
Setelah sarapan Nathan mengajak Arin untuk pergi ke suatu tempat. Padahal semalam dia tidak mengetakan apapun, karena biasanya saat akan pergi berjalan-jalan atau sekedar menghabiskan waktu di rumah pria itu biasanya bicara lebih dulu.
Arin duduk tenang di kursi sebelah, menggunakan dress simpel yang nyaman dipakainya. Karena dia tidak tau tempat seperti apa yang akan mereka kunjungi. Dia melirik Nathan diam-diam, pria itu menggunakan kemeja berwarna biru muda. Membuat wajahnya tampak bersinar dan tampan tentunya.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan wajahku. Kenapa kamu terus memandangiku?" tanya Nathan yang sebenarnya tau kalau sejak tadi dipandangi oleh wanitanya.
Arin tersipu wajahnya, ketahuan mencuri pandang. Apa laki-laki itu tidak tau kalau wajahnya sangat enak di pandang. Boyband terkenal saja kalah tampan dari pria itu, ya menurut Arin begitu karena mereka tidak bisa digapai. Jadi Arin lebih menyukai Nathan yang jelas ada di dekatnya.
"Kak, sebenarnya kita mau kemana?"
"Nanti kamu akan tau, kamu percaya padaku kan?" tanya Nathan.
Walaupun terdengar aneh, tapi Arin tetap mengangguk. Memangnya mau kemana, sampai butuh kepercayaan segala.
Tak lama kemudian mereka sudah ada di tempat yang membuat Arin mengangkat kedua alisnya karena heran.
"Untuk apa kita ke sini kak?" tanya Arin.
Nathan turun lebih dulu untuk membukakan pintu untuk Arin. "Ayo turun, kamu akan tau jika sudah masuk."
Nathan menggandeng tangan Arin memasuki gedung itu. Yang seharusnya sepi di hari Minggu karena pekerjanya libur tapi karena Nathan. Mereka terpaksa tetap membuka kantornya. Sebenarnya dibilang terpaksa juga tidak karena Nathan akan memberikan mereka bonus karena sudah membuka kantornya di hari Minggu.
Para petugas menyambut kedatangan Arin dan Nathan, lalu mereka diarahkan ke ruangan yang sudah disiapkan.
"Ini kan hari Minggu, kenapa mereka tidak libur," pikir Arin.
"Silahkan Tuan." Pegawai itu mempersilahkan Nathan dan Arin untuk masuk.
Betapa terkejutnya Arin, karena ternyata tidak hanya mereka di sana tapi ada Febby, Mike dan keluarga Rezza juga di sana. Yang langsung menyambut kedatangan Arin dengan senyuman. Ini aneh, Arin masih belum mengerti. Dia sudah coba mencari jawaban pada semua orang tapi tidak juga mendapatkan jawaban.
Arin terus berjalan mengikuti Nathan menuju meja yang ada di depan. Lalu pria itu menyuruhnya untuk duduk di sana, berhadapan dengan dua laki-laki asing.
Semuanya berlangsung begitu cepat, bagaikan mimpi disiang bolong. Dalam hitungan detik status Arin kini telah berubah menjadi seorang istri. Dia memaku di tempat saat semua orang memberinya selamat.
"Selamat sayang, akhirnya kau resmi jadi menantu mommy sekarang. Jangan panggil aunty lagi ya, sekarang kau juga harus memanggil mommy," ujar Febby yang paling antusias saat putranya mengatakan akan menikah hari ini. Dia awalnya juga tidak percaya dan menganggap ucapan anaknya itu hanya membual. Tidak disangka kalau anak itu sudah mempersiapkan ini semua.
"Selamat kak Arin, aku ikut bahagia melihatnya," ujar Dinda. Dia kebingungan saat melihat Arin tidak merespon ucapannya. "Kak Arin ... kakak tidak apa-apa?" tanya Dinda khawatir.
"Kamu kenapa nak, apa kamu tidak senang?" tanya Lia yang menyadari sesuatu.
__ADS_1
Arin masih syok sampai tak bisa berpikir yang lain. Ia takut kalau semua ini hanya mimpi.
"Sayang, kamu kenapa nak? Apa Nathan sudah memaksamu untuk menikah, apa kamu tidak bahagia? Kalau memang iya, mommy akan mendukung apapun keputusanmu." Febby mengguncang ke dua lengan Arin hingga tersadar kalau semua itu bukanlah mimpi di siang bolong.
"Aunty, jadi ini bukan mimpi?" tanya Arin.
"Ini nyata sayang, kamu sekarang resmi jadi menantu mommy."
"Mommy?" Arin masih bingung.
"Iya sayang, kamu sekarang harus memanggil aunty dengan panggilan mommy," ujar Febby terkekeh melihat reaksi Arin yang lucu.
"Kak Arin," panggil Dinda.
"Dinda, ini bukan mimpi?" tanya Arin lagi.
"Ini nyata Kak, coba lihat baik-baik. Laki-laki yang ada di sana itu sekarang adalah suami kak Arin." Dinda menunjuk Nathan yang sedang bersama para pria.
