Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 47


__ADS_3

Dokter sudah selesai menjahit beberapa luka di tubuh Dinda. Tapi karena pengaruh obat itu membuat gadis itu masih belum sadarkan diri. Mungkin butuh beberapa saat lagi. Tapi untungnya dia sudah dipindahkan ke ruang rawat. Jadi Arin dan yang lain bisa melihatnya.


Arin menutup mulutnya, matanya sudah berair dan mulai mengalir saat melihat sendiri bagaimana keadaan Dinda yang penuh perban dan luka lebam. Ini sudah bukan hal yang sepele dan bisa dimanfaatkan begitu saja. Ini sudah masuk dalam tindak kejahatan. Mereka yang melakukan hal itu pantas mendapatkan hukuman yang setimpal.


"Din--Dinda ...." Arin sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kejadian ini pasti juga tidak hanya meninggalkan luka fisik tapi mental gadis itu pasti bisa terpengaruh.


Nathan yang melihat Arin begitu terpukul langsung merangkul bahunya. Dia tidak bisa membiarkan gadis berambut sebahu itu terus-menerus merasa bersalah.


Rezza juga ada di sana. Melihat kedekatan Arin dan pria menyebalkan itu membuatnya sadar kalau pria itu memang yang paling pantas ada di samping Arin. Tidak seperti dirinya yang tidak berbuat apa-apa saat sesuatu terjadi.


"Dinda! Dia bangun Kak. Dinda bangun." Arin melihat jari-jari tangan Dinda bergerak. Ia langsung berlari ke arah brangkar.


Rezza dan Nathan ikut mendekat. Ingin tau juga.


"Dinda, kau mendengarku? Din, bangunlah. Sadarlah ..." lirih Arin, dia mencoba memanggil Dinda agar segera sadar.


Kelopak mata Dinda perlahan bergerak, membuka matanya. Pertama yang ia lihat adalah wajah sahabatnya yang tampak begitu khawatir padanya.


"Dinda kau sudah bangun?" lega Arin. Dia langsung memeluk temannya itu. Sampai lupa kalau tubuh temannya penuh luka.


Dinda tersenyum dan sedikit meringis menahan sakit. Tapi dia juga tidak menolak pelukan itu. Dia juga sangat butuh pelukan hangat dari orang-orang yang menyayanginya.


"Hai, Arin jangan seperti itu. Kau bisa menyakitinya." Nathan menarik tubuh Arin.

__ADS_1


"Ah maaf aku terlalu senang. Bagaimana denganmu Dinda. Apa ada yang tidak nyaman?" tanya Arin. Lalu beralih pada Rezza. "Hai kenapa kau diam saja, cepat panggilkan dokter." Perintah Arin.


"I--iya, aku akan memanggil dokter." Rezza langsung melesat keluar.


Dia masih bisa tersenyum melihat mereka. Ah dia jadi ingat saat Rezza mau menyanyikan lagu romantis untuk Arin. Mungkinkah mereka saat ini sudah resmi berpacaran. Tapi kemudian dia sedikit mengingat rasa sakit dan hinaan dari teman-teman kampusnya. Senyumnya meredup kemudian.


"Maafkan aku, Dinda. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu di sana. Seharusnya aku tetap bersamamu. Maafkan aku ...." Arin menggenggam tangan Dinda yang masih tidak punya tenaga.


Dinda tersenyum pada gadis cantik itu, ini bukan salahnya. "Kak Arin tidak perlu meminta maaf. Kak Arin sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi denganku. Aku justru berterimakasih karena kak Arin sudah menolongku."


Arin tidak tahan untuk menangis. Dia menggenggam tangan Dinda, walaupun ingin memeluk tapi tidak bisa dan tidak ingin membuat gadis yang terbaring lemah itu kesakitan.


Tiga hari berlalu.


Waktu Dinda masih belum bisa makan sendiri juga Rezza yang menyuapi. Saat ke kamar mandi juga, tapi tidak saat membersihkan diri karena ada perawat wanita yang akan membantu.


