
Dunia seakan hancur tak tersisa. Dunia Dinda sudah runtuh bersama kepergian Bapaknya. Orang tua yang tinggal satu-satunya kini ikut pergi meninggalkannya. Kerja kerasnya selama ini demi kesembuhan bapak tidak ada gunanya. Lutut gadis yang masih menggunakan jaket ojolnya terasa lemas. Tubuhnya luruh ke lantai rumah sakit yang dingin.
"Bapak ... kenapa bapak juga meninggalkanku? Hiks ... kenapa bapak meninggalkanku sendirian. Aku tidak punya siapa-siapa sekarang pak. Aku harus kemana?" Dinda menangis seorang diri. Tidak ada keluarga atau sanak saudara. Dia benar-benar sendirian sekarang. Kemarin walaupun bapaknya tidak bisa apa dan hanya berbaring di ranjang, Dinda masih lebih baik ada yang diajak mengobrol kalau sepulang bekerja atau diajak berkeluh-kesah. Tapi sekarang dia harus berkeluh-kesah pada siapa.
Jasad sang ayah langsung segera dibawa pulang setelah proses administrasi di rumah sakit selesai. Dinda dan jasad bapaknya pulang dengan mobil ambulan. Sepanjang jalan, gadis itu tidak berhenti menangis. Meski ada satu suster yang menemani dan menenangkannya tapi Dinda tidak bisa menghentikan tangisnya.
"Bapak ... hiks hiks ...."
"Yang sabar cah ayu. Bapak sudah tenang di sana. Sudah tidak sakit lagi sekarang." Suster itu turut prihatin dan kasihan melihat Dinda yang mengurus semuanya sendiri.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, bapak kenapa pergi juga seperti ibu. Aku sendirian..."
Suster itu yang sejak tadi menenangkan Dinda kini ikut menangis. Tangisan gadis itu mampu menyayat hatinya.
Sampai di rumah. Tetangga yang mendengar suara sirine ambulan pun berhamburan keluar rumah untuk melihat siapa yang ada di dalam mobil putih itu. Karena saat Dinda membawa bapaknya pergi, para tetangga sudah tertidur.
__ADS_1
Semua orang cukup kaget melihat Dinda keluar dari mobil itu. Disusul seseorang yang terbaring tak berdaya di atas keranda rumah sakit.
Hari itu adalah hari terburuk untuk Dinda. Separuh nyawanya seakan ikut pergi bersama orangtuanya. Dan mulai saat itu dia harus hidup seorang diri, terusin dari rumahnya sendiri karena rumah yang mereka tempati jadi rebutan saudara. Dinda lebih baik mengalah, untuk apa rebutan harta di dunia. Semua itu tidak akan di bawa mati. Dia lebih memilih untuk merantau ke berbagai kota, sambil berjalan-jalan dan menikmati suasana baru.
Ini sudah dua tahun berlalu. Saat ini Dinda sedang ada di kota pelajar Jogjakarta. Dia baru berapa bulan di kota itu dan ia ini ada persinggahannya yang terlama dari pada kota lain. Menurutnya kota itu memang istimewa seperti namanya. Orangnya ramah dan makanannya murah.
Beruntungnya Dinda bisa bekerja apa saja tidak pilih-pilih. Profesinya sebagai ojol juga masih bisa di jalankan meski berada di lain kota.
"Cantiknya kota ini, sepertinya aku akan menetap di sini saja. Semangat Dinda. Ayo kita cari penumpang." Dinda selalu menyemangati diri sendiri. Kalau teman, selama ini dia tidak terlalu dekat dengan siapapun takut sakit saat berpisah jadi dia tidak berusaha mencari teman dekat. Hanya sibuk mencari uang dan uang sampai nanti sudah terkumpul dan sudah bosan berkelana dia akan menetap di suatu tempat.
"Mana nih orangnya," gumam Dinda, dia menunggu di lobi hotel.
Seseorang wanita berpakaian rapi menghampiri Dinda. "Maaf menunggu lama," katanya.
"Ah tidak apa-apa, apa anda yang memesan makanan ini?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Iya nona, ternyata anda seorang wanita. Maaf tadi saya kira laki-laki."
"Tidak masalah, aku lebih suka dianggap seperti itu nona. Silahkan ini pesanannya." Dinda menyerahkan dua kantong besar berisi makanan itu. Dia ragu kalau wanita itu akan menghabiskan makanan sebanyak itu.
"Ini uangnya nona, ambil saja kembaliannya karena sudah membuat anda menunggu."
"Ah ini terlalu banyak.." Mau mengembalikan tapi wanita itu menolak. "Kalau begitu terimakasih," kata Dinda. sambil membungkukkan tubuhnya.
"Berterimakasih lah pada atasan saya nona, dia yang memberikan uang tips nya. Kalau begitu aku bawa ini ke dalam, mereka sudah menunggu." Memanggil pelayan hotel dan meminta bantuan.
Sementara Dinda malah lega karena ternyata makanan itu bukan untuk wanita itu sendiri. Dia juga senang karena mendapatkan uang tips yang begitu banyak. Kalau begini dia jadi tidak usah bekerja sampai malam lagi hari ini.
Sementara di sebuah ruangan. Seorang laki-laki sedang menatap tajam pada bawahannya karena kerja mereka sama sekali tidak memuaskan.
"Apa begini kerja kalian selama ini! Menghamburkan uang tapi proyek yang seharusnya selesai bulan lalu malah mangkrak seperti itu!"
__ADS_1