Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bonus chapter sayang


__ADS_3

Arin merenung di dekat jendela kaca, sambil memandangi padang gurun dan bukit-bukit berbatu di depannya. Ya, sudah seminggu dia dan suami tercinta berbulan madu di sebuah hotel mewah yang ada di Amerika serikat. Tepatnya di kawasan Grand canyon, di hotel Arimbi. Salah satu hotel termahal di Amerika serikat, dengan biaya menginap permalamnya bisa mencapai 50 juta. Banyak artis Hollywood menghabiskan waktu di sana, itu seperti tempat yang ingin dikunjungi banyak orang.


Tidak hanya hotelnya yang menjadi daya tarik karena berdiri di tengah-tengah gurun pasir tapi alamnya juga menyimpan sejuta keindahan yang pastinya akan memanjakan mata.



Dan itu adalah tempat di mana pada waktu itu seluruh keluarga Arin ingin kunjungi dan berlibur ke sana. Impian liburan keluarganya. Namun di tengah perjalanan pesawat yang mereka tumpangi terjatuh dan menewaskan seluruh penumpangnya termasuk pilot dan pramugarnya. Kini dia sudah berdiri di sana, mengabulkan keinginan terakhir keluarganya.


"Sayang, kau melamun lagi." Nathan yang baru selesai mandi menghampiri sang istri kecilnya. Lalu memeluknya dari belakang.


"Tidak Kak, aku sedang bahagia. Aku seperti merasakan keluargaku sedang tersenyum karena aku bisa sampai di sini dengan selamat."


"Ohh sayang, mereka pasti sangat bangga padamu. Kau sudah bisa melawan trauma mu demi bisa ke sini. Perjuanganmu tidak mudah, mereka pasti akan bangga."


Memang faktanya, butuh berbulan-bulan untuk Arin. Agar bisa terbang menaiki pesawat ke negara itu. Meski sebelumnya dia sudah pernah tapi ini berbeda. Selain waktunya yang panjang, dia juga terbayang-bayang keluarganya. Itu yang membuatnya tidak mudah, dia harus berkonsultasi pada psikiater terus-menerus. Melakukan terapi untuk menghilangkan rasa takutnya.


"Terimakasih Kak, kalau bukan karena kakak yang selalu mendampingiku. Aku tidak akan mungkin bisa sampai di sini," ujar Arin.


"Tidak perlu berterimakasih sayang, itu sudah kewajibanku sebagai suamimu. Aku akan selalu ada untukmu, kita akan melalui apapun bersama. Tetaplah bergantung padaku, Arinku."

__ADS_1


Nathan sangat mencintai sang istri, dia tidak pernah absen menemani Arin saat melakukan terapi. Dia ingin sekali mewujudkan keinginan sang istri. Bahkan dia juga rela menunda mendapatkan momongan karena akan beresiko pada janinnya jika tiba-tiba Arin tidak bisa mengontrol dirinya saat penerbangan.


Arin berbalik menghadap suaminya, laki-laki yang begitu ia cintai. Bukan hanya selalu ada untuknya, tapi Nathan adalah hidupnya. Tanpa Nathan, entah apa jadinya Arin sekarang. Mungkin masih terkurung dalam kesedihan.


"I love you." Satu kalimat yang sangat berarti pagi setiap pasangan.


"I love you more." Nathan mendekatkan wajahnya, mencium bibir ranum istri kecilnya.


Ciuman yang begitu dalam, ungkapan hati mereka.


"Terimakasih selalu ada untukku, jangan bosan denganku yang selalu merepotkan," ujar Arin setelah ciuman itu berakhir.


"Tidak akan, aku tidak akan pernah bosan. Teruslah merepotkanku, karena aku suka saat kamu merepotkanku."


Satu persatu Nathan menyusuri tubuh sang istri yang ada di bawahnya. Bathrobe yang dikenakan sang istri pun sudah terlepas dengan mudahnya.


"Aagghh kakakkkk ...." Decapan dan erang*n memenuhi kamar itu saat Nathan mulai tidak bisa mengendalikan diri setiap kali melihat tubuh polos sang istri.


"Sayang, sekarang apa aku boleh melakukannya tanpa pengaman?" tanya Nathan dengan raut wajah yang sudah berkabut.

__ADS_1


Arin membelai wajah suaminya lalu mengecup bibirnya sekilas. "Tentu Kak, aku juga ingin segera memiliki baby. Lakukanlah tanpa itu mulai sekarang. Kita akan pulang dengan membawa kabar gembira untuk semua orang."


"Terimakasih, Arin." Laki-laki itu sampai terharu mendengarnya. Sekarang dia akan berusaha sekeras mungkin untuk memiliki baby.


Nathan menghujani wajah Arin dengan kecupan, lalu untuk pertama kalinya dia memasukkan miliknya tanpa pengaman.


"Kakak aagghh perlahan ..."


"Aahh maaf sayang, aku tidak bisa menahan perasaan yang luar biasa ini." Terus melanjutkannya dengan semangat yang menggebu-gebu.


Peluh dan keringat menjadi saksi, benih-benih cinta mereka tercipta di Grand canyon. Nathan akan membuat anak, Made in Amerika.


"Terimakasih sayang." Nathan menarik tubuh sang istri yang lemas ke pelukannya.


Entah berapa kali pria itu menanamkan benihnya dalam rahim sang istri. Ia berharap akan segera memanennya setelah pulang dari sini.


"Aku lelah ..."


"Tidurlah sayang, aku akan selalu menemanimu."

__ADS_1


"Terimakasih Kak, terimakasih sudah memilihku menjadi istrimu. Aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintai mu, Sayang."


__ADS_2