Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 38


__ADS_3

Dengan terpaksa Nathan naik mobil berdua dengan Namira karena Omanya bilang ingin berdua dengan temannya ada yang ingin mereka bicarakan. Sungguh terasa janggal, toh mobil yang para nenek tumpangi ada sopirnya. Nathan berhasil dibodohi dengan rengekan Omanya.


Mereka tidak ada yang berbicara. Ya, untuk apa? Nathan merasa diantara mereka tidak ada yang perlu dibicarakan. Dia pikir juga ini adalah pertemuan pertama dan terakhir mereka. Kalau bukan karena berbagai alasan yang Omanya lakukan juga Nathan tidak akan mau berdua saja dengan wanita itu.


"Ehemmm ... Nathan, kata nenek kau lulusan universitas Oxford. Aku juga sama, kita seumuran dan kamu bisa lulus dua tahun lebih cepat dariku. Kau pasti sangat pandai," puji Namira. "Tapi kenapa kita tidak pernah bertemu disana, sayang sekali. Kalau bertemu pasti aku akan sangat senang punya teman dari negara yang sama. Aku juga bisa minta kamu mengajariku." Namira terus berbicara sendiri karena Nathan sama sekali tidak mengatakan apapun.


Nathan memang sempat melanjutkan S2 di luar negeri dan saat itulah pertama kalinya dia jauh dari Arin. Merasakan hari-harinya amat sepi tanpa gadis itu. Ia pikir saat tidak ada Arin dia akan jauh lebih tenang tapi ternyata Nathan justru merindukan harinya bersama Arin. Maka dari itu dia bekerja keras agar cepat lulus dan bisa kembali ke Indonesia.


"Kata nenek kau juga pandai bermain golf dan berkuda aku juga suka. Sepertinya kita banyak punya kesamaan, kapan-kapan kita bisa coba bertanding." Namira masih mencoba mengajak Nathan berbicara. Dia senang sekali bisa satu mobil dengan pria itu. Tadi dia juga diam-diam mengambil foto, meski wajah Nathan hanya terlihat dari samping tapi itu cukup membuat teman-temannya di sosial media iri dan menebak-nebak siapa pria itu. Tapi ada juga yang langsung bisa menebak kalau dia adalah CEO muda ternama.


"Kita tidak dekat jadi tidak usah berandai-andai, kalau bukan karena Oma mungkin juga kita tidak akan bertemu. Jadi mungkin ini adalah pertemuan kita yang pertama dan terakhir." Nathan menegaskan pada wanita itu agar tidak perlu berharap lebih.


Namira langsung diam. Laki-laki disampingnya sangat dingin, auranya saat mengatakan hal itu begitu menusuk. "Bisakah kita berteman, maksudku kita bisa saling mengenal kalau kita berteman," kata Namira, apa wanita itu belum jelas juga kalau Nathan tidak mau mengenalnya.


"Aku tidak berteman dengan seseorang yang tidak menguntungkan. Diamlah, kalau tidak mau aku turunkan di jalan. Telinga ku terganggu dengan suaramu." Ucapan Nathan membungkam mulut wanita itu dalam sekejap. "Dan satu lagi, aku tidak tau apa rencana Oma dan nenekmu. Yang aku lihat mereka ingin membuat kita dekat. Dengar baik-baik, jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan cara yang singkat untuk naik ke atas karena kalau sampai terjatuh akan sangat sakit. Tolak apapun rencana mereka kalau tidak mau apa yang kamu miliki lenyap dalam sekejap!" ujar Nathan penuh penekanan. Dia tidak main-main kalau sudah mengancam seperti itu. Hal yang sangat mudah menghancurkan karir seseorang.


Namira tidak menyangka kalau laki-laki disampingnya begitu menakutkan. Apa mungkin dia bisa kehilangan apa yang ia miliki saat ini.


Sementara di mobil lain, Oma Wina dan nenek Dona pikir para cucu mereka kini semakin dekat dan rencana mereka berhasil. Mereka tidak tau saja kalau saat ini Namira tidak bisa berkutik. Bahkan dalam mobil itu terasa sesak.


Sampai di lokasi. Para nenek tersenyum senang melihat cucu-cucu mereka. Tidak sabar ingin tau sejauh mana mereka dekat.


Nathan berjalan dengan santai ke arah Omanya. Memakai kacamata hitam untuk menutupi silau matahari. Kelihatan sangat tampan.

__ADS_1


Sementara Namira berjalan dengan langkah gontai. Dia teringat ancaman demi ancaman yang dikatakan Nathan padanya. Sepertinya jika ia dan neneknya tetap ada di sana akan gawat. Neneknya bisa saja terus memaksanya agar mendekati pria itu. Dia harus cari alasan agar bisa segera pergi dari sana.


