku masuk ke dalam laptop Ryu, segera saja kegelapan menyelimutiku. Seperti tertelan ke dalam pusaran. Aku berputar-putar di dalam pusaran itu,
Bruk!
Tak lama kegelapan itu segera berganti dengan warna-warni yang memanjakan visualku,
"Ouch!"
Aku melihat ke sekelilingku, latar ini berbeda dengan saat terakhir aku kesini.
"Selamat datang kembali Keira." Sahut sebuah suara yang bergaung entah darimana datangnya.
Aku mencari sumber suara itu,
"Ini adalah level terakhir. Tugasmu adalah mencari siapa cinta sejatimu. Aku menempatkan kalian bertiga di lokasi yang berbeda, tugasmulah untuk mencari dan menjemput mereka. Hanya satu orang. Siapa pun yang tidak terpilih akan terjebak disana selamanya. Ingat, hanya satu orang." Sahut suara itu lagi.
Kemudian, suara itu menghilang dan berganti dengan suara ramai orang berlalu lalang,
"Dimana aku? Aku harus kemana untuk mencari Ryu dan Zen?" Batinku dalam hati.
...----------------...
Hei friends, daripada ikutan kesasar bareng Keira. Kesasar aja di novel temanku yuk, mampir dan dukung karyanya yah. Maaci
Antonie adalah pemulung yang mati akibat ulah Sonya, putri pemilik Rumah Sakit Harapan Kita.
Setelah kematiannya, Antoni bertemu dengan seseorang pria tua yang ramah. Awalnya Antonie tidak tahu jika dirinya telah mati, namun setelah obrolan dengan pria tua itu, Antonie tahu jika telah mati.
__ADS_1
Pria tua itu bisa menghidupkan si Antoni, asal ada syaratnya, yaitu, merubah dunia kedokteran yang sudah rusak karena keserakahan....