Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 45


__ADS_3

Arin menoleh pada orang yang menepuk pundaknya dan bersuara tadi. Rupanya Nathan yang datang kesana. Laki-laki itu tampaknya tidak tenang membiarkan Arin ikut acara seperti itu tanpa dirinya. Nathan masih menggunakan jas yang tadi pagi ia pakai ke kantor. Menandakan dia belum pulang ke rumah dan langsung ke sana menyusul Arin. Sebelumnya dia sudah bertanya pada orang rumah, setelah tau Arin belum pulang langsung bergegas ke tempat itu.


"Kak Nathan? Kapan kakak datang?" tanya Arin yang masih terkejut.


"Sejak bocah itu bernyanyi di atas sana." Nathan melempar pandangan pada Rezza. Dia sudah ada di sana sejak tadi saat pemuda itu sedang perform di atas panggung. Dia berhenti diantara orang-orang, lalu tidak sengaja mendengar kalau Rezza mau menembak seseorang dan Nathan perhatian pandangan pria itu selalu ke arah Arin. Meski Arin tidak memperhatikannya karena sibuk mencari Dinda. "Ayo pulang," ajak Nathan.


"Sebentar kak, aku mau cari temanku dulu. Kasihan kalau aku tinggal begitu saja." Arin melihat sekeliling lagi.


Sementara Rezza yang tadi sudah mengumpulkan keberanian dan kepercayaan diri mendadak meredup saat melihat pria yang ada di samping Arin. Ya rencananya dia mau mengutarakan perasaannya pada gadis itu. Dia tidak bisa menunggu lama lagi karena kabarnya Arin mau melanjutkan kuliahnya di luar negeri setelah lulus S1.


'Sial! Kenapa dia ada disini juga. Bagaimana aku mau mengatakan perasaanku pada Arin kalau ada pria menyebalkan itu. Ish, lihatlah tampangnya yang sok keren itu. Aku bahkan tidak kalah keren sekarang. Memangnya dia saja apa yang bisa memakai jas. Aku juga bisa keren," gerutu Rezza saat melihat Nathan. Ini di luar ekspektasinya. Dia sudah membayangkan berbagai adegan romantis tapi pria itu mengacaukannya.


'Ah sudahlah, aku tidak peduli ada dia di sini. Lagi pula, Arin dan dia juga tidak punya hubungan apa-apa. Jadi aku berhak mengutarakan perasaanku padanya.'


Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Tidak peduli ada Nathan atau siapapun. Rezza mau menembak Arin. Titik.


Langkah kaki Rezza terus mengarah pada Arin. Membuat semua orang menyingkir. Dia membawa sembilan puluh sembilan tangkai bunga mawar di tangannya. Bukti cintanya.


Nathan menatap tajam pria yang begitu berani itu, dia sedikit salut. Dirinya yang sudah dewasa bahkan belum berpikir seperti itu. Tentu bukan Nathan tidak mau tapi menurutnya Arin masih terlalu muda untuk memikirkan cinta-cintaan. Masih banyak urusan yang harus Arin selesaikan. Nathan hanya perlu ada selalu di samping gadis itu, melindung dan membuatnya nyaman. Hingga suatu saat nanti bukan bunga lagi yang akan ia berikan tapi sebuah benda yang berbentuk lingkaran yang akan tersemat di jari manis Arin.


Tapi Nathan juga tidak mencegah apa yang Rezza lakukan karena ia yakin kalau perasaan Arin hanya untuknya. Kalau mungkin Arin menerima pemuda itu jadi kekasihnya, ia yakin tidak akan bertahan lama. Arin butuh sosok yang bisa mengayomi dan melindunginya bukan yang hanya bisa menyanyikan sebait lagu cinta.

__ADS_1


"Hah, itu dia Dinda. Laa dia mau kemana, apa dia tidak melihatku disini," gumam Arin sambil berjinjit-jinjit melihat Dinda.


Dinda ingin segera pergi dari tadi tapi kepalanya terus berdenyut. Dia harus berjalan pelan-pelan dan menerobos keramaian. Matanya juga sedikit berkunang-kunang.