Arin datang sesekali bersama Nathan, jika pria itu sedang tidak sibuk. Dan masalah orang-orang yang membuat Dinda seperti itu sudah dibereskan oleh Rezza. Dia tidak mau mengampuni mereka, dengan bukti visum dan rekaman cctv sudah cukup untuk membuat mereka jera.


"Kau mau kemana?" tanya Rezza, dia baru saja keluar membeli makanan.


Dinda tidak ingin merepotkan orang lain lagi. Terlebih orang itu adalah Rezza yang notabene adalah kekasih temannya sendiri. Dia ingin berusaha melakukan apapun sendiri seperti saat ini, dia ingin buang air kecil dan berusaha berjalan sendiri.


Gadis itu menggigit bibir, menahan sakit. "Aku mau ke kamar mandi, Kak," ujar Dinda.

__ADS_1


"Kenapa tidak menunggu ku." Meletakkan makanannya lalu berjalan ke Dinda. "Sini aku bantu," katanya.


"Tidak perlu kak, aku sudah bisa sendiri. Kak Rezza makan saja," tolak Dinda.


Rezza menatap sebentar lalu mengangguk, dia juga tidak ingin memaksa gadis itu dan membuatnya jadi tidak nyaman. "Kalau butuh bantuan katakan saja. Aku ada di sini," katanya kemudian.


Gadis itu tersenyum sayu, bisakah dia merasa senang sedikit karena mendapatkan perhatian dari orang yang ia suka. Tidak, itu tidak boleh. Ingat Dinda, Laki-laki itu adalah kekasih temanmu.


Rezza pun membuka bungkusan makanannya dan mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya. Tapi matanya tetap memperhatikan gadis yang sedang berjalan tertatih itu. Kelihatan jelas kalau dia masih kesulitan tapi sekali lagi Rezza tidak ingin memaksa. Mungkin gadis itu merasa tidak enak atau apa.


'Huh akhirnya sampai juga," batin Dinda saat ia sudah ada di depan pintu toilet. Itu bagus, mungkin besok sudah bisa minta pulang dan tidak ada yang perlu ia repotkan lagi.


Dinda memang sengaja tidak memberitahu keluarganya. Ibunya sakit-sakitan, ayahnya hanya butuh tani. Dia tidak ingin menyusahkan mereka dan terutama tidak ingin membuat mereka kepikiran.


"Din ... kau baik-baik saja. Apa terjadi sesuatu?" tok tok tok. Rezza mengetuk pintu toilet karena sudah hampir setengah jam dia berada di sana. "Halloo Dinda, kau baik-baik saja kan. Katakan sesuatu kalau kau baik-baik saja," kata Rezza lagi. Dia masih berdiri di depan pintu.


Nyatanya memang saat ini Dinda sedang tidak baik-baik saja. Setelah kejadian itu dia jadi banyak memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ya, dia berpikir akan keluar dari kampus itu. Tapi dia juga memikirkan orang tuanya yang pasti akan sangat kecewa padanya. Memang berkuliah di sana adalah pilihan yang tepat dan masa depan pasti terjamin, bisa dapat pekerjaan dengan mudah dan bisa merubah kehidupan keluarganya. Tapi kalau harus menghadapi mereka para orang kaya itu setiap hari ia tidak tau sampai kapan bisa bertahan.


"Iya kak, sebentar lagi." Dinda langsung menutup mulutnya saat terisak. Tidak ingin Rezza mendengarnya.


"Baiklah aku tunggu, kalau sebentar lagi tidak keluar juga. Aku akan menyuruh perawat untuk membuka pintu ini dengan kunci lain." Rezza melipat kedua tangannya dan menyender di dinding dekat pintu. Mendesah panjang, dia sebenarnya juga tau kalau setiap malam gadis itu menangis sendiri. Ia bisa lihat saat tubuh gadis itu bergetar. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak begitu dekat.


Rezza panik saat...

__ADS_1


__ADS_2