Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 63


__ADS_3

Nathan mengajak Arin untuk menaiki lift yang ada di hotel itu. Gadis itu masih belum tau kalau Nathan sudah menyiapkan sesuatu di roof top.


"Kita mau ke mana Kak? Bukannya mau makan malam, restoran kan ada di lantai bawah?" tanya Arin yang sudah tampil cantik. Sebenarnya dia sudah membayangkan makan malam romantis yang mungkin sudah disiapkan Nathan di restoran. Mungkin saja di pinggir kolam yang sudah dihiasi dengan lilin-lilin yang membentuk hati. Aahh bukankah itu sangat romantis. Tapi sekarang mereka malah menuju lantai paling atas, membuat gadis dengan rambut panjang yang tergerai itu kebingungan.


Nathan hanya bergeming, namanya kejutan tentu dia tidak akan mengatakan apapun. Membiarkan Arin menerka-nerka sendiri.


"Ihh kak Nathan! Aku tanya dari tadi tidak dijawab." Arin merajuk.


Pria yang menggunakan tuxedo yang senada dengan gaun Arin itu menoleh pada gadisnya. Melihat sang gadis mengerucutkan bibirnya, membuat Nathan makin tak sabar untuk mencicipinya.


"Sudah aku bilang ini kejutan. Kau bertanya pun tidak akan aku beritahu." Jarinya menusuk-nusuk pipi Arin yang menggembung.


"Memang tidak bisa apa beri sedikit spoiler. Pelit sekali," cibir Arin.


"Tidak." Kembali memasukkan tangannya dalam saku lalu melihat ke depan.


Arin mendengus kesal dibuatnya.

__ADS_1


Sampai lift berhenti di lantai paling atas. Di sana begitu sepi, hanya ada ruang-ruang yang tertutup rapat. Nathan menggandeng Arin menyusuri lorong. Lalu berhenti di sebuah tangga.


"Ayo," ajaknya.


Arin menurut saja mengikuti kemana pria itu melangkah. Bertanyapun tidak mungkin diberitahu.


Sampai di sebuah pintu, Nathan membukanya perlahan lalu mempersilahkan Arin untuk keluar lebih dulu.


"Kak! Ini ...." Mulut Arin terbuka lebar, matanya mengerjap beberapa kali memastikan apa yang ia lihat ini nyata. Di depannya saat ini, sebuah roof top yang biasanya kosong sekarang sudah di sulap menjadi tempat yang amat romantis.


"Kak dari mana semua foto ini? kapan kak Nathan mengambilnya?" tanya Arin, dia sangat penasaran bagaimana laki-laki yang dingin itu bisa diam-diam mempunyai foto-foto itu.


"I--itu ... tidak penting dari mana aku mendapatkannya. Sudah lihat-lihatnya, ayo duduk." Tanpa Arin tau kalau sejak mereka kecil sebenarnya Nathan suka iseng memotretnya diam-diam. Awalnya hanya untuk mengolok-olok Arin karena dalam foto yang ia ambil kebanyakan Arin sedang berekspresi seadanya. Bahkan ada yang sedang menangis karena ia ledek. Namun, kemudian dia jadi ketagihan mengumpulkan semua foto itu hingga memenuhi ruang penyimpanan di laptopnya.


Mereka sudah duduk berhadapan di sebuah meja kecil yang juga sudah dihias sedemikian rupa. Nathan memberikan isyarat dengan bertepuk tangan. Seketika sebuah lampu-lampu yang sudah ditata dengan apik menyala, bukan hanya itu saja ternyata di sebuah sudut yang tadi gelap ada beberapa orang yang sedang memegang alat musik. Begitu lampu menyala, musik juga dimainkan.


Nathan, pria itu benar-benar tidak berhenti membuat Arin tercengang. Entah dari mana laki-laki itu mendapatkan ide ini semua.

__ADS_1


"Kak ... kau membuatku kagum, apa kakak sedang cosplay menjadi laki-laki yang romantis. Lalu nanti kakak akan melamarku dan kemudian mengatakan April mop," tebak Arin. Ah dia masih tidak percaya kalau Nathan menyiapkan semua ini untuknya. Dia masih mengira kalau pria itu suka mengerjainya.


Padahal Nathan cukup terkejut tadi saat Arin menebak karena sebagian orang dia ucapkan memang benar. Tapi ternyata gadis itu mengira dirinya bukan sedang serius. Biarlah nanti saja dia mengatakannya.


Beberapa pelayan mengantarkan makanan. Semuanya menu favorit Arin. Mereka menikmati makan malam itu diiringi musik romantis. Arin juga tidak masalah kalau memang saat ini hanya untuk mengerjainya. Dia sudah cukup senang.


"Ini enak Kak, rasanya seperti masakan aunty Febby. Aku sangat merindukan aunty, setelah ini kita ke rumah kak Nathan ya," kata Arin sambil mengunyah makanan.


Nathan yang melihat noda saos di sudut bibir Arin pun membersihkannya dengan ibu jarinya.


"Makanlah yang benar, aku kira sudah lebih dewasa tapi ternyata masih seperti Arin beberapa tahun yang lalu."


"Isshh ... apa sih kak." Arin tidak senang mendengarnya. Dia langsung menepis tangan Nathan dan mengelapnya sendiri. Lalu melanjutkan makannya tanpa memperdulikan pria itu.


"Huh menyebalkan, merusak suasana saja. Dasar pria tidak peka! Sebal sebal sebal!!" Arin menggerutu dalam hati. Memotong-motong makanannya dengan kesal.


Nathan gelang-gelang melihat tingkah Arin. Tapi sungguh dia menyukai Arin yang apa adanya seperti ini. Di hadapannya tidak berlagak seperti wanita dewasa. Sudut bibirnya terangkat diam-diam.

__ADS_1


__ADS_2