
Arin dan Dinda diajak Rezza untuk ikut merayakan kemenangan tim basket kampus mereka. Banyak anak-anak yang lain juga datang. Rezza sengaja membooking satu tempat di sebuah cafe di kawasan Jakarta Selatan khusus untuk teman-temannya. Semuanya Rezza yang membiayai. Teman-temannya dengan senang hati makan dan minum sepuasnya.
Arin tampak canggung duduk diantara teman-teman Rezza. Dia tidak biasa berinteraksi dengan banyak orang. Untung saja ada Dinda yang duduk disebelahnya.
"Hai Arin, akhirnya kita bisa duduk dalam meja yang sama." Salah satu dari mereka menyapa Arin. Mereka sangat suka ada Arin di sana karena sebenarnya mereka lama mengagumi sosok Arin tapi tidak berani menyapa karena Arin sangat pendiam.
"Ah iya, terimakasih karena sudah mengijinkan aku ikut bersama kalian." Arin tersenyum ramah dan hal itu tentu saja membuat para laki-laki terpesona karena baru pertama Arin tersenyum pada mereka.
"Santai saja, kami semua teman. Kau nikmat saja perayaannya. Rezza yang membuat perayaan ini tentu saja kau harus datang," kata laki-laki yang lain .
Berbeda dengan Dinda, sejak tadi tidak ada yang mempedulikannya. Mereka sibuk bercengkrama dengan para teman dan gadis yang setara. Ya, hanya Arin yang sejak tadi mengajaknya mengobrol. Dinda tau diri, mereka mana mungkin mau menyapa atau mengobrol dengannya karena Dinda tidak selevel dengan mereka.
"Din, kau mau apa. Biar aku ambilkan," ujar Arin yang duduk di samping gadis berkepang itu.
"Iya kak, nanti saja aku ambil sendiri." Dinda mana berani menyuruh Arin. Bisa habis dia kalau Rezza tau.
"Oh iya, dimana anak itu. Sudah mengajak kita kesini tapi malah menghilang," gumam Arin tapi masih bisa didengar Dinda.
"Sepertinya tadi kak Rezza ada urusan, dia buru-buru keluar tadi."
Arin paham dan menganggukkan kepalanya.
Makin lama yang datang makin banyak, anak-anak dari kalangan atas yang jelas, bisa dilihat dari gaya dan pakaiannya yang berkelas. Untung saja penampilan Dinda tidak begitu memalukan saat ini, karena Arin yang meminjami gaunnya. Ya sekilas Dinda tampak seperti mereka para anak-anak orang kaya.
__ADS_1
Banyak yang menyapa Arin dan mengajaknya mengobrol. Gadis-gadis yang biasanya berlagak dengan kekayaannya juga mencoba mendekati Arin. Mereka tau sedikit tentang Arin yang ternyata adalah anak dari pemilik perusahaan yang jadi donatur terbesar di kampus. Cari muka pada Arin karena merasa gadis itu layak dijadikan teman, yang berteman dengan Arin bisa jadi top.
Sementara tidak ada satupun yang sekedar bertanya pada Dinda. Dia duduk sendiri sambil mendengarkan musik yang ada. Ada satu band kampus yang sedang menunjukkan performanya di panggung. Menyanyikan lagu-lagu romantis dan patah hati khas anak muda.
"Hai kamu, tolong ambilkan minuman di sebelah sana," perintah salah satu teman Rezza pada Dinda.
Dinda cukup terkejut dan bingung apa laki-laki tadi bicara padanya.
"Kenapa diam saja, cepat sana ambilkan kami minuman lagi. Untuk apa kau disini kalau hanya duduk diam," katanya lagi.
"Maaf kak, tapi bukannya ada pelayan," ujar Dinda. Bukannya tidak mau tapi memang dia hanya akan menurut pada Rezza. Untuk orang lain tentu saja tidak berhak memerintahnya.
"Hai, kau itu bukankah sama saja seperti pelayan itu. Iya nggak bro?" tanyanya pada temannya yang lain.
"Iya, kau itu sama saja seperti mereka. Mau pakai pakaian sebagus apapun, tetap tidak bisa merubah itu. Cepat sana!" titahnya lagi.
