Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 58


__ADS_3

Seharian ini, Nathan tidak bisa menghubungi Arin. Dia memang sudah lama tidak pergi ke luar negeri karena ada hal penting yang harus ia urus. Dia juga bangga dengan perubahan Arin yang sangat signifikan. Gadis itu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang mengagumkan. Beberapa kali, dia juga mendapatkan laporan kalau ada laki-laki yang berusaha mendekati Arin tapi tidak lama karena gadis itu sudah lebih dulu menolak mereka. Di luar negeri, Arin benar-benar menggunakan waktunya untuk belajar dan belajar. Tidak ada waktu main apalagi waktu pacaran. Dia hanya akan keluar berjalan-jalan kalau Nathan datang ke sana.


"Tuan." Jodi masuk ke ruangan bosnya.


"Apa sudah ada kabar dari orang-orang kita yang aku suruh untuk menjaga Arin?" tanya Nathan.


"Kata mereka sejak kemarin tidak melihat nona Arin keluar dari apartemen. Tapi saat menyuruh seseorang berpura-pura menjadi petugas kebersihan, tidak ada yang menjawab dari dalam. Lalu mereka meminta tolong pada pihak apartemen karena khawatir. Dan setelah pintu dibuka ternyata tidak ada orang, pakaian nona juga sudah tidak ada."


" apa maksudmu apa rin pergi tanpa memberitahuku tapi pergi ke mana dia?


"kemungkinan nona karin pulang ke indonesia tuan"


"apa Arin kembali? kenapa dia tidak memberitahuku. coba kamu cari tahu dulu." Nathan coba berpikir apa mungkin Arin pulang tapi kenapa tidak memberitahu nya dia harus mencari tahu sekarang atau dia tidak akan tenang.


"cepat cari tahu jod! aku mau tahu secepatnya aku tidak mau Arin kenapa-napa!"


" baik tuan, saya akan segera mencari tahu." Jodi keluar dan segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh tuannya.

__ADS_1


Arin kamu kenapa sebenarnya, kenapa aku tidak bisa menghubungi mu apa terjadi sesuatu padamu, kenapa nomormu masih tidak tidak aktif juga.


Nathan begitu frustasi memikirkan Arin, dia berteriak ini semua salahnya yang tidak datang mengunjungi nya padahal dia sudah berjanji.


Sementara di rumah, Arin gadis itu sedang mengenang masa-masa di mana dirinya masih bersama keluarga. Banyak foto dirinya saat masih kecil berjejer rapi di rak penyimpanan. Album foto juga banyak. Beruntungnya karena dulu mereka sering mengabadikan momen apapun yang terjadi. Jadilah banyak kenangan yang bisa Arin lihat kalau rindu.


"Kalian kenapa meninggalkan ku sendirian? Kenapa tidak mengajakku untuk ikut bersama kalian saat itu. Kakek juga, katanya dia akan menemaniku tapi dia malah ikut menyusul kalian." Arin bermonolog dengan foto-foto itu.


Ah ya, mengingat kenangannya saat di desa kakeknya juga sangat indah. Pengalaman yang langka dan Arin ingin mengulanginya lagi. Sementara pabrik peninggalan kakeknya sudah diserahkan pada adik sepupu kakeknya. Orangnya bisa dipercaya, walaupun Arin atau Mike tidak pernah meminta laporan tapi yang merupakan paman Arin itu selalu mengirimkan hasil penjualan pada Mike. Katanya kalau Arin mau mengambil alih pabrik itu juga akan diserahkan. Tapi untuk apa, Arin tidak akan meminta hal itu. Memikirkan perusahaan itu saja sudah beban.


"Terimakasih bibi, terimakasih karena kalian sudah menjaga rumah ini sama seperti dulu," ucap Arin terdengar begitu tulus.


"Sama-sama nona, ini sudah tugas kami. Nona tidak perlu sungkan. Kalau butuh apapun panggil saya kami."


"Terimakasih sekali lagi bibi," Arin membungkukkan tubuhnya. "Kalian beristirahatlah, kedatanganku yang tiba-tiba pasti sudah membuat kalian lelah dan banyak pekerjaan. Tidak perlu sungkan juga denganku. Kalian bisa melakukan apa yang biasanya kalian lakukan."


"Terimakasih nona Arin."

__ADS_1


Pelayan yang ada di sana merupakan pelayan baru yang dicarikan Mike. Kebanyakan pelayan senior yang setia pada kakek dan ayahnya sudah tiada.


Arin melihat ponselnya, banyak panggilan masuk dari Nathan. Dia tidak ingin mengangkat atau melakukan panggilan balik. Biar saja laki-laki itu tau rasa.


Sementara di kantor.


"Tuan, saya sudah menemukan di mana nona Arin berada." Jodi tiba-tiba masuk ke ruangan atasannya. Meski sedang ada klien sekalipun, dia tidak takut dimarahi. Karena urusan Arin selalu menjadi nomor satu bagi atasannya. Kalau ditunda malah dia bisa kena masalah.


"Cepat katakan dimana dia?" Nathan bersemangat dan melupakan dua orang di depannya.


"Nona ada di rumah lamanya tuan, nona baru tiba pagi tadi dari Inggris."


"Benarkah, jadi dia sudah kembali," gumam Nathan senang rasanya. Dia sudah sangat merindukan Arin.


Nathan segera pamit pada kliennya, untunglah mereka pengertian dan membiarkan Nathan pergi dari sana. Diteruskan assisten Jodi.


Pria itu melajukan mobilnya dengan hati yang riang. Sepanjang perjalanan sudah senyum-senyum sendiri. Satu buket bunga kesukaan Arin juga sudah ada di sampingnya. Sudah tidak sabar untuk menemui wanitanya. Dia tidak akan menunda lagi, Nathan akan menyatakan perasaannya saat bertemu nanti.

__ADS_1


__ADS_2