Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 40


__ADS_3

Oma Wina sudah kembali ke alamnya, kembali ke negaranya dimana suaminya sedang menjalani pengobatan. Dia tidak bisa apa-apa saat cucunya sudah marah. Kekuasaan yang dimiliki suaminya bukanlah apa-apa. Oma Wina tentu tidak mau nantinya perusahaan suaminya bangkrut dan dia akan terlunta-lunta di jalanan karena anak dan cucunya tidak mau menerimanya. Dia kan hanya ingin mencarikan pasangan yang cocok untuk cucunya, apa itu salah. Baginya tidak tapi bagi Nathan dan Febby tentu sangat salah.


"Kalian anak dan cucu durhaka!" seru Oma Wina sebelum dia meninggalkan rumah anaknya. Bahkan kopernya sudah di bawa ke dalam mobil lebih dulu. Tidak ada satupun yang membela, hanya Arin yang sepertinya kasihan pada Oma Wina. "Tega-teganya kalian mengusir Oma dari rumah ini! Oma sudah tua begini tidak punya siapa-siapa selain kalian, Oma kesepian di luar negeri. Ijinkan Oma tinggal lebih lama lagi," rengek Oma Wina sambil menangis dengan air mata buatannya.


"Sudahlah Mah, tidak usah berpura-pura lagi. Kami juga tidak mengusir Oma, hanya memulangkan Oma ke tempat yang semestinya. Kasihan papah Bayu kalau Oma disini terlalu lama." Febby yang sudah hapal dengan tabiat mamahnya sama sekali tidak terpengaruh dengan tangisan itu.


"Kau memang anak durhaka, Febby. Mamah sudah membesarkanmu sampai sebesar ini tapi kau malah memperlakukan mamah seperti ini. Lihat saja, cucu kesayanganku pasti tidak akan tega pada Omanya." Oma Wina beralih pada Nathan. "Nak, tolong maafkan Oma. Oma janji akan bersikap baik tapi Oma mohon ijinkan Oma tinggal, bolehkan nak. Nathan ku sayang, kau adalah cucu kesayangan Oma," mohon Oma Wina dengan menangkupkan kedua tangannya. Berharap sang cucu yang sudah ia bohongi mau mengubah keputusannya.


Nathan mendesah kasar, dia ingin pergi kerja jadi terhambat gara-gara drama omanya. Ya, Nathan tau kalau omanya hanya pura-pura. Dia bisa melihat mana mata yang berkata bohong atau jujur. Sama sekali tidak ada penyesalan di mata Oma Wina.


Melihat cucunya diam saja Oma Wina menekuk lututnya memohon agar sang cucu melunak. Dia tidak bisa diusir seperti ini. "Nathan, Oma mohon ijinkan Oma tinggal lebih lama disini. Oma janji akan diam saja di rumah dan tidak akan melakukan apapun yang membuatmu tidak suka," katanya. Ya setidaknya kalau masih di sana dia bisa bebas memberi pelajaran pada gadis yang menurutnya adalah penyebab utama dirinya diusir.


Arin justru prihatin melihat Oma seperti itu, dia yang hatinya begitu baik tidak tau kalau Oma Wina berniat tidak baik padanya. Arin berjalan mendekati Oma Wina lalu mencoba membuat wanita tua itu berdiri. "Oma, bangunlah. Jangan seperti ini, Oma adalah orang tua mana boleh berlutut di depan yang lebih muda. Ayo Oma," ajak Arin.


Oma Wina sebal saat Arin menyentuhnya, ingin dia mendorong gadis itu tapi nanti cucu dan anaknya bisa semakin marah padanya. Jadilah dia lebih memilih memanfaatkan gadis itu agar Nathan mau mempertimbangkan keputusannya. "Uhhukk ... uhukk ... kau memang gadis yang baik nak. Hanya kau yang peduli pada Oma. Wanita tua yang sudah tidak berdaya ini, hiks hiks hiks." Oma Wina berdiri dibantu Arin.


"Jangan menangis Oma. Ayo duduk dulu dan minumlah." Arin memberikan segelas air putih pada Oma Wina.

__ADS_1


Oma Wina meminumnya sampai tandas, sejak tadi dia menangis dan meraung membuat tenggorokannya terasa kering.