'Ah pusing sekali dan kenapa juga sang gerah. Apa karena aku belum makan apa-apa sejak tadi. Bagaimana aku mau makan kalau mereka terus saja memerintahku.'


"Aww!! Apa kau tidak punya mata? Apa kau buta! Dasar orang miskin! Lihat ini gaunku basah karenamu ." Seseorang tiba-tiba memaki Dinda.


Rupanya Dinda yang sedang pusing setengah mati itu tidak sengaja menabrak seorang nona muda. Dia sudah sangat pusing tidak mendengar lagi apa yang mereka teriakkan padanya.


"Maaf saya tidak sengaja," katanya dengan memegangi kepalanya.


"Kau itu tidak pantas ada disini, gara-gara kau kampus kita jadi turun reputasinya. Enyahlah!" Wanita itu dengan tega menendang perut Dinda yang tergeletak di lantai.


Mendengar keributan, semua orang jadi penasaran dan tidak lagi memperhatikan Rezza. Mereka mengerumuni para wanita yang sedang merundung Dinda hanya karena ketidaksengajaan. Ada juga sekelompok berandal yang tertawa menikmati itu. Mereka sudah punya niat buruk dengan memasukkan obat ke dalam minuman Dinda. Bahkan dengan teganya membiarkan Dinda di perlakukan seperti itu.


"Ada yang dipukuli disana. Ayo lihat."


"Sepertinya anak kampungan itu sudah mencari masalah pada si Riska and the gang. Mereka kan suka sekali menindas orang."


Deg. Arin yang mendengar hal itu langsung khawatir karena tadi ia melihat Dinda ada di sebelah sana. Dan yang mereka maksud anak kampungan itu pasti Dinda. Arin sungguh merasa sangat bersalah kalau sampai terjadi apa-apa pada Dinda. "Dinda ...," lirih Arin.

__ADS_1


Sementara Rezza saat ini sudah berada tepat di depan Arin. Dia tidak mendengar ada ribut-ribut, pikirannya terlalu fokus pada tujuannya. Dia sudah bersiap mengatakan semuanya pada Arin.


"Arin ... a--aku ...," ucapnya dengan gugup.


"Za itu Dinda, Dinda ada di sana. Kita harus membantunya," panik Arin. Dia langsung menuju ke kerumunan itu.


Rezza melongo tapi sedetik kemudian dia berbalik dan menahan Arin untuk pergi. Tujuannya belum tercapai bagaimana bisa gagal lagi.


"Tunggu, kau mau kemana? Aku mau mengatakan sesuatu," kata Rezza.


"Lepas Za! Yang penting sekarang adalah menyelamatkan Dinda. Kau mau bicara nanti saja." Arin langsung menarik tangannya dan pergi menjauh.


Rezza hanya bisa melihatnya dengan tatapan nanar. Dia belum juga mengatakan tapi Arin sudah menghempaskannya.


"Dasar bocah tidak peka. Mau mau mengatakan cinta tidak diwaktu yang tepat sama sekali." Nathan tidak menertawakan Rezza, dia hanya tersenyum miris. Lalu menyusul Arin. Tapi sebelumnya dia sengaja menabrak bahu Rezza yang sedang mematung.


"Apa kau akan tetap disini dan tidak membantu Arin." Nathan menyadarkan pemuda yang sudah berpengalaman sangat rapi itu.


Di kerumunan itu Dinda sudah tidak berdaya. Tidak bisa melawan tubuhnya sudah pasti penuh luka dan memar. Hanya bisa berharap semoga ada yang mau menolongnya atau mungkin mereka yang memukulinya lelah dan bosan jadi berhenti.


"Dinda!!" pekik Arin, dia langsung berlari menghadang mereka yang mau melukai temannya. "Apa yang kalian lakukan padanya? Kenapa kalian tega melakukan hal sekeji ini pada orang yang sudah tidak berdaya!" Seru Arin. Dia tidak bisa menahan emosinya melihat temannya dianiaya orang-orang itu. "Kalian akan berhadapan denganku, aku akan mengingat wajah kalian."

__ADS_1


__ADS_2