"Nenek, sepertinya aku sedikit tidak enak badan. Aku tidak bisa ikut bermain," ujar Namira pada neneknya.


"Kau kenapa sayang, bukankah tadi masih baik-baik saja. Bagaimana bisa tiba-tiba sakit?" tanya nenek Dona curiga.


"Ah itu sepertinya aku datang bulan nek, jadi sedikit pusing dan tidak nyaman." Wanita itu memegangi perut dan kepalanya.


"Kenapa datang disaat seperti ini, kalau begitu ayo kita pulang," ajak nenek Dona.


"Tunggu, Don. Bagaimana dengan rencana kita bermain golf. Padahal aku sudah menunggu lama kesempatan bermain bersama," cegah Oma Wina.


"Mau bagaimana lagi, Win. Cucuku sakit, tidak mungkin aku tetap memaksanya untuk menemani kita. Aku akan membawanya pulang, lain kali kita bertemu lagi." Entah mengapa nenek Dona merasa ada yang aneh dan ia ingin tau ada apa sebenarnya. Ditambah dia kesal saat melihat Nathan yang sangat acuh pada mereka.


"Bagaimana kalau cucuku saja yang mengantar, kita bisa main disini," saran Oma Wina. Nathan diam saja dia menunggu reaksi wanita itu, apa masih berani atau tidak.


"Kenapa nak, sama saja kan pulang dengan Nathan," ujar nenek Dona lalu berbisik, "Ini kesempatan yang bagus, kenapa kamu tolak."


"Tidak nek, sebaiknya kita pulang sekarang."


"Bagaimana nak?" tanya Oma Wina lagi.


"Biarkan saja kalau tidak mau Oma. Lagian aku juga ingin menghabiskan waktu bersama Oma bukan dengan orang lain. Untuk apa kita mengurus mereka." Setelah mengatakan hal itu Nathan berlalu pergi.

__ADS_1


Oma Wina merasa sangat tidak enak pada temannya. Ia pikir hubungan cucunya dengan Namira sudah sangat dekat tapi kenapa jadi seperti itu.


Akhirnya mereka pulang, Namira pun memperingati neneknya agar tak lagi menjodohkannya dengan Nathan. Ia tidak ingin apa yang ia miliki hancur dan perusahaan orangtuanya juga bisa terancam.


Tak lama Oma Wina dan Nathan juga pulang setelah membeli beberapa buah segar yang mereka petik. Nathan justru menikmati momen itu dengan Omanya.


"Jujur pada Oma, apa yang terjadi padamu dan Namira saat di mobil. Kenapa tiba-tiba dia minta pulang?" tanya Oma.


"Kenapa Oma mencurigai cucu Oma sendiri dan lebih membela orang lain."


"Bukan begitu nak, tapi Oma tidak enak pada nenek Dona. Oma yang meminta bertemu tapi apa yang terjadi, kau malah membuat mereka marah."


"Aku tidak mengatakan apapun, aku juga tidak masalah kalau menemani Oma bertemu teman-teman Oma. Tapi aku tidak suka kalau Oma mencoba menjodohkan ku dengan cucunya."


Oma Wina kaget, ternyata cucunya sudah tau apa rencananya. Ya dia lupa kalau cucunya adalah orang yang pintar. Kalau tidak pasti dia akan mudah tertipu dalam berbisnis.


"Ya Oma memang berniat menjodohkanmu dengan Namira. Dia wanita yang baik, cantik, pintar dan mandiri. Oma menyukainya, dia pasti akan sangat cocok jadi cucu menantu Oma." Oma Wina berkata jujur.


"Banyak wanita seperti itu di perusahaan Oma. Di luar juga banyak. Tapi aku sama sekali tidak tertarik pada mereka. Jadi jangan sekalipun Oma coba menjodohkanku dengan wanita manapun. Kalau tidak aku akan pastikan kalau Oma tidak akan bisa bertemu denganku lagi. Apa Oma mau itu?"


"Kau mengancam Oma?!" seru Oma Wina.


"Aku tidak mengancam Oma. Hanya memperingati, aku bisa membuat Oma tidak bisa pergi dari Singapura kalau mau." Nathan tidak main-main dengan ucapannya.

__ADS_1


"Ini pasti karena gadis itu, gadis itu sudah mempengaruhi pikiranmu. Kemarin Febby mommy mu yang terus membela gadis itu, sekarang kau juga mengancam Oma karena gadis itu kan?" oma Wina menangis meraung-raung. "Oma sudah tidak ada artinya lagi untuk kalian. Oma lebih baik mati saja dari pada tidak ada yang menginginkan Oma lagi. Hiks hiks hiks ...."


Nathan pusing sendiri menghadapi Omanya.


__ADS_2