Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 51


__ADS_3

Teman sekaligus pemilik coffee shop tempat Dinda bekerja menjelaskan kalau kemarin tiba-tiba saja Dinda mengundurkan diri. Tidak ada angin atau hujan, gadis itu tiba-tiba saja berhenti. Padahal sama sekali tidak ada masalah, gadis itu terlihat menikmati pekerjaannya. Gajinya pun cukup besar baginya yang baru bekerja tentu atas permintaan Rezza.


Kecewa, tentu saja. Rezza sudah berusaha menolong gadis itu tapi malah disia-siakan pekerjaan yang sudah jelas di depan mata.


"Mungkin Dinda mendapatkan pekerjaan lain. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak dulu." Arin mencoba menenangkan Rezza.


"Pekerjaan apa yang lebih baik, sudah jelas disana gajinya besar. Kenapa dia malah mengundurkan diri. Apa mau dia sebenarnya," tukas Rezza. "Kalau dia mau bekerja di kantor aku bisa saja melakukan itu untuknya. Aku akan minta papah memberikannya pekerjaan. Tapi dia tidak mungkin mau menerimanya kan?"


Rezza memukul setir.


"Lebih baik kita tanyakan saja langsung pada orangnya." Arin juga tidak tau apa yang terjadi pada temannya. Dihubungi juga tidak bisa. Kalau pun mengirim pesan hanya dibalas singkat. Tidak seperti dulu, mereka bisa curhat lewat telepon berjam-jam di malam hari. Padahal siangnya juga bertemu di kampus.


Akhirnya mereka sampai juga di tempat kos Dinda. Rezza memarkir mobilnya tetap di pinggir jalan. Mereka harus turun dan berjalan kaki sedikit.


Sampai di sana ternyata yang mereka cari sudah tidak ada. Kata pemilik kos, Dinda pamit kemarin dan tidak akan kembali lagi. Barang-barangnya juga sudah dibawa semuanya, bahkan hari ini bekas kamarnya sudah di tempati orang lain.


"Apa dia tidak mengatakan sesuatu sebelum pergi. Apa dia bilang mau kemana?" tanya Arin.


Ibu kos menggeleng. "Dia tidak mengatakan apa-apa, dia datang ke sini dan mengembalikan kunci kamar sekaligus pamit. Lalu pergi. Saat aku bertanya, dia bilang pergi ke tempat yang seharusnya."


Mereka berdua makin bingung dibuatnya. Ada apa dengan Dinda sebenarnya. Mungkinkah sudah terjadi sesuatu. Mereka pun memutuskan untuk pergi setelah tidak mendapatkan informasi apa-apa.


Arin coba menghubungi nomor telepon Dinda tapi ternyata sudah tidak aktif. Tadi pagi dia sempat mengirim pesan tapi hanya di baca dan sekarang malah nomornya sudah tidak bisa dihubungi.


"Dinda, kemana kamu sebenarnya? Kenapa tidak mengatakan apa-apa pada kami?" gumam Arin.

__ADS_1


"Kita harus mencarinya. Coba cari di rumahnya," Ujar Rezza.


"Tapi bagaimana kalau dia tidak ada dan malah membuat orangtuanya cemas?" cemas Arin. Dia tidak ingin melihat kedua orangtua Dinda jadi khawatir.


"Tenang saja kita tidak akan langsung bertanya dimana Dinda."


Arin mengangguk paham. Mereka pun segera pergi ke rumah Dinda. Siapa tau gadis itu ada di rumahnya.


Tapi sayangnya, mereka juga tidak menemukan siapa-siapa disana. Rumah itu bahkan sudah di jual pada orang lain. Dinda beserta orang tuanya sudah tidak ada di sana. Yang membeli rumah itu juga tidak tau dimana Dinda berada.


Seketika tubuh Arin dan Rezza terasa lemas. Mereka merasa tidak berguna sebagai sahabat. Tidak tau apa-apa tentang teman mereka yang mungkin sedang dalam masalah.


"Kemana lagi kita harus mencarinya?" tanya Rezza frustasi.


"Aku juga tidak tau. Dia tidak pernah bercerita tentang sanak saudaranya. Nanti aku akan coba minta tolong pada kak Nathan untuk mencari Dinda."


Satu tahun berlalu.