"Mamah lihat, bahkan setelah apa yang Mamah lakukan. Arin adalah satu-satunya orang yang bersikap baik pada mamah. Tapi kenapa mamah tidak bisa menerima Arin." Febby kesal dengan mamahnya itu. "Arin! Sudah tidak usah bersikap baik pada Oma. Dia masih bisa mengurus dirinya sendiri. Asal kamu tau, Oma itu tidak menyukaimu!" seru Febby. Oma Wina tidak pantas mendapatkan kebaikan dari Arin.


"Hiks ... kamu itu bicara apa, Feb. Mana mungkin mamah tidak menyukai gadis sebaik Arin," kilah Oma Wina tidak mau Arin ikut marah dan tidak ada yang membelanya lagi.


Febby mau marah-marah lagi tapi suaminya menyuruhnya untuk diam. Biar Nathan saja yang memutuskan, "Sudah sayang, serahkan pada putra kita," titah Mike. Dia sudah tau apa yang terjadi karena istrinya sudah bercerita tadi malam. Jadi di sini yang belum tau hanya Arin.


"Oma, aku harus berangkat bekerja. Maaf tidak bisa mengantarkan Oma ke Bandara. Aku berangkat dulu, assalamu'alaikum ..." Nathan langsung pergi, yang artinya keputusannya tidak bisa diubah lagi.


"Sayang, aku juga berangkat. Ada rapat pagi ini." Mike lebih cari aman. Ia tau kalau ibu mertuanya itu pasti akan memohon padanya agar membujuk Nathan. Dan dia tidak mau itu.


Sepeninggalan mereka Omaa makin kesal dan menggebrak meja. Tubuhnya yang sedang berada dalam pelukan Arin langsung mendorong tubuh gadis itu hingga tersungkur ke belakang.


"Minggir kau gadis bodoh!" umpatnya dengan topeng yang sudah di buka, tidak seperti tadi lagi. "Ini semua gara-gara kau, pasti kamu kan yang menyuruh cucuku untuk memulangkanku." Marah dan membentak Arin.


Tentu saja gadis itu terperangah, bagaimana bisa dalam waktu sekejap sikap Oma berubah. "Aku tidak mengerti maksud Oma. Aku sama sekali tidak mengatakan apapun pada kak Nathan," kata Arin.

__ADS_1


"Cukup Mah! Kau tidak perlu sekasar itu pada Arin. Keputusan ini murni dari Nathan, karena perbuatan mamah sendiri. Untuk apa menjodohkan Nathan dengan wanita pilihan mamah. Sudah jelas Nathan menolak," bentak Febby. Dia membantu Arin untuk bangun.


Arin menyimak, 'Apa! Jadi Oma berniat menjodohkan kak Nathan dengan wanita pilihannya. Lalu apa kak Nathan mau dengan wanita pilihan oma, bagaimana kalau kak Nathan mau. Lalu apa artinya ciumaann waktu itu." Arin sedih.


"Diamlah! Mamah melakukan ini dengan cucu mamah. Kau tidak perlu ikut campur urusan mamah."


"Terserah Mamah, yang pasti aku juga akan melakukan upaya apapun untuk menggagalkan rencana mamah." Febby mencebik lalu membantu Arin berdiri. Dia bisa merasakan kalau gadis itu sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa, nak. Apa kau memikirkan tentang perjodohan yang direncanakan Oma Wina. Kau tidak perlu memikirkan apapun karena Nathan tidak mungkin mau menerima perjodohan seperti itu." Febby tersenyum sinis mengejek mamahnya.


"Permisi Nyonya besar. Kita harus berangkat sekarang." Seseorang berseragam supir mengingatkan Oma Wina agar segera ke mobil.


"Siapa bilang aku mau pergi, aku tidak akan pergi kemanapun." Bersikap bersikeras.


"Maaf Nyonya, tapi ini adalah perintah dari Tuan. Mohon anda tidak menyulitkan kami para pekerja. Karena tuan berpesan kalau nyonya besar tidak mau pergi maka kami harus menggunakan cara paksa untuk membawa nyonya besar ke bandara." Supir itu tidak berani mengangkat kepalanya. Tapi dia harus tetap menyampaikan pesan itu .


"Tidak mungkin cucuku berkata seperti itu, kalian pasti bohong kan." Tidak terima dan memarahi supir nya.


"Cukup Mah! Jangan membuat keributan lagi, mereka hanya bekerja dan menyampaikan apa kata Nathan. Sebaiknya mamah segera pergi, kalau Oma tetap disini aku yakin Nathan akan semakin marah," kata Febby memperingati.

__ADS_1


__ADS_2