Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 65


__ADS_3

Cup.


Arin memaku saat sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya. Matanya yang beruraian air mata mengerjap. Tangannya yang tadi ia gunakan untuk memukul berhenti seketika. Dia terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Nathan menciumnya tiba-tiba, saat dia tidak sedang bersiap-siap.


Bibir Nathan menempel dan membuat Arin terdiam. Merasa tidak ada perlawanan lagi, pria itu mulai memagut bibir Arin dengan lembut. Mengetuk bibir mungil itu agar membuka. Gadis itu mengerti dan mulai membuka sedikit bibirnya, membiarkan Nathan melakukan apa yang dia mau.


Dua insan manusia itu saling mengecap perasaan lewat sentuhan bibir. Meruntuhkan keraguan yang sempat singgah, kini mereka tau kalau masing-masing dari mereka begitu berarti. Nathan tidak bisa lama-lama jauh dari Arin, begitupun sebaliknya. Arin jauh lebih tersiksa saat dirinya terpaksa jauh dari laki-laki yang selama ini memenuhi ruang di hatinya.


Arin luluh, hatinya yang rapuh tidak bisa benar-benar marah. Tangannya sudah bergerak memeluk tubuh Nathan.


Pria itu melepaskan ciumannya setelah Arin cukup tenang. "Jangan menangis lagi, aku mohon jangan menangis. Air matamu terlalu berharga untuk dibuang-buang begitu saja." Menempelkan keningnya.


Arin hanya bisa tersipu. Sisa menangis tadi masih membuatnya sesenggukan kecil. "Kak ... hiks Kak Nathan hiks kenapa tiba-tiba hiks menciumku," protes Arin yang masih tidak terima berciuman dengan cara seperti itu. Seharusnya ciuman mereka harus romantis bukan saat dia sedang menangis seperti ini.


"Karena kau cerewet, hanya dengan cara itu kau akan berhenti."


Arin mencebik sebal, tapi malah terlihat imut di mata pria itu.


Siapa yang tau kalau ternyata saat ciuman tadi, Nathan sudah menyematkan cincin lamarannya pada jari manis Arin. Dia tersenyum kecil karena gadis itu sejak tadi belum menyadarinya.


Nathan membubuhkan ciuman di punggung tangan Arin yang terpasang cincin. "Terimakasih," katanya.


"Terimakasih untuk??" tanya Arin heran.


Pria itu baru mengusap cincin berlian itu sambil tersenyum. "Untuk ini," katanya. "Terimakasih karena sudah mau menerima lamaranku," imbuhnya lagi.


Arin melotot melihat sebuah cincin sudah terpasang di jarinya. Sejak kapan, bahkan dia tidak tau. Apa selama dia tidak ada di Indonesia, Nathan belajar sulap.


"Kapan kakak memasangnya di sini?"


"Tadi, apa kamu tidak merasakannya?"


Arin menggeleng.


"Itu karena kamu terlalu menikmati tautan bibir tadi," bisik Nathan.

__ADS_1


Blush.


Entah semerah apa pipi Arin sekarang. Untunglah cahaya di sana tidak terlalu terang.


"Kenapa kak Nathan memasangnya pada jariku, padahal aku belum memberikan jawaban."


"Jadi kamu menolaknya?"


"Tidak, tapi kan aku belum jawab."


"Lalu? Sama saja kan dipasang nanti atau sekarang." Nathan yang sudah biasa negosiasi tentu saja tidak mau kalah.


"Kak Nathan menyebalkan sekali, lebih baik aku lepas saja cincinnya," ancam Arin.


"Kau berani?!"


"Kenapa tidak." Arin menjulurkan lidahnya. Dia senang melihat Nathan kesal saat dia akan melepaskan cincinnya.


"Aaa ...!!" Pekik Arin saat tubuhnya tarik begitu saja menabrak dada bidang Nathan. Tubuhnya juga dikunci, tidak bisa bergerak.


"Lepaskan saja kalau kamu berani. Kalau kau melepaskan cincin itu maka aku tidak akan melakukan hal ini lagi. Melamarmu hanya akan aku lakukan sekali, kalau kau melepasnya berarti memutuskan hubungan denganku. Biar aku lamar gadis lain saja."