"Tapi maaf kak, aku hanya akan patuh pada kak Rezza," jawab Dinda. Tidak mungkin kan Rezza sengaja menyuruh teman-temannya untuk melakukan itu.
Mereka tertawa mendengar perkataan Dinda.
"Rezza dengan kami sama saja, dia pasti setuju aku menyuruhmu. Apa kau kira Rezza tidak akan membiarkan kami menyuruh-nyuruhmu? Memang kau siapa sampai harus dibela oleh kapten kami. Bahkan kalau kami menyuruhmu untuk melayani kami di atas ranjang sekalipun pasti Rezza akan membiarkannya."
Tawa mereka benar-benar menyakiti hati Dinda. Bagaimana mungkin mereka berpikir seperti itu. Tubuh Dinda sudah bergetar menahan tangis. Rasanya ingin melempar wajah mereka semua dengan air didepannya tapi dia tidak ingin membuat acara Rezza berantakan. Arin juga tidak ada disana. Dia juga tidak ingin membuat Arin malu kalau membuat ulah.
__ADS_1
Dengan terpaksa Dinda menuruti perintah mereka mengambilkan minuman lalu ia tuangkan ke gelas mereka masing-masing. Sambil menahan sesak dalam dirinya.
"Hahaha ... nah gitu dong. Tau diri sedikit. Sudah menumpang makan dan minum gratis jangan lupa untuk melayani kami."
"Nanti kalau bagus, kita ajak bersenang-senang. Hahaha ...."
"Benar juga, tubuh dan wajahnya lumayan, sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan untuk mencari uang. Paling juga Gope mau dia. Hahaha ..."
Dinda ingin sekali melemparkan tempat air yang ia pegang pada wajah laki-laki itu. Sehina itu kah dirinya di mata mereka. Apa orang miskin juga tidak berhak dihormati. Tangan Dinda semakin erat menggenggam pegangan tempat minum.
Setelah itu Dinda langsung pergi dari sana, menjauh dari mereka yang begitu tidak berperasaan. Dia pergi ke sudut yang lebih sepi tidak banyak orang. Tidak apa dia sendiri dari pada diantara para manusia itu.
Di tempat lain. Rezza ternyata tengah sibuk mempersiapkan sesuatu. Dia sedang bersiap-siap untuk memberikan kejutan pada seseorang yang sangat spesial untuk dirinya. Sudah ada satu buket bunga mawar disana. Dia juga sudah memakai jas dan kemeja. Ingin menampilkan yang terbaik di depan orang spesial itu. Rencananya dia akan bernyanyi nanti, setelah itu barulah ia menyatakan cinta di depan teman-temannya. Bukankah itu romantis. Para gadis biasanya suka yang seperti itu.
"Bagaimana penampilanku, apa sudah sempurna?" tanyanya pada asistennya. Sebenarnya ajudan ayahnya yang ia pinjam kalau dia butuh apa-apa.
"Sangat sempurna tuan muda. Gadis manapun yang melihat pasti akan langsung jatuh cinta."
Rezza melihat dirinya di depan cermin. Memang sangat tampan tidak kalah dari Nathan menyebalkan itu. Mengingat Rezza hampir tidak pernah berpakaian formal, dia agak sedikit kaku. Tapi dengan hasilnya yang tidak mengecewakan itu dia tidak menyesal telah menggunakan pakaian itu.
"Baiklah ayo kita pergi sekarang." Rezza tidak akan menyetir sendiri.
Di cafe. Ternyata Dinda hanya bisa duduk tenang sebentar. Para teman-temannya tidak henti-hentinya menyuruh dan menyuruh hingga kaki Dinda yang menggunakan sepatu high heels terasa pegal dan perih di bagian atas tungkaknya.
__ADS_1
Ambilkan ini, ambilkan itu. Menunjuk itu, menunjuk itu. Dengan semena-mena, sampai membuat Dinda kewalahan.
Arin sebenarnya sudah mencari temannya sejak tadi tapi terus ditahan para gadis-gadis itu. Suasana yang ramai juga membuat Arin tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan Dinda.