
Sesuai janjinya, Nathan membawa Omanya pergi jalan-jalan setelah pekerjaannya selesai. Meski Febby terus mendesak mamahnya tapi tidak membuat wanita yang berusia lebih dari setengah abad itu gentar. Dia akan tetap berusaha sesuai dengan rencananya.
"Oma, mau jalan-jalan kemana? Apa ada tempat yang ingin Oma kunjungi," tanya Nathan yang tangannya sedang sibuk menyetir mobil.
"Oma mau bertemu teman lama, di restoran favorit Oma. Kami sudah lama tidak bertemu, Oma ingin reunian," kata Oma yang dandanannya sudah sangat sosialita. Dengan sanggul yang tinggi, kebaya modern malah tentunya tidak lupa juga tas branded.
"Baiklah, jadi Oma mengajakku keluar hanya untuk mengantar Oma bertemu teman lama. Kalau begitu Oma bisa meminta sopir mengantar Oma," sungut Nathan.
"Jadi kamu tidak suka pergi mengantar Oma. Padahal Oma itu ingin sekali memamerkan kamu pada teman Oma. Ingin menunjukkan kalau Oma punya cucu yang hebat seperti kamu, tidak bolehkah?"
"Bukan begitu Oma, tapi aku kira Oma itu ingin kita pergi hanya berdua dan berjalan-jalan sambil menikmati kota ini. Bukankah itu mau Oma." Nathan jadi bertanya-tanya kenapa Omanya tiba-tiba ingin bertemu temannya.
"Itu karena Oma tau, kamu tidak mungkin mau kalau Oma mengatakan yang sebenarnya. Pasti kamu akan menyuruh supir untuk mengantar Oma."
Mungkin benar karena setelah kejadian tadi malam rasanya Nathan tidak ingin jauh-jauh dari Arin.
"Tidak Oma, aku akan tetap menemani Oma," kata Nathan, ya sudahlah dia tidak punya pilihan lain. Omanya juga tidak setiap hari memintanya untuk ini itu.
Tidak berselang lama, mereka sampai di restoran yang sudah Oma Wina pesan.
"Apa ini tempatnya Oma?" Nathan memperhatikan sekitar, restoran yang cukup mewah memang cocok dengan selera Oma Wina.
"Iya ayo turun, Oma tidak sabar bertemu dengannya." Wajah Oma Wina sangat sumringah. Tentu karena dia sudah merencanakan sesuatu.
Benar saja, di dalam sana sudah ada dua orang yang menunggu kedatangan mereka. Ada seorang nenek dan cucunya. Si cucu tampak tidak sabar bertemu Nathan, pria pujaan setiap perempuan. Muda, sukses, mapan dan tampan, sudah paket komplit dengan satu orang. Menikah dengan Nathan sudah pasti hidupnya terjamin.
"Nenek, apa penampilanku sudah rapih? Apa aku cantik, apa tatanan rambutku sudah cocok seperti ini. Ah tadi orang yang biasa menata rambutku sedang tidak masuk kerja, aku merasa kurang percaya diri dengan tatanan baru ini." Entah sudah berapa kali perempuan itu bertanya dan bercermin dengan kaca kecil yang ia bawa. Rasanya seperti ada yang kurang, dia takut penampilannya tidak terlihat sempurna.
"Ya ampun sayang, kau sudah puluhan kali bertanya pada nenek. Sudah nenek bilang kalau kau sangat cantik hari ini, kamu mau bagaimanapun akan terlihat cantik sayang," kata si nenek yang penampilannya tidak kalah modis dengan Oma Wina. Ditambah dengan perhiasan mewah yang memenuhi tangan dan lehernya.
__ADS_1
"Aku grogi, Nek. Aku takut tidak menampilkan kesan yang baik saat pertama kali bertemu dengannya," ucap perempuan yang lebih muda dari neneknya itu dengan tersipu-sipu.
"Percayalah pada nenek, siapa yang akan menolak cucu nenek yang sangat cantik ini. Kau juga punya kelebihan lain yang pasti menunjang penampilanmu sayang. Kau wanita karir yang mandiri, bahkan teman nenek saja berebut ingin menjodohkanmu dengan cucu mereka tapi tentu nenek memilih yang terbaik untukmu. Dan cucu Wina yang paling cocok," Ujar nenek itu.
