
Tidak ada yang berani berbicara apalagi mengangkat kepala saat Rezza marah. Ya, dia dapat tugas baru dari ayahnya. Menjadi manager proyek yang sedang dikerjakan perusahaan Sakka. Tapi sialnya, dia harus berurusan dengan orang-orang yang tidak kompeten itu. Banyak data yang tidak sesuai.
"Pergi kalian! Jangan kembali kalau laporan kalian masih sama. Proyek yang sedang kita kerjakan itu bukan proyek kecil. Kalau sampai ada kesalahan sedikit saja pada bahan bangunannya. Bisa fatal akibatnya!" ujar Rezza memperingati.
"Kalian jangan coba-coba membodohi ku. Aku tidak bodoh atau pun mau di ajak bekerja sama dengan kalian seperti manager sebelumnya. Aku akan pastikan kalian yang berbuat curang akan mendekam di penjara kalau tidak segera berubah." Rezza menggebrak meja.
Braak!
"Paham kalian!!" sentak Rezza.
Mereka semua yang mengikuti rapat pun mengangguk. "Paham, Pak."
'Ah, sial! Mereka memanggilku Pak lagi. Aku masih belum setua itu.' kesal Rezza dalam hati.
"Kalian boleh pergi," ujar Rezza. Lalu ia berjalan mendekat ke jendela kaca. Pemandangan kota Jogja terlihat dari sana.
"Tuan, apa anda yakin mereka akan menyerahkan data yang asli." Itu Nuri, sekretaris Rezza. Dia sudah cukup dewasa dan sudah punya seorang putri di rumahnya. Dia yang akan membantu tugas Rezza.
"Kalau mereka tidak mau menyerahkan juga aku akan menggunakan cara lain. Bagaimana mungkin papah mempunyai anak buah seperti mereka, apa papah tidak sadar kalau mereka bermain curang."
"Sepertinya beliau sudah tau, karena itu tuan Sakka menyuruh Anda untuk menyelidiki. Mereka adalah pekerja yang direkomendasikan oleh mintra perusahaan." Nuri membenarkan kacamatanya.
"Kenapa papah harus memberikanku tugas seperti ini. Seharusnya papah memberikanku posisi yang bagus di perusahaan. Bukannya aku akan jadi penerusnya, tinggal tanda tangan apasaja. Apa perlu bekerja keras seperti ini," gerutu Rezza. Saat akhirnya dia memutuskan untuk bergabung di perusahaan setelah dibujuk oleh ayah dan kakeknya. Karena ia pikir dia akan jadi pemimpin yang tinggal duduk dan tanda tangan.
Tidak disangka, Sakka malah menugaskannya jadi manager. Dia harus selalu mengontrol di lapangan. Memeriksa proyek apakah sesuai dengan yang tertulis di data. Alhasil saat dia datang banyak sekali kejanggalan.
"Tuan hanya ingin anda mulai dari bawah untuk belajar."
__ADS_1
"Belajar apanya?! Di kantor pun aku bisa belajar kan?" jawab Rezza.
"Memangnya anda mau membaca data dan berkas perusahaan dari tahun lalu untuk dipelajari. Anda sendiri yang memilih mau belajar secara langsung saja. Jadilah tuan Sakka mengirim anda untuk belajar," ujar Nuri.
"Huh, aku kira saat aku memilih belajar langsung itu ayah kau mengajariku atau dia menyuruh seseorang mengajariku. Dia memang licik," kilah Rezza. Tidak mau disalahkan. "Sudahlah, aku mau jalan-jalan sebentar. Di Jogja ini seharusnya aku berjalan-jalan." Rezza menyambar topinya lalu melepaskan jasnya. Menggulung kemejanya sampai ke siku.
"Apa perlu saya temani tuan?" tanya Nuri.
"Tidak perlu, kau cari tau saja mengenai mereka. Aku mau sendirian saja. Pergi denganmu pasti nanti membicarakan pekerjaan lagi."
"Mau saya siapkan mobil untuk anda?" tanya Nuri lagi. Bagaimanapun Sakka telah menyerahkan tanggung jawab menjaga putranya pada Nuri. Wanita itu tidak ingin mengecewakan atasannya.
