
Hari ini hari keberangkatan Arin untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Sebenarnya dia sedikit punya trauma dengan ketinggian dan pesawat karena keluarganya yang tewas saat menaiki pesawat. Tapi sudah sebulan ini dia rutin berkonsultasi dengan psikiater dan beruntungnya Arin bisa lebih baik. Sudah tidak terlalu takut, meski masih ada sedikit.
"Hati-hati nak, jaga kesehatanmu di sana. Jangan sampai telat makan dan ingat untuk memberi kabar pada aunty." Febby adalah salah satu orang yang tidak setuju dengan keputusan Arin. Dia tidak ingin jauh dengan gadis yang sudah seperti anaknya sendiri.
"Iya aunty, aku akan mengingat pesan aunty. Aunty juga jaga kesehatan, aku pasti akan merindukan aunty." Arin memeluk Febby, yang paling dekat dengannya setelah keluarganya tiada. Rasanya berat berjauhan dengan orang-orang tersayang tapi kalau tidak dicoba dia tidak akan berani.
"Aunty juga akan merindukanmu, sayang. Jaga dirimu baik-baik." Febby mengusap kepala Arin penuh kasih sayang. Bahkan saat putranya akan pergi ke luar negeri, Febby tidak sesedih itu.
"Sudah mom, pesawatnya akan terbang sebentar lagi," dengus Nathan yang sejak tadi melihat drama tangis-menangis itu.
"Diamlah! Apa kau tidak tau kalau mommy sangat sedih karena Arin mau pergi." Febby menggerutu.
"Mom, Arin itu mau belajar dan akan pulang lagi saat sudah selesai. Kalau libur juga masih bisa pulang."
"Biarkan saja, pesawatnya juga pasti menunggu." Febby tidak peduli, dia masih ingin lebih lama lagi bersama Arin.
Nathan sudah bosan menunggu, ya meski mereka akan terbang menggunakan pesawat pribadi tapi menunggu adegan perpisahan mereka sungguh membuat jengah.
"Biarkan saja nak. Mommy mu itu sangat menyayangi Arin. Dia pasti banyak mencemaskan segala sesuatunya." Mike duduk di sebelah putranya.
Lia dan juga Sakka juga ikut mengantar, Lia sangat terharu melihat perpisahan antara Arin dan Febby. Tidak salah rupanya gadis itu dirawat oleh Febby. Temannya itu sangat menyayangi Arin. Mendiang Rara pasti bahagia karena putrinya begitu disayangi oleh orang-orang yang baik. Sedangkan Rezza tidak ikut, dia ada pertandingan basket.
"Sudah ayo," ajak Nathan. Akhirnya dia berhasil memisahkan mommynya dan Arin. Saat ini mereka menuju ke pesawat yang akan mereka tumpangi. Pesawat pribadi milik keluarga Arin.
Tepat saat menaiki tangga menuju pesawat. Arin berhenti, rasa takut itu kembali menjalar dalam dirinya. Membuat kakinya terasa lemas, apalagi perjalanan yang akan mereka tempuh itu cukup lama.
__ADS_1
"Ayo, tidak apa-apa ada aku." Nathan seakan tau apa yang dipikirkan oleh Arin.
Arin mengangguk lalu memberikan tangannya untuk digenggam oleh Nathan. Ya pria itu akan menemani sekaligus mengantarnya ke tempat tujuan Arin.
"Saat pesawat mulai terbang nanti peganglah tanganku, jangan lihat ke jendela kalau takut. Aku ada disini, tidak akan terjadi apapun," kata Nathan menenangkan Arin. Bisa ia rasakan saat ini gadis itu berkeringat dingin. "Pejamkan matamu saja dan berdoa agar lebih tenang," lanjutnya.
Arin paham, dia mulai berdoa sebisanya. Menghilangkan bayang-bayang kecelakaan yang menimpa keluarganya. Ya dulu saat kecelakaan itu terjadi banyak video amatir yang merekam detik-detik kecelakaan terjadi. Dimana pesawat itu jatuh hingga terbakar, bahkan ada yang merekam jasad-jasad korban yang kebanyakan telah hancur menjadi beberapa potong bagian. Ada juga yang terbakar habis dan hanya menyisakan tulang belulang. Sungguh hal itu yang selalu membayangi Arin. Bagaimana keluarganya tewas dengan cara seperti itu.