Arin sudah berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Bahkan mendapat penghargaan sebagai mahasiswi teladan. Dia juga sudah berhasil diterima di universitas terbaik di luar negeri. Nathan sangat mendukung keputusan Arin. Dia juga sudah menyiapkan semuanya, termasuk beberapa pengawal yang akan melindungi Arin dari kejauhan.


Sementara Sakka, dia juga banyak berprestasi di kampus. Belum lulus masih dua tahun lagi. Dia sedang giat-giatnya menekuni olahraga basket. Sudah banyak medali ia berserta timnya dapatkan dan mengharumkan nama kampusnya.


"Kau jadi pergi besok?" tanya Rezza. Mereka sedang berkumpul di rumah Febby. Merayakan kelulusan Arin sekaligus perpisahannya. Ada keluarga Rezza juga datang.


"Hmm ... aku tidak bisa terus menerus menghindari tanggung jawabku pada perusahaan peninggalan orangtuaku. Suatu saat aku harus tetap mengurusnya bukan." Arin mengayunkan kakinya yang tidak sampai ke tanah.

__ADS_1


"Iya, kau benar juga. Kau tidak bisa menghindari hal itu."


"Kau juga! Kau satu-satunya harapan kakek Bayu dan aunty Lia," sambung Arin.


"Hmm ... ya aku tau. Biarkan saja biar papah yang mengurusnya, kalau dia sudah tidak sanggup baru aku gantikan." Terserah menyeringai.


"Dasar anak durhaka, seharusnya kau menyuruh uncle Sakka beristirahat dan kau menggantikan tugasnya," cecar Arin, mengomentari pemikiran temannya.


"Bagaimana dengan dia, apa kau belum juga tau kabarnya?" tanya Rezza sambil meminum minuman bersoda yang ada di tangannya. Sangat pas dinikmati dengan daging panggang yang sedang dipanggang oleh Febby dan Lia.


"Bahkan orang-orang Kak Nathan sudah mencarinya tapi tidak ada jejaknya. Aku berharap dia baik-baik saja." Arin juga masih merasa kehilangan sosok Dinda yang setahun terakhir terus ia cari. Segala upaya sudah mereka lakukan tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Dinda.


"Ya, aku harap juga begitu." Rezza lebih tersiksa, ke dua kalinya dia tidak bisa mendapatkan orang yang ia suka. Setelah Dinda berhasil mengambil hatinya dia pergi tanpa kabar. Dia bahkan belum sempat meminta maaf atas segala sikapnya selama ini.


"Kalian sedang apa disini?" tanya seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.


"Kak Nathan? Tidak membicarakan apa-apa hanya sedang membicarakan waktu yang tidak terasa sudah berlalu begitu saja." Arin memandangi langit yang berhiaskan kemerlap cahaya bintang di atas sana. Mereka seperti keluarganya yang sedang mengawasinya dari tempat mereka.


"Disini dingin. Pakailah jaket ini." Nathan menyerahkan mantel tebal pada Arin untuk ia pakai.


"Terimakasih kak, oh ya aku mau ke sana dulu. Bergabung dengan yang lain." Setelah memakai mantel itu Arin pergi dari sana. Menyisakan Nathan dan Rezza di sana.


Nathan lebih mengikuti Arin, dari pada berdua disini dengan pemuda labil itu.


"Kapan kau mau meresmikan hubungan kalian. Dia mau ke luar negeri, apa kau tidak khawatir dengan itu?" kata Rezza tiba-tiba.

__ADS_1


Membuat langkah Nathan terhenti dan berbalik. "Bukan urusanmu! Aku tidak butuh saran darimu bocah labil!" dengus Nathan.


"Ck ... kau masih saja sombong. Aku hanya mengingatkanmu. Bagaimanapun Arin adalah gadis yang baik dan juga cantik. Siapapun pasti akan dengan mudah menyukainya. Sedangkan kau ada di sini, apa kau bisa terus mengawasinya?" ledek Rezza. Dia yang baru saja merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang sebelum menyatakan perasaannya hanya sedang mencoba mengingatkan. "Terserah kalau kau tidak mau dengar, saat itu terjadi aku akan menertawakanmu sekerasnya." Rezza berdiri dan pergi meninggalkan Nathan kesal.


__ADS_2