
Kepala Dinda mulai berdenyut dan terasa pusing karena terus diperintah untuk ini itu. Ditambah hinaan yang selalu mereka sematkan, bagai sebuah tamparan keras agar dirinya sadar diri. Jangan bergaul dengan mereka, bahkan kalau bisa pergi saja dari kampus itu. Agar tidak menjelekkan image kampus elit itu yang harusnya para kaum elit yang boleh kuliah di sana. Bukankah sudah Dinda bilang kalau dia juga tidak ingin di sana tapi bukan dia yang bisa menentukan. Dimana dia harus kuliah, dia harus mengikuti prosedurnya di tempatkan dimana saja.
Kenapa juga mereka harus mengurusi perihal Dinda yang hanya seonggok debu kecil yang tidak terlihat. Tidak bisakah mereka tutup mata atau tidak menganggap Dinda ada juga tidak masalah. Kenapa para orang-orang kaya suka sekali merundung yang tidak berdaya. Apa mereka kekurangan mainan sampai mempermainkan sesama makhluk hidup ciptaan-Nya. Ya benar, sekarang Dinda tau kenapa mereka mengganggunya yang katanya perempuan miskin dan tidak penting. Mereka hanya ingin mempermainkannya, dan menganggap lucu akan ketidakberdayaan Dinda.
Miris sungguh miris. Kenapa mereka tidak berpikir bagaimana jika mereka ada di posisi Dinda. Dihina dan dipermainkan, apa mereka akan tahan dan kuat seperti gadis berkepang itu. Atau mereka akan melompat dari atas bangunan kampus. Mereka tidak hanya menyakiti fisik tapi juga mental orang lain tanpa berpikir akibatnya. Padahal mereka adalah orang-orang terpelajar dan terhormat.
Dinda memegangi kepalanya yang terasa berputar, dia sudah tidak sanggup dan ingin pulang. Tapi sebelum itu dia ingin pamit lebih dulu pada Arin. Takut temannya itu mencarinya. Samar-samar pandangan Dinda melihat Arin ada di kejauhan bersama para gadis-gadis dari kampusnya yang high clash tentunya. Arin terlihat tertawa bahagia bersama mereka.
Satu yang pasti, Dinda baru saja menyadari sesuatu. Sudut bibirnya terangkat, tersenyum miris memikirkan dirinya. Ya, Arin yang bagaikan langit itu seharusnya tidak berteman dengannya. Yang hanya banyak menyusahkan Arin dari awal mereka bertemu. Dia juga sadar kalau mereka semua tambah tidak suka saat Dinda dekat dengan Arin. Memang seharusnya dari awal Dinda harus sadar diri.
Dinda yang awalnya ingin berpamitan memilih berbalik. Dia tidak ingin membuat Arin malu karena kehadirannya. Gadis itu berjalan dengan menahan rasa pusing. Peregangan pada apa saja agar tidak terjatuh. Sepatunya yang tinggi juga membuatnya kesulitan.
'Kenapa pusing sekali kepalaku, apa karena kelelahan.' Rasa pusingnya terasa aneh.
Rezza baru saja sampai, dia turun dari mobil mewahnya dengan dibukakan pintu oleh bawahnya. Para gadis heboh melihat penampilan Rezza yang sangat tampan dengan setelan jasnya. Sudah seperti CEO perusahaan saja. Tapi memang benar kalau dia itu calon CEO.
Pria itu membenarkan jasnya lalu mengambil bunga yang ia taruh di dalam mobil. Para gadis tambah histeris melihat sang pria pujaan membawa bunga tanda cinta itu. Berharap bunga itu akan diberikan pada salah satu dari mereka.
"Ya ampun pangeranku, dia membawa bunga. Siapa gadis beruntung yang akan ia beri bunga."
__ADS_1
"Coba saja kalau aku yang beruntung." Ah mereka jadi berkhayal berlebihan.
Semua orang menyingkir saat Rezza memasuki cafe itu. Pria itu mencari-cari seseorang yang ingin dia berikan bunga itu. Dan gadis itu ada di sana sedang menatapnya aneh. Rezza malah tersenyum padanya.
"Aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang sangat spesial untukku," kata Rezza yang sudah berdiri di depan mikrofon di atas panggung yang tadi dipakai untuk perform para mahasiswa kampus.
Semua orang bertepuk tangan, Dinda yang melihat pangerannya ada di sana juga tidak jadi pergi. Ingin ikut menikmati penampilan pria itu. Dan juga ingin tau gadis beruntung mana yang dimaksud Rezza. Meski sejujurnya dia bisa menebak siapa itu. Ya seseorang yang sangat cantik dan juga baik. Arin, tentu Dinda tau setiap Rezza menatap Arin dengan tatapan yang berbeda. Dinda ikut senang kalau memang mereka bersama, mereka memang sangat cocok. Putri dan pangeran kampus. Tapi setau Dinda, Arin itu menyukai seseorang yang dia panggil kakak. Ya, lihat saja apa yang akan terjadi.
Suara musik merdu dan romantis mulai mengalun. Rezza bersiap menyanyikan sebuah lagu. Tidak ada yang tau kalau pemuda itu punya bakat seperti itu, sebenarnya sudah terpendam lama. Hanya saja selama ini dia hanya berani bernyanyi di kamar mandi rumahnya.
Kau begitu sempurna, dimata ku kau begitu indah
Disetiap langkah ku, ku 'kan s'lalu memikirkan, diri mu
Tak bisa ku bayangkan hidup ku tanpa cinta mu
Suara Rezza lumayan merdu dan mampu memlenyotkan hati para gadis yang ada di sana. Membuat mereka jadi terRezza-rezza. Semua orang begitu menikmatinya, ikut menggerakkan tangan yang mereka angka ke atas seperti sedang sedang menonton konser.
Kau adalah darah ku
__ADS_1
Kau adalah jantung ku
Kau adalah hidup ku, lengkapi diri ku
Oh sayangku kau begitu
Sempurna, sempurna
Tangan Rezza menunjuk salah satu gadis di sana. Ia rasa ini sudah sangat romantis, pasti gadis itu juga akan luluh. Meski ia tau kalau perasaan gadis itu bukan untuknya. Dia akan tetap mencoba mengungkapkan perasaannya. Siapa tau keajaiban tiba-tiba datang padanya.
Sampai musik berhenti semua orang sudah bertepuk tangan riuh sekali. Rezza senang dan lega ternyata suaranya tidak begitu buruk. Tidak sia-sia selama ini dia latihan di kamar mandi. Sekarang saatnya adegan selanjutnya. Tiba-tiba dia gugup, karena biasanya dia yang ditembak bukan dia yang menembak seorang gadis.
Semua orang juga sudah menunggu sambil berdebar-debar dan berdoa semoga jadi yang paling beruntung diantara yang lain. Tidak dengan Dinda dia justru memilih untuk pergi karena sudah tau adegan selanjutnya akan seperti apa. Dia tidak pernah berdoa meminta yang berlebihan seperti mereka apalagi berharap yang tidak-tidak. Berjalan perlahan karena kepalanya masih pusing, tumitnya juga sakit.
Rezza berjalan dengan sumringah ke arah gadis itu. Sambil menghapal apa saja yang harus ia ucapkan nanti. Sudah latihan berkali-kali tapi kadang masih suka lupa. Dia harus menyiapkan kalimat yang termanis dan terindah untuk sang pujaan hati.
Sementara Arin masih mencoba mencari Dinda, gadis itu tidak kelihatan sejak tadi. Arin jadi khawatir padanya. Dia jadi menyesal sudah meninggal Dinda hanya untuk mendengarkan para gadis-gadis itu ceri muka. Arin bukan orang seperti itu, yang lupa pada teman lama hanya untuk teman baru yang lebih wah. Dia tidak butuh teman seperti itu. Lebih suka berteman dengan Dinda.
Sampai seseorang menepuk pundaknya pelan. "Apa belum selesai acaranya, kita pulang sekarang?"
__ADS_1
Arin menoleh, rupanya ...