Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 50


__ADS_3

Hari-hari Arin begitu membosankan tanpa ada Dinda di kampus. Dia jadi merasa ingin segera lulus kalau seperti ini terus. Sama halnya dengan Rezza yang merasa kehilangan, dia sudah berusaha mengelak dan berpikir kalau yang ia rasakan itu karena merasa tidak ada yang diganggu lagi setelah Dinda tidak ada.


Rezza terus menyibukkan dirinya dengan bermain basket tanpa kenal waktu. Saat tidak ada jam kuliah bahkan ia menghabiskan waktunya untuk bermain basket. Teman-temannya sampai kelelahan mengikuti kapten mereka. Pria itu terus menggiring bola tanpa merasakan lelah. Istirahat hanya minum sebentar lalu bermain lain.


"Huh hah ... aku sudah tidak sanggup bermain lagi ...." Salah satu teman Rezza sudah basah kuyup oleh keringat. Kakinya juga terasa pegal. Nafasnya bahkan seperti mau habis. Bisa k.o kalau tidak berhenti sekarang juga.


"A--aku juga menyerah, lebih baik aku dikeluarkan dari tim basket ini dari pada begini terus," kata yang lain juga setuju. Awalnya mereka mengikuti apa mau Rezza karena takut dikeluarkan dari tim basket tapi kini mereka lebih memilih keluar saja dari pada tersiksa.


Yang lain pun mengangguk setuju. Mereka pun sudah sepakat. Lalu lebih memilih untuk menepi di tempat istirahat yang tidak terpapar sinar matahari yang sangat menyengat itu. Memperhatikan Rezza yang masih saja bermain-main dengan bolanya.


"Gilaa, apa kapten tidak merasa lelah. Apa dia robot?" tanya mereka keheranan.


"Kalau menurutku dia sedang ada masalah dan melampiaskannya pada bola yang ia pegang itu. Lihat saja caranya memasukkan bola ke ring. Tatapannya sangat tajam, penuh emosi."


"Ada orang seperti itu, seharusnya kita pergi minum saja untuk melupakan masalah."


PLAK


Salah satu teman memukul kepala anak yang mengatakan hal itu tanpa dipikir dulu.


"Apa kau tidak tau kalau kapten tidak pernah minum. Dia tidak pernah mabuk-mabukan apalagi main cewek."


"Ohh, aku kira dia seperti anak-anak orang kaya pada umumnya." Garuk-garuk kepala.


Rezza nampak kelelahan tapi dia tidak ingin berhenti bermain, karena saat ia berhenti maka muncullah wajah Dinda. Ah shitt! Kenapa wajah gadis itu terus ada di kepalanya. Membuat Rezza tidak bersemangat melakukan apapun.


"Kapten, beristirahatlah. Kau sudah sangat kelelahan!" teriak teman Rezza.


"Hai! Diamlah. Biarkan saja dia."


"Tidak bisa, kalau dia terus seperti itu bisa berbahaya. Olahraga berlebihan juga bisa berbahaya untuk kesehatan tubuh bahkan bisa mengakibatkan kematian."

__ADS_1


Yang lain setuju dan ikut mencoba menghentikan Rezza. Tapi sama sekali tidak ada yang berhasil. Rezza malah semakin keras bermainnya.


Sampai Arin datang melihat temannya, dia merasa khawatir karena Rezza sudah sangat jarang menemuinya. Dia ingin tau apa penyebabnya. Gadis itu berjalan ke lapangan basket, dan melihat Rezza sedang bermain seorang diri sedangkan teman-temannya sedang beristirahat. Arin memutuskan menghampiri teman-teman Rezza untuk bertanya.


"Permisi, apa dia sudah lama bermain di sana? Kenapa kalian tidak ikut bermain?" tanya Arin.


Mereka yang sudah frustasi karena tidak bisa membujuk Rezza dikejutkan oleh kedatangan Arin. Tapi mereka kemudian menyadari kalau gadis itu adalah yang selama ini dekat dengan kapten mereka. Siapa tau bisa menghentikan laki-laki yang sedang menggila di lapangan itu.


"Akhirnya kau datang Nona. Tolong kami."


Arin memandang heran karena tiba-tiba dimintai tolong. Ada apa? lewat tatapan matanya.


