
Hari-hari Arin disibukkan dengan pekerjaan. Beruntungnya ada Mike yang mendampingi gadis itu, jadilah dia bisa dengan cepat menyesuaikan diri di perusahaan. Orang yang awalnya meremehkannya pun sekarang mulai was-was karena Arin mulai menunjukkan sisinya yang lain. Tegas seperti ayahnya dan cerdik seperti kakeknya. Dalam hitungan hari, semuanya sudah berjalan sesuai keinginannya.
Namun, ada orang yang paling tersiksa dengan kesibukan Arin. Seorang pria yang hampir setiap hari datang ke kantor Arin, bahkan membawa pekerjaannya ke sana. Mungkin saja kalau bisa dia akan memindahkan perusahaannya agar bersebelahan dengan perusahaan Arin.
"Permisi Nona." Sekretaris Arin masuk untuk melapor.
"Ada apa?" tanya Arin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
"Di bawah ada Tuan Nathan," kata si sekretaris. Memang bukan hal yang aneh lagi kalau tiba-tiba pria itu datang.
"Kau tidak perlu melapor kalau kak Nathan datang, dia akan langsung ke sini," sahut Arin.
"Ehemmm i--itu ... di bawah."
"Ya, ada apa di bawah?" Arin menghentikan aktivitas nya dan menatap sekretarisnya yang sepertinya punya sesuatu untuk disampaikan padanya.
"Tuan Nathan tidak datang sendiri Nona."
"Apa maksudmu? Apa dia datang dengan seorang wanita?"
"Ehh bukan seperti itu Nona, tapi Tuan Nathan membawa banyak koki profesional untuk memasak di sini. Selain itu ada banyak sekali bunga yang memenuhi setiap sudut perusahaan."
__ADS_1
Arin menyerngitkan keningnya, kali ini entah apa lagi tingkah sang kekasih. Belakangan ini laki-laki itu memang banyak bertingkah.
Arin segera ke lantai bawah untuk melihat apa yang terjadi di sana. Benar saja banyak bunga-bunga menghiasi perusahaannya. Semua orang menunduk saat Arin datang.
Arin melihat Nathan dari kejauhan, tampaknya dai sedang mengatur sesuatu.
"Kak ...," panggil Arin dengan lembut. Suaranya terdengar merdu di telinga Nathan.
"Sayang, kemarilah. Lihat apa kau suka dengan pengaturanku. Aku sengaja membawa mereka untuk memasak di sini untuk karyawanmu," ujar Nathan.
"Lalu bagaimana dengan bunga-bunga itu? kenapa banyak sekali," tanya Arin.
"Tentu saja karena hari ini spesial, sayang. Aku mengirimkan 999 tangkai bunga mawar merah ke sini." Nathan memandangi Arin yang kebingungan. "Apa kamu tidak ingat hari ini hari apa?"
"Ya ampun, sepertinya aku harus mengingatkanmu sekarang. Hari ini adalah hari perayaan sebulan hubungan kita. Apa kau ingat sekarang?"
Semua orang yang mendengar hampir tidak menyangka kalau seorang Nathan yang bahkan biasanya jarang tersenyum dan dingin. Sekarang bisa bersikap seperti itu. Lalu apa katanya tadi merayakan sebulan hari jadi mereka. ohh itu sungguh manis sekali.
"Kak, ayo kita ke atas," ajak Arin yang malu pada karyawannya.
"Sebentar," ujar Nathan. Lalu dia memerintahkan bawahannya untuk membawakan makan siang mereka ke ruangan Arin.
__ADS_1
Mereka di lift sekarang, Arin diam saja sejak tadi.
"Kenapa diam saja, apa kamu terharu sampai tidak bisa berkata apa-apa karena ini semua," ujar Nathan dengan percaya diri.
"Kakak dapat ide dari mana tentang semua itu. Bukannya perayaan hubungan harusnya setahun sekali. Kenapa jadi sebulan sekali," ujar Arin mengeluarkan unek-uneknya.
"Hehehe ... itu sudah biasanya yang seperti itu. Aku sudah memutuskan untuk merayakannya setiap bulan. Bagaimana?"
Arin hanya meringis dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi dibalik semua itu, Arin bersyukur mempunyai Nathan dan orang-orang yang menyayanginya. Keluarga Febby yang seperti orang tuanya sendiri dan keluarga Lia tak kalah baik.
"Kak, nanti malam aunty Lia mengundang kita semua ke rumahnya. Apa kak Nathan tau ada acara apa di sana?" tanya Arin. Mereka sedang menikmati makan siang yang dimasak koki terkenal.
"Hemm, mom dan Dad juga diminta datang. Sepertinya ada hal penting." Mengunyah makanan.
"Apa tentang Rezza, entah bagaimana kabarnya. Aku sudah lama pulang ke Indonesia tapi belum juga melihatnya."
Cup. Nathan tiba-tiba mencium bibir Arin.
"Kak, kau kenapa tiba-tiba menciumku?"
"Tidak boleh menyebut nama laki-laki lain," Ujar Nathan di depan wajah Arin.
__ADS_1
Arin tersipu wajahnya, sikap Nathan yang manis itu terkadang membuat jantungnya berdebar kencang. "Ayo lanjutkan makannya, aku masih lapar," ujar Arin sambil menahan dada bidang prianya yang hampir saja menempelkan bibirnya lagi.
"Baiklah, kau lolos kali ini. Aku akan membiarkanmu makan, tapi setelahnya jangan salahkan aku tidak menahan diri lagi." Menyeringai lebar.