
Lia terharu tiap kali melihat Arin yang hampir sama persis seperti sahabatnya semasa kuliah dulu. Teringat bagaimana kebaikan Rara dan kedekatan mereka dulu. Biar bagaimanapun Rara banyak berjasa dalam hidup Lia. Dan hubungannya dengan Sakka sang suami juga membaik berkat nasehat Rara.
"Aunty, kenapa aunty menangis?" Arin mengusap pipi Lia yang basah karena air mata yang keluar tanpa permisi.
"Tidak apa-apa sayang, aunty hanya terlalu rindu padamu." Bohong, Lia hanya tidak mau membuat gadis itu bersedih karena ia membahas orang yang telah tiada.
Mendengar hal itu, Arin langsung memeluk Lia. Sungguh Arin suka sekali merasakan kehangatan pelukan seorang ibu. Dengan Febby juga dia sering minta dipeluk seperti itu jika sedang sedih.
Lia pun tidak bisa membendung air matanya lagi saat memeluk Rara. Rasa rindu dan kasihan bercampur jadi satu. Kasihan sekali Arin harus tumbuh besar tanpa sosok seorang ibu dan ayahnya. Lia paham betul bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua meski banyak orang-orang yang sayang disekelilingnya. Tetap tidak ada yang bisa menggantikan sosok orang tua kita.
Tapi untungnya, Arin bisa menjadi gadis yang tumbuh dengan baik meski kurang kasih sayang.
Rezza tidak banyak bicara kalau menyangkut perasaan perempuan. Dia tau bagaimana kedekatan mamahnya dengan mendiang ibunya Arin dari cerita mamahnya dan beberapa foto kenangan. Tampaknya memang mereka sahabat yang sangat dekat, lalu kenapa Arin lebih memilih untuk tinggal di rumah Febby. Hanya Arin yang tau alasannya.
"Kakek Bayu kemana aunty, aku tidak melihatnya sejak tadi?" tanya Arin.
"Ayah mertua sedang pergi berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Memang aneh bukan, tapi ya sudah asal punya kegiatan dan banyak gerak biar tubuhnya sehat," ujar Lia.
Arin jadi membayangkan apa yang dilakukan para kakek jika sedang berkumpul. Mungkin mereka ngopi bersama atau bersenang-senang ala para kakek.
"Kamu kenapa sudah jarang sekali main ke rumah aunty. Apa kau sudah tidak menganggap aunty orangtuamu lagi?" tanya Lia yang perasa.
__ADS_1
Arin yang sedang melamun membayangkan kakek-kakek berkumpul jadi tersentak. "Tidak aunty, akhir-akhir ini banyak sekali tugas dari kampus. Jadilah aku tidak bisa kemana-mana," ujar Arin tidak berbohong kok, setelah pulang kuliah dia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar untuk mengerjakan tugas setelah itu melukis menyalurkan hobinya.
Mereka memang sudah sangat lama tidak bertemu, Lia juga sudah lama tidak bertemu dengan Febby. Usaha toko kuenya sedang sangat tumbuh pesat jadi Lia juga sama sibuknya.
"Ohh ... iya benar, kerjakanlah tugasmu dengan benar jangan seperti Rezza yang sama sekali tidak ada niat untuk kuliah."
"Siapa bilang Mah," protes Rezza yang baru saja turun dan sudah berganti dengan pakaian santai.
"Aku bukannya tidak mau mengerjakan tugas karena malas mah tapi tugas yang mereka kasih itu terlalu mudah untuk ya," imbuhnya.
"Jangan dengarkan, dia memang suka membual seperti papahnya." Lia cuek pada putranya. "Ayo nak, lebih baik kita ke belakang, nanti aunty minta pelayan untuk membawakan kita minum ke belakang." Lia mengajak Arin untuk duduk santai di belakang rumah mewah ayah mertuanya.