"Baik. Aku hanya akan melihatmu dan hanya kamu akan jadi wanitaku. Jangan harap bisa kabur dariku."


Tatapan mata mereka saling mengunci. Perlahan Arin berjinjit dan menarik dasi Nathan agar pria itu mendekat. Gadis itu mencium lebih dulu meski agak kesusahan karena tubuh Nathan yang lebih tinggi darinya.


Dibawah cahaya kemilau dari kembang api yang kembali menyala. Mereka menyatu dan berjanji satu sama lain.


Di sudut yang lain beberapa orang yang sejak tadi melihat adegan romantis itu, terharu melihat kebahagiaan Arin dan Nathan.


"Dad kita akan punya menantu sebentar lagi."


"Belum tentu sayang. Mereka masih terlalu muda untuk menikah."


"Iss ... untuk apa menunggu lama. Putra kita sudah cukup umur untuk menikah. Arin juga pasti mau secepatnya menikah."

__ADS_1


"Serahkan saja pada mereka, kita sebagai orang tua hanya perlu mendukungnya."


"Tidak Dad, aku akan membujuk mereka agar segera menikah. Lihat saja," Febby melipat kedua tangannya di depan dada. Tidak sependapat dengan suaminya.


Sedangkan dua orang yang ada bersama mereka hanya geleng-geleng kepala dan sedikit kecewa sebenarnya. Terutama Lia, yang dulunya adalah teman dekat Rara. Sayangnya anak-anak mereka tidak berjodoh. Tapi dia tetap ikut bahagia melihat kebahagiaan gadis itu. Mungkin Tuhan memang sudah menyiapkan menantu yang lain untungnya.


Mereka berempat pun keluar dari persembunyiannya. Bertepuk tangan dan membuat sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu terkejut. Terutama Arin yang tidak tau kalau ada mereka juga di sana.


"Selamat selamat, mom dan dad ikut senang melihatnya," ujar Febby.


"Aunty dan uncle Sakka juga ikut senang melihat kalian bahagia. Semoga Nathan bisa selalu membuat Arin kami bahagia," ujar Lia.


"Kalian juga ada di sini? Sejak kapan?" tanya Arin malu.


"Sejak kalian berdansa tadi." Febby tersenyum kecil. Dia tau kalau Arin pasti sedang merasa malu.


"Kak Nathan kenapa tidak bilang ada mereka juga?" protes Arin.


"Kamu tidak bertanya?" Tanpa rasa bersalah.


"Hahaha tidak apa sayang, tidak perlu malu begitu. Kami juga pernah muda," kata Febby.


Arin semakin malu, dia bersembunyi di balik tubuh laki-lakinya.


Acara malam itupun dilanjutkan dengan duduk bersama menikmati hidangan penutup. Saling melepas rindu, sudah lama sekali Arin tidak bertemu dengan mereka yang sudah seperti orangtuanya sendiri. Jangan lupakan Nathan yang selalu menggenggam tangannya seakan takut gadis itu pergi lagi.


"Oh iya, di mana Rezza. Kenapa dia tidak datang juga aunty?" tanya Arin pada Lia.


"Dia sedang mengurus proyek dari ayahnya di Jogja dan mungkin sedang mencari menantu untuk kita juga," cicit Lia terkekeh geli kalau mengingat tingkah putranya.


"Oh iya? Apa anak itu sudah punya pacar aunty."


"Aunty juga tidak tau, dia hanya bilang minta doanya aunty agar dia bisa membawa kembali gadis yang akan jadi menantu. Entah apa maksud anak itu, paling-paling juga hanya mengada-ada."


Arin tampak memikirkan Rezza, benarkah pria itu sudah bisa melupakan Dinda. Dan ya, entah bagaimana kabar gadis bernama Dinda itu sekarang.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau memikirkan bocah itu? Dengar! Aku tidak mengijinkan kamu untuk memikirkan laki-laki lain." Arin berbunga mendengar Nathan cemburu.


Para orang tua juga ikut tersenyum, melihat para anak muda yang sedang begitu bersemangat dan romantis itu.


__ADS_2