
Arin dan Rezza sudah mencari Dinda ke tempat kosnya tapi dia tidak ada di sana. Kata penjaga kos, gadis itu belum kembali sejak beberapa hari yang lalu. Karena memang berita mengenai penganiayaan Dinda tidak diberitakan dimana-mana. Gadis itu sendiri yang minta karena tidak ingin orangtuanya tau.
"Kita cari kemana? Apa mungkin dia pulang ke rumah," tebak Rezza.
"Aku rasa tidak, dia tidak akan membiarkan orangtuanya khawatir. Mungkin memang saat ini dia butuh waktu sendiri. Kita harus memberinya waktu, biarkan dia tenang." Arin menduga saat ini temannya sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun.
"Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada padanya. Lukanya masih belum sembuh, dia mau kemana? Apa mungkin ada yang ia kenal atau saudaranya,' kata Rezza. Dia cemas memikirkan gadis itu. Apalagi saat teringat kalau Dinda belum benar-benar bisa berjalan. Uangpun sepertinya dia tidak membawanya. Kartu kredit berisi uang dari kompensasi pun ia tinggal di laci meja rumah sakit.
"Kau benar, tapi kita tidak bisa apa-apa. Kalau kita berusaha mendekat, yang ada dia akan pergi semakin jauh. Kita akan menunggunya saja. Kalau keadaannya sudah membaik pasti tidak akan menghindar lagi," kata Arin. Menurutnya temannya itu pasti butuh waktu untuk sendiri.
__ADS_1
Esok harinya. Sebuah kabar mengejutkan datang. Dinda Ternyata sudah mengundurkan diri dari kampus. Ya dia memutuskan untuk keluar dari kampus.
Saat ini Dinda sedang duduk dihadapan Arin dan juga Rezza yang sedari tadi menatapnya tidak percaya akan keputusan yang diambil gadis itu. Apa dia tidak memikirkan masa depannya. Bagaimana bisa melepaskan kesempatan sebagus itu, dimana sudah pasti dia bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus. Kalau pintar malah pasti akan diminta bekerja di perusahaan milik almarhum orang tua Arin.
"Emm ... apa kalian akan terus melihatku seperti itu." Dinda tidak enak ditatap begitu oleh dua orang itu.
"Katakan!" seru Arin. Tangannya dilipat di depan dada.
Dinda tersenyum meringis. Agak canggung dengan situasi itu. "Jujur awalnya iya, setelah memikirkan hal itu berulang kali aku merasa kalau memang aku tidak akan pernah cocok berada di kampus itu. Aku juga masih ingin menyelesaikan pendidikanku agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dam membahagiakan orang tua ku." Menjeda sesaat. "Tapi sayangnya saat aku minta dipindah ke kampus yang lain. Pihak kampus tidak bisa memindahkanku ke kampus lain. Jadilah memilih untuk keluar dan hidup tenang."
__ADS_1
Rezza dan Arin mendengarkan dengan baik. "Din, tapi berhenti kuliah itu adalah masalah yang sangat besar dan berpengaruh ada hidupmu. Bagaimana kau akan mengatakannya ada ke dua orang tua mengenai hal ini," Ujar Rezza.
"Aku tua dan aku minta pada kalian untuk tidak mengatakan apapun. Aku akan memberi tahu mereka saat aku sudah siap." Dinda memohon. "Kak Arin, kak Rezza. Terimakasih banyak atas apa yang sudah kalian lakukan untukku. Aku sangat beruntung bisa berkenalan dengan kalian."
Rezza dan Dinda tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa menghapus atau memengaruhi pemikiran seseorang agar mau menerima apa yang ia pikirkan. Ternyata tidak semua di dunia ini bisa diselesaikan dengan uang. Kadang ada sesuatu yang lebih membutuhkan air mata dan emosi sebagai cara menyampaikan perasaan mereka.
"Terimakasih, aku tidak akan melupakan jasa kalian. Suatu saat pasti aku akan membalasnya. Datanglah, kalau kalian butuh bantuan," kata Dinda sambil membungkuk tubuhnya sedikit beberapa kali.
Arin dan Rezza saling tatap lagi. Rezza sebenarnya kecewa akan keputusan gadis itu tapi apa yang gadis itu katakan ada benarnya juga. Sekarang dia hanya bisa berharap kalau gadis itu tidak menghindarinya lagi.
__ADS_1
"Baiklah, kami tidak bisa memaksamu. Tapi kau harus ingat. Kita ini teman. Jadi tolong jangan lakukan apapun yang mengejutkan seperti ini. Bicaralah jika ada sesuatu, ok??" Ujar Arin mengingatkan.
"Tentu, lain kali aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi." Ya karena mulai sekarang sebaiknya mereka tidak bertemu lagi.