"Apa nenek yakin kalau dia mau dijodohkan dengan ku, Nek? Bagaimana kalau dia menolak." Cemas dan gelisah.
"Itu tidak mungkin sayang. Karena nenek sudah memastikannya sendiri, Wina sudah berjanji pada nenek akan membuat cucunya mau menikah denganmu. Maka dari itu kau harus pandai-pandai mengambil hati teman nenek itu. Dia yang akan memberimu dukungan penuh."
"Aku mengerti nek, aku akan melakukan yang terbaik." Perempuan itu tersenyum penuh percaya diri.
"Itu mereka sudah datang," kata nenek itu pada cucunya. Melihat siapa yang baru saja memasuki restoran itu.
Sementara Nathan sedang menuntun Omanya. Takut kenapa-napa dengan sang Oma.
"Hati-hati Oma. Pelan-pelan saja jalannya," ujar Nathan mengingatkan. Kalau sampai terjatuh kan bisa bahaya.
Nathan menyerngitkan keningnya, mendengar kata mereka. Apa mungkin berarti ada lebih dari satu makhluk berjenis nenek-nenek. Dia hanya berharap tidak ada media di tempat itu, bisa gawat kalau dia sampai digosipkan yang tidak-tidak.
'Seorang pengusaha muda makan dengan nenek-nenek."
'Sekelompok nenek-nenek makan dengan pria muda yang ternyata seorang CEO ternama.'
'Rupanya CEO muda yang merupakan pengusaha muda dan sukses itu adalah pecinta nenek-nenek.'
Atau mungkin juga artikel yang lebih ekstrim seperti.
'Seorang pengusaha muda mati digigit nenek-nenek ompong.'
'Jenazah pengusaha muda jadi santapan lezat para nenek-nenek.'
__ADS_1
'Simpanan nenek-nenek."
Oh tidak, Nathan tidak bisa membayangkan jika semua itu terjadi. Dirinya dipotret wartawan secara diam-diam lalu diberitakan lewat artikel yang diberi judul dan keterangan yang sama sekali tidak benar. Mereka seperti mengarangnya sendiri kadang seperti penulis skenario yang handal. Bisa menciptakan sebuah cerita baru.
"Wina ...." Seseorang memanggil Oma Wina.
Oma Wina melambaikan tangannya dari kejauhan. Gerakannya sangat lincah dan ceria.
"Hai Dona ...." sahut Oma Wina, lalu menarik tangan Nathan agar segera mengikutinya. "Ayo, itu teman Oma ada di sana," tunjuk Oma pada seorang nenek yang duduk bersama seorang wanita muda. Ohh itu berarti dia tidak hanya bersama nenek-nenek kan.
"Wina, ya ampun. Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga Dona, aku merindukan kalian. Ingin kumpul seperti dulu lagi."
Kedua nenek itu saling berpelukan melepas rindu seperti Teletubbies. Sementara Nathan masih was-was takut ada wartawan lewat, sedangkan cucu nenek Dona sedang malu-malu kucing berulang kali menyelipkan rambutnya yang panjang ke belakang telinga.
"Apa kita akan berdiri terus, Oma?" tanya Nathan. Dari tadi dia menunggu ke dua nenek itu tidak ada selesai-selesainya saling melepas rindu.
"Oh iya Oma sampai lupa padamu. Maaf nak," ujar Oma Wina sambil tertawa kecil.
"Ya ampun, Win. Apa ini cucumu yang pengusaha muda itu, Dia jauh lebih tampan aslinya dari pada di televisi atau majalah. Benar-benar bibit unggul ," puji nenek Dona yang sangat mengagumi sosok Nathan. Dia tidak salah pilih, kalau Nathan jadi menikah dengan cucunya maka semua orang akan memujinya karena punya cucu menantu yang tampan dan juga kaya.
"Iya ini, Don. Ini cucuku. Dia tampan kan, aku mana mungkin berbohong." Oma Wina bangga. "Nak, perkenalkan ini nenek Dona teman Oma," ucapnya pada Nathan.
"Apa kabar Nek," sapa Nathan dengan sopan.
"Nenek baik nak, oh iya perkenalkan ini cucu nenek. Namanya Namira," ujar nenek Dona memperkenalkan cucunya.
Wanita bernama Namira itu mengulurkan tangannya pada Nathan untuk berkenalan. "Hai ...
__ADS_1