"Tidak, aku tidak ingin menggunakan mobil. Aku akan cari kendaraan lain. Mana dompetku?" tanya Rezza. Tadi dia sempat menyerahkan dompetnya pada Nuri untuk membayar makanan.
"Ini Tuan. Kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk menelepon saya," pesan Nuri saat ia menyerahkan dompet.
Rezza hanya mengangguk lalu pergi. Dia sudah seminggu di kota yang banyak dikelilingi kota wisata itu tapi tidak pernah pergi keluar. Hanya di hotel untuk mempelajari data. Keluar hanya pergi ke proyek saja.
Rezza menoleh ke sekeliling di luar hotel. Dia sedang memilih mau menggunakan kendaraan yang mana. Pilihannya tertuju pada kendaraan umum roda dua yang terparkir di sebelah kanan, di bawah pohon rindang. Ada beberapa kendaraan bermotor yang menunggu penumpangnya.
"Naik ojek sepertinya tidak buruk. Lebih bisa pergi ke tempat-tempat yang sulit di jangkau mobil. Ya itu saja." Rezza berjalan ke arah para tukang ojek berseragam hijau itu. Di Ibukota juga banyak yang seperti itu. Perusahaan ojek online memang sudah maju sangat pesat. Dimana-mana dengan mudah menemukan mitra-mitranya.
"Permisi, ada yang bisa mengantar saya?" kata Rezza.
Tiga orang yang ada di sana menoleh. Kecuali seorang wanita yang tiba-tiba mematung saat mendengar suara itu. Tubuhnya membelakangi Rezza sekarang.
"Kemana mas?" tanya salah satu ojol.
__ADS_1
"Keliling saja pak, bisa kan?"
Mereka saling tatap, memberi kode. Siapa kira-kira yang mau membawa Rezza berkeliling. Kalau Rezza berharap yang masih muda saja, biar kuat keliling-keliling.
Tiba-tiba ponsel mereka berbunyi, orderan tiba-tiba berdatangan. Bukan tidak mau mengantarkan Rezza tapi mereka juga tidak mungkin membatalkan pesanan orang.
"Maaf mas, saya dapat orderan."
"Saya juga mas." Dua sudah pergi. Tersisa satu bapak tua dan Dinda yang masih membelakangi Rezza.
"Jadi bagaimana? Siapa yang mau mengantarku?" tanya Rezza.
Di bapak tua sudah berdiri, harapan Rezza sudah pupus. Eh tapi tiba-tiba tubuhnya bergetar karena ponselnya. "Waahh, saya juga dapat order mas. Kalau begitu dengan dia saja." Bapak itu menunjuk Dinda yang saat ini sedang bergemuruh dadanya. Baru saja dia bernafas lega tapi kemudian tidak jadi.
Si bapak ojol sudah pergi. Rezza menepuk pundak ojol yang tersisa. Dia heran kenapa tidak ada yang mau mengantarnya. Apa mereka takut Rezza tidak mampu membayar.
"Permisi mas. Bisakan mengantar saya. Nanti saya bayar tiga kali lipat," kata Rezza memberi tawaran yang menggiurkan.
Kalau saja yang menawarkan itu bukan pria yang Dinda takutkan kenal. Dia pasti tidak akan berpikir dua kali. Walaupun dia ragu kenapa temannya yang dari ibu kota ada di sana. Tapi dari suaranya dia yakin. Dia masih ingat suara pria itu. Dan sialnya, ponsel Dinda tidak mendapatkan order seperti h
yang lain.
"Mas, bagaimana?"
Dinda menghela nafasnya, lalu memasang maskernya yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Untung masih ada covid yang bisa dijadikan alasan. Tak lupa memasang hodie jaketnya. Tadi dia memakai topi dan rambut panjangnya dia masukkan ke dalam topi. Jadi dari belakang memang terlihat seperti laki-laki.
Dinda berbalik sambil menunduk takut ketahuan. Lalu mengangguk tanpa bersuara. Mempersilahkan Rezza dengan tangannya.
__ADS_1
Rezza pikir apa pemuda itu bisu, kenapa tidak bicara sejak tadi. "Iya, baiklah saya akan naik sekarang." Rezza segera naik saat tukang ojol yang ia kira laki-laki itu sudah menyalakan motornya. Tapi Dinda diam saja. Ya dia tidak tau tujuan pria itu mau kemana.
"Kita mau kemana Mas?"