
Hubungan Arin dan Nathan semakin menunjukkan progres yang baik. Setelah mereka resmi jadi sepasang kekasih, pria itu benar-benar mencurahkan seluruh perhatian dan kasih sayangnya untuk sang gadis kecil. Berapa hari ini fokus Nathan juga hanya pada urusan Arin. Dia sampai menunda banyak proyek besar demi membantu Arin.
Bersama sang daddy, Nathan dan Mike membimbing Arin untuk menghadapi orang-orang yang ada di perusahaan. Mereka juga membantu Arin agar lebih percaya diri.
Hari ini waktunya Arin untuk datang ke perusahaan. Mengambil alih semuanya. Dia sudah bangun sejak pagi, melakukan ibadah, berdoa, meminta restu pada keluarganya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya. Dia sedang bersiap di depan meja rias. Penampilannya lain dari biasanya. Lebih dewasa dan berwibawa. Aura kepemimpinannya lebih keluar.
"Permisi Non," panggil bibi pembantu mengetuk pintu kamar Arin.
"Ya Bi, masuk saja." Sahut Arin yang sedang menata rambutnya.
"DI bawah ada tuan muda Nathan, Non."
"Kak Nathan sudah sampai? Suruh dia menunggu di meja makan, Bi. Sebentar lagi aku akan turun," kata Arin.
__ADS_1
"Baik Non." Bibi itu keluar dari kamar, dia terkejut karena ternyata laki-laki yang baru dibicarakannya itu sudah ada di sana. "Tuan muda--."
"Bibi bisa turun," ujar Nathan.
Bibi pelayan menunduk lalu mempersilahkan Nathan untuk masuk ke dalam kamar nonanya.
Arin yang mendengar suara pintu kembali terbuka pun berkata, "Ada apa lagi Bi?" Dia tidak melihat kalau yang masuk adalah sang pujaan hati.
Nathan tidak menyahut, kedua tangannya di masukkan ke saku celananya lalu berjalan ke arah Arin.
"Kau mengusirku." Nathan memeluk Arin dari belakang, menjatuhkan dagunya pada pundak gadis itu. Mereka saling menatap lewat cermin yang ada di depan mereka saat ini. Dan sekarang Arin ingin sekali tertawa melihat wajah memelas Nathan.
Bagaimana bisa lelaki yang biasanya dingin, cuek dan irit bicara sekarang merajuk sambil melengkungkan bibirnya ke bawah. "Gemas," batin Arin.
__ADS_1
"Aku rindu," bisik Nathan. Mempererat pelukannya dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Arin.
Gadis itu membiarkan lelakinya melakukan apa yang dia mau. Jangan sampai pria itu tambah merajuk. Nanti Arin susah sendiri. Ya, dia tau kalau sejak kemarin mereka hampir tak bisa bermesraan karena ada daddy Mike yang mengawasi. Diam-diam berpegang tangan di bawah meja saja, hot Daddy itu bisa tau.
Arin mengusap kepala Nathan, tidak ingin rambut yang sudah tertata rapi itu jadi berantakan. "Uh Manisnya, seperti kucing kecil." Hanya berani berkata dalam hati.
"Apa kamu tau kalau aku sangat tersiksa, kita berdekatan tapi seperti berjauhan dari kemarin." Merajuk lagi.
"Tau Kak, tau kok," batin Arin.
"Daddy sangat keterlaluan, dia tidak mengerti anak muda."
Cup cup cup, lucu sekali ekspresinya saat ini. Arin masih diam mendengarkan keluhan yang keluar dari bibir Nathan. Semuanya karena daddynya sendiri tapi Arin yang jadi tempat merajuk. Tapi ada untungnya juga bagi Arin, dirinya yang sejak tadi tegang dan cemas menjadi terhibur dengan tingkah Nathan.
__ADS_1
"Terimakasih kesayanganku, terimakasih selalu ada untukku. Dari aku kecil hingga sekarang." Entah bagaimana jadinya Arin tanpa Nathan dan sebaliknya.