Ya lagi-lagi Rezza diabaikan kalau ada Arin. Sepertinya pada ibu-ibu memang menginginkan anak perempuan tapi tidak kesampaian sampai Arin jadi rebutan. Kalau sudah ngobrol berdua sudah pasti tidak bisa diganggu. Rezza lebih memilih pergi ke ruang bermain game online nya sambil live streaming, lumayan dapat uang jajan.
Menurut Nathan, mungkin gadis itu hanya sedang terbawa suasana sesaat atau mungkin Arin memang menyukainya. Lalu perasaan Nathan sendiri? Dia tidak tau apa yang dia rasakan pada Arin, menurut penilaiannya dia hanya merasa simpati dan menganggap Arin sebagai adik dan tidak lebih.
"Kenapa gadis itu harus mengatakan hal itu, membuat ku tidak bisa fokus saja. Tapi kenapa perkataan gadis itu bisa membuatku kepikiran. Bukankah itu hanya ucapan dari seorang anak kecil." Nathan bergumam sendiri, menepis rasa yang lain dan meyakinkan dirinya kalau hanya sayang sebagai adik tidak lebih.
"Tuan, ada nona Jihan ingin bertemu." Jodi berkata tepat sudah ada di depan meja Nathan.
Pria itu terkejut karena tiba-tiba assistennya itu sudah ada di depannya. "Tidak bisakah kau mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk. Sebulan aku tinggal apa kau lupa bagaimana tata cara sebelum masuk ke ruangan atasanmu?"
__ADS_1
Jodi menelan ludah, padahal tadi dia sudah mengetuk pintu berulang kali tapi si bos tidak mendengarnya. Dan yang membuatnya terpaksa masuk karena wanita bernama Jihan itu yang sudah tidak tahan menunggu.
"Maaf tuan. Tadi saya sudah mengetuk tapi tidak ada jawaban," ujar Jodi.
"Hai Nat. Maaf tadi aku yang menyuruh assisten mu untuk segera masuk." Jihan melambaikan tangan menyapa Nathan.
"Kau boleh keluar," titah Nathan pada Jodi.
Jodi membungkuk lalu keluar dari sana. Sial sekali dia hari ini, gara-gara wanita dia jadi kena imbasnya. Benar jika menurutnya wanita itu makhluk yang merepotkan dan menyusahkan .
"Apa kau sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang bersama, Aku sudah lama tidak merasakan makanan Indonesia, dari kemarin hanya memesan dari restoran yang menjual makanan barat." Jihan berkeliling di dalam ruangan Nathan, dia sedikit iri saat melihat banyaknya foto Nathan bersama dengan gadis yang ia tau adalah adiknya.
"Aku sudah makan, kalau kau mau bisa pergi dengan assisten ku," kata Nathan, tangannya masih sibuk mengetik.
Rencana Jihan gagal untuk mengajak pria itu makan siang bersama. Susah sekali mendekati laki-laki itu. Mungkin kalau bukan karena urusan pekerjaan dia juga tidak akan bisa dekat seperti itu. Itu karena perusahaan milik ayah Jihan yang sudah banyak membantu permasalahan Nathan di luar negeri. Dan Jihan ikut datang ke Indonesia demi memantau proyek kerjasama yang lainnya. Dengan tujuan lain juga, siapa sih yang tidak ingin punya mantu seperti Nathan. Pria muda dengan segudang prestasi dan pencapaian.
"Ok, nanti aku pesan saja dari sini. Oh iya, sepertinya kalian sangat dekat ya. Orang yang tidak tau pasti mengira kalian sepasang kekasih," ujar Jihan sambil memegang satu buah foto yang tadi tertata rapi di rak.
Sepasang kekasih? Dia dan Arin. Mungkinkah itu bisa terjadi.
"Kau pasti sangat menyayangi adikmu, sangat menyenangkan ya punya adik. Tidak seperti ku hanya anak tunggal yang sering kesepian karena mommy dan Daddy sibuk." Sepertinya Jihan iri melihat kedekatan kakak adik yang tidak sungguhan itu.
__ADS_1
"Aku juga anak tunggal, tapi tidak terlalu kesepian..."