Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 64


__ADS_3

Setelah makan malam, Nathan mengajak Arin untuk berdansa dengannya. Diiringi musik syahdu, kaki-kaki mereka bergerak seirama.


"Apa kau suka kejutan yang aku buat?" tanya Nathan pelan karena memang jarak mereka berdekatan.


"Suka, kakak sudah berhasil membuat suasana yang romantis. Terimakasih. Tapi jangan kira karena ini semua aku bisa melupakan kekesalanku pada kak Nathan."


Nathan menaikkan alisnya, berpikir sejenak apa yang membuat sang gadis kesal. Sepertinya dia sudah tau jawabannya.


"Apa karena sebulan ini aku tidak datang melihatmu? Maaf tapi aku benar-benar sibuk akhir-akhir ini. Kau tau sendirikan kalau bukan hal yang mudah meyakinkan para pemegang saham untuk memihak padamu. Aku dan Dad butuh banyak sekali bukti yang bisa digunakan untuk menekan mereka." Nathan sedikit menjelaskan.


Arin diam saja, sungguh masalah perusahaan memang merepotkan. Maka dari itu sejak dulu sebenarnya dia tidak ingin terlibat hal seperti itu.


"Kenapa diam saja, masih marah? Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah lagi?" kata Nathan.


"Hemm ... kalau kalian sudah tau urusan pekerjaan itu tidak mudah dan membuatku kesulitan kenapa harus menyerahkanku tanggung jawab sebesar itu. Kenapa ayah dan kakek harus meninggalkanku secepat itu dengan tanggung jawab yang begitu besar." menunduk sedih. Tidak mudah bagi Arin, belajar beberapa tahun di luar negeri saja sebenarnya masih menyulitkan Arin dengan semua data perusahaan yang selama ini dia pelajari. Di luar negeri Arin menghabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, saat weekend pun Nathan datang membawa berkas perusahaan yang harus Arin pelajari.

__ADS_1


Melihat gadisnya murung membuat Nathan mencari cara. Malam itu harusnya tidak seperti itu ceritanya. Dia menarik tubuh Arin semakin mendekati hingga dada mereka bertabrakan.


"Itu berarti karena kamu memang gadis yang kuat dan tangguh. Mereka yakin kalau kau mampu menjalankan kerajaan bisnis ayah dan kakekmu, Arin. Tidak ada yang perlu dicemaskan, ada aku dan Dad yang akan selalu ada untukmu. Paham?"


Arin mengangguk. Mereka lanjut berdansa.


"Ada satu kejutan lagi, bersiaplah," bisik Nathan tiba-tiba di depan wajahnya. Mata Arin sampai beberapa kali mengerjap karena tertampan pria itu hampir saja membuat dadanya terasa sesak.


"Perlukah sedekat itu untuk berbicara, apa kak Nathan tidak sadar kalau pesonanya hampir membuatku pingsan," omel Arin dalam hatinya.


Sedetik kemudian, sesuatu yang terang tiba-tiba menghiasi langit diatas bangunan gedung itu. Arin melepaskan pelukannya dan melihat cahaya terang itu lebih dekat. Dia hampir tidak percaya dengan semua itu. Dirinya terlalu takjub melihat keindahan kembang api yang menghiasi malam itu.


"Lihat di sana." Nathan menunjuk arah langit yang dihiasi kembang api dan tiba-tiba satu kembang api menyala dan membentuk satu kalimat.


"I ♥️ U," baca Arin dalam hati. Arin tidak bisa berkata apa-apa lagi, perasaannya saat ini tidak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Bahagia sekaligus terharu menjadi satu.

__ADS_1


"Arin ...." Nathan memanggil Arin yang masih terkejut.


"Kak ... apa yang kau lakukan!" Arin menutup mulutnya karena terkejut saat melihat Nathan sudah berlutut di hadapannya.


Oh tidak, jantung tolong bekerjasamalah. Jangan sampai gadis itu pingsan sebelum semuanya selesai.


Nathan tidak menjawab, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi sebuah cincin di dalamnya.


"Maaf karena aku membuatmu menunggu terlalu lama. Maaf karena aku baru melakukannya sekarang. Arin Putri Hermawan, maukah kau menikah denganku?"


"Kak ... kau ... hiks hiks hiks, huaaaa ....." Di luar dugaan, Arin malah menangis sejadinya.


Nathan jadi bingung sendiri, kenapa gadis itu malah menangis setelah ia lamar.


"Hai kamu kenapa, Arin. Kenapa kamu menangis?" panik Nathan karena tangisan Arin semakin kencang.

__ADS_1


"Huaaaa ... kakak jahat ...." Arin memukuli dada Nathan. "Kakak jahat, kakak jahat!! Kenapa baru melamarku sekarang, aku sudah menunggu bertahun-tahun hanya untuk mendengar kalimat itu keluar dari mulut kakak. Aku bahkan sampai menyuruh kakak lebih dulu untuk menikahiku tapi saat itu kakak tidak mau. Kakak jahaaattt!!"


Cup.


__ADS_2