"Tolong hentikan kapten, kalau tidak dia bisa kelelahan. Dia sudah bermain sejak pagi. Hanya istirahat untuk minum lalu main lagi."


Arin terkejut dibuatnya. Apa Rezza mau mati. Bagaimana dia bisa melakukan hal itu.


"Kenapa dengannya?" tanya Arin memperhatikan Rezza dari kejauhan.


"Dari kapan dia bertingkah seperti itu"


"Kira-kira seminggu yang lalu."


Itu berarti sejak Dinda tidak ada di kampus lagi. Apa mungkin gadis itu yang sudah membuat seorang Rezza kalang kabut. Bukankah selama ini mereka berdua tidak pernah aku, bahkan Rezza selalu semena-mena pada Dinda.


Apapun itu, Arin akan mencari tau nanti. Dia akan menghentikan Rezza lebih dulu. Dia berjalan masuk ke lapangan. Lalu menghadang Rezza.


"Kau sedang apa? Kau gilaa? Cepat berhenti!?" Seru Arin, marah sekali melihat Rezza membahayakan kesehatannya sendiri. Dia menangkap bola yang sedang dimainkan laki-laki itu.


"Berikan bolanya kak, aku mau bermain sebentar lagi," kata Rezza, nafasnya sudah berkejaran. Keringat bercucuran, membasahi seluruh permukaan kulitnya.


"Tidak, ayo berhenti. Kita pulang sekarang," titah Arin.

__ADS_1


"Kak ... tolong biarkan aku bermain sebentar saja agar aku tidak mengingatnya lagi," pinta Rezza, tanpa sadar ucapannya sudah membenarkan pikiran Arin.


"Bukan begini caranya. Ayo kita pergi menemuinya sekarang," ajak Arin.


"Menemui siapa? Tidak ada yang perlu aku temui. Cepat kembalikan bolanya.


"Tidak akan. Ayo pergi." Arin membawa bola itu bersamanya. Memaksa Rezza menghentikan aktivitas nya. Lalu melemparkan bola itu pada anggota tim yang lain.


Rezza menghela nafasnya, lalu mengikuti apa mau Arin. Dia bergegas mengganti pakaian ke ruang ganti dan menemui Arin yang sudah menunggunya. Sekarang gadis itu pasti punya banyak pertanyaan untuknya.


"Katakan! Apa kau seperti ini karena Dinda tidak ada?" tanya Arin.


"Tidak, aku hanya ingin berlatih lebih keras agar tim basket kita bisa punya kesempatan yang lebih baik lagi." Mengelak.


"Kenapa baru setelah Dinda tidak ada di kampus ini. Kenapa tidak dari dulu. Dan apa perlu berlatih sekeras itu tanpa beristirahat. Yang ada saat pertandingan basket tiba kau sudah loyo lebih dulu sebelum dimulai."


Rezza tidak menjawab lagi. Ya baiklah dia mengakuinya.


"Sekarang ikut aku, kita temui Dinda. Kita bujuk lagi gadis itu agar mau berkuliah lagi. Aku juga kesepian tidak ada dia di sini." Arin mengajak Rezza menemui Dinda.


Mereka sudah sampai di tempat kerja Dinda. Baru jam Satu siang. Mereka rasa gadis itu masih bekerja. Setelah memutuskan keluar dari kampus, tak lama Dinda sudah dapat pekerjaan yang lumayan tinggi upahnya dan tidak terlalu lelah kerjanya. Di sebuah coffe shop. Itu semua berkat bantuan Rezza yang menolongnya diam-diam.


Rezza dan Arin sudah memasuki coffe shop itu. Seorang manajer sekaligus pemilik tempat itu menyambut kedatangan mereka.


"Hai bro, lama sekali tidak kesini. Meneleponku hanya untuk minta tolong setelah itu tidak ada kabar lagi," ujar manajer itu yang ternyata teman Rezza.


"Maaf, aku baru sempat datang. Dimana gadis itu, kenapa aku tidak melihatnya." Rezza menelisik ke penjuru ruangan mencari keberadaan Dinda.


"Dia sudah tidak ada disini."


Rezza dan Arin menyerngitkan keningnya, tidak tau apa maksud orang itu. Apa maksudnya Dinda sudah pulang.

__ADS_1


__ADS_2