"Jadi ini bukan mimpi, aku sudah menikah. Kenapa sepertinya tidak nyata," gumam Arin.
Sekarang semua orang sudah berkumpul di rumah Febby. Merayakan pernikahan Arin dan Nathan yang sangat mendadak. Mungkin sampai saat ini Arin masih merasa kalau semua ini hanya mimpi.
"Apa kau masih tidak percaya kalau kita sudah menikah?" bisik Nathan yang sejak tadi menemani istrinya.
Nathan terkekeh kecil, melihat istrinya kebingungan dengan semua itu.
"Apa kamu lupa siapa aku, aku bisa menyuruh mereka tetap buka meski hari libur sekalipun dan mengurus semua itu dalam waktu sekejap," ujar Nathan menyombongkan diri.
"Iya juga, tapi kenapa kemarin kak Nathan bilang belum ingin menikah."
"Kapan aku bilang seperti itu, aku hanya menolak tawaran mereka untuk menikah dua bulan lagi karena itu terlalu lama. Sedangkan aku ingin menikah denganmu secepatnya."
Arin sungguh merasa seperti tertipu disini. Mengapa dia sangat bodoh semalam. Mengira laki-laki itu tidak ingin menikah dengannya. Nyatanya pria itu justru ingin menikah secepatnya.
"Maaf, aku pikir kak Nathan tidak ingin menikah denganku." Arin merasa bersalah.
"Apa karena itu lingkaran matamu begitu gelap? Bodoh!" Nathan menyentil kening istrinya. "Bukankah sudah aku bilang jangan pikirin apapun dan percaya padaku. Sepertinya kau tidak mendengarkanku," ujar Nathan.
Arin tersenyum kaku, sia-sia dia menangis semalaman. Ternyata apa yang dia takutnya tidak berarti apa-apa. Seharusnya dia percaya pada laki-laki itu.
__ADS_1
Ada beberapa kerabat juga yang datang untuk memberikan selamat. Nathan melarang mereka untuk membawa hadiah karena memang mereka tidak sedang berpesta. Hanya syukuran kecil-kecilan. Nathan dan Arin juga sudah berganti baju yang lebih resmi.
"Jadi kapan kalian akan mengadakan pesta?" tanya Febby.
"Terserah Arin saja Mom," sahut Nathan.
"Kalau menurut Arin seperti rencana awal saja Mom, pestanya bersamaan dengan pernikahan Rezza dan Dinda."
"Ide yang bagus, sebelum itu kita masih punya waktu untuk berbulan madu," sahut Nathan lagi.
Semua orang tertawa melihat tingkah mereka, terutama Nathan yang terlihat tidak sabar untuk bulan madu.
"Ish, bagaimana bisa kita pergi. Bagaimana dengan pestanya. Pasti butuh banyak persiapan Kak," protes Arin yang malu karena semua orang menatapnya.
"Tenang saja sayang, serahkan pada mommy dan daddy," jawab Febby.
"Iya, ada aunty dan uncle juga di sini. Kalian nikmati saja waktu kalian." Lia ikut meyakinkan Arin.
"Lihat, mereka yang akan mengurus pesta. Kita bisa berbulan madu ke beberapa negara." Nathan sudah jauh-jauh hari memikirkan hal itu. Berkeliling dunia bersama Arin.
"Iya nak, pergilah. Dan jangan lupa bawa pulang kabar bahagia untuk kami."
Arin memerah pipinya memikirkan bayi. Ah dia tidak bisa membayangkan bagaimana prosesnya. Apa mungkin akan sakit seperti kata orang.
"Tenang Mom, kami akan membuatnya malam ini." Nathan tiba-tiba membopong tubuh Arin dan berjalan meninggalkan mereka semua.
Semua orang menjerit bahagia menyaksikan adegan itu. Sungguh sangat romantis dan menggemaskan.
"Ya ampun putra kita sangat tidak sabaran dad. Seperti kau dulu," ujar Febby pada suaminya.
"Sekarang aku juga bisa melakukan hal itu sayang." Mike tidak mau kalah dengan putranya. Sontak dia mendapatkan pukulan di perutnya dari sang istri yang malu.
Sementara Arin dan Nathan. Mereka sudah ada di mobil dalam perjalanan mencari tempat yang pas untuk melakukan ritual malam pertama mereka.
"Kak, bagaimana kita bisa meninggalkan mereka begitu saja," protes Arin.
"Biarkan saja sayang. Malam ini adalah malam pertama kita. Mereka pasti akan mengerti."
"Tapi ini masih sore," seru Arin.
__ADS_1
"Ya tidak masalah, kita akan memulainya dari sekarang," ujar Nathan menyeringai. Dia sudah menemukan tempat yang pas. Segera dia membelokkan mobilnya ke salah satu hotel mewahnya.
'Kenapa aku merasa kak Nathan tidak seperti biasanya, dia sangat bersemangat dan itu membuatku takut,' batin Arin. Tiba-tiba dia menciut, tidak membayangkan laki-laki itu akan memakannya.