Arin mulai merasakan getaran yang cukup keras, sepertinya pesawat yang ia tumpangi sudah mulai bergerak. Dia terus berdoa memohon perlindungan pada-Nya.
Nathan juga tidak melepaskan genggaman tangannya, dia memperhatikan wajah Arin yang memucat tapi gadis itu berusaha sekuat tenaga melawan ketakutannya.
"Jangan takut, kita sudah aman. Bukalah matamu," kata Nathan saat mereka sudah ada di atas ketinggian dan sudah lebih tenang.
"Kau mau istirahat? Perjalanan kita masih panjang, sebaiknya kau tidur saja dulu. Di dalam ada kamar yang bisa kau gunakan untuk beristirahat."
"Bagaimana dengan kak Nathan?" tanya Arin.
"Aku akan disini, kau bisa memanggilku atau mereka kalau butuh sesuatu," tunjuk Nathan pada dua perempuan berseragam itu.
Arin menggeleng, "Aku disini saja dengan kakak."
"Apa kau aku temani, aku akan keluar saat kau sudah tertidur," ujar Nathan menawarkan.
Akhirnya Arin masuk ke dalam kamar yang ada di pesawat itu. Ditemani Nathan. Pria itu duduk di sebelah Arin yang berbaring sambil memegangi tangannya.
__ADS_1
"Tidurlah, jangan pikirkan apapun." Nathan mengusap kepala Arin.
Tak lama gadis itu memejamkan matanya, rasanya sedikit nyaman saat ditemani seseorang. Bahkan lebih nyaman dari pada tidur di rumah.
Nathan memandangi dan merapikan rambut Arin yang sedikit menutupi wajah cantiknya. Dilihatnya wajah yang begitu tenang dan polos saat tertidur. Kasihan sekali memang, bagaimana bisa seorang gadis seperti dia harus hidup seorang diri tanpa keluarga dan punya beban yang besar.
"Aku akan selalu menjagamu, tidak akan aku biarkan kamu terbebani dengan semua itu." Ya meski mungkin nanti Arin akan mengambil alih perusahaan tapi Nathan dan Mike akan tetap berada di belakangnya.
Beberapa jam kemudian. Pramugari memberitahukan kalau pesawat sudah mendarat dengan selamat di bandara. Nathan terbangun, nyatanya dirinya berakhir ikut tertidur disebelah Arin tadi. Saat dia ingin turun dari ranjang, tangannya terus ditahan oleh gadis itu. Jadilah dia memutuskan untuk ikut berbaring dari pada membangunkan Arin.
Saat membuka matanya ada wajah cantik Arin yang masih terlelap. Itu adalah pemandangan yang sangat indah untuknya.
"Apa kau masih mau tidur? Kita sudah sampai," bisik Nathan sambil mengusap pipi Arin dengan ibu jarinya.
Gadis itu bukannya bangun malah beringsut masuk ke pelukan hangat Nathan. "Eummm ... sebentar lagi, aku masih mengantuk."
Nathan tentu saja terkejut, setelah mereka dewasa baru pernah mereka sedekat itu di atas ranjang. Meski sesekali Arin nakal suka menyusup ke kamarnya tapi tidak sedekat itu. Rasanya sama saat mereka berciuman waktu itu. Degup jantungnya tidak bisa dikondisikan. Tangan Nathan bahkan memaku dengan posisi yang seperti tadi. Dia tidak tau harus berbuat apa saat ini. Apalagi saat Arin terus mendesak dan mencari kehangatan.
"Arin kita sudah sampai," kata Nathan, dia mencoba membangunkan gadis itu lagi.
"Nanti kak, aku masih mengantuk." Kini wajah Arin sudah menempel di dada bidang pria itu. Kalau bangun pasti dia bisa mendengarkan suara detak jantung pria itu.
"Ini nyaman ... uh ..." Meraba-raba tubuh Nathan tanpa sadar. "Hangatnya ..."
"Kau ...." Nathan sungguh tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
__ADS_1