Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 42


__ADS_3

Rezza mengerlingkan matanya dan melambaikan tangan pada Arin yang duduk di tribun penonton diantara banyaknya penonton yang bersorak-sorai karena mengira Rezza sang kapten basket melambaikan tangan pada mereka. Tentu para gadis menjerit histeris, memekikkan telinga Arin yang duduk diam melihat ketengilan tingkah Rezza di lapangan.


"Anak itu semakin besar kepala saja sekarang," heran Arin. Lalu kepalanya menoleh ke kiri dan kanan mencari sosok gadis tinggi semampai dengan rambut bergelombang yang seringkali di kepang satu. "Dimana Dinda, katanya dia sudah disini kenapa saat aku datang dia sudah tidak ada." Arin masih mencoba mencari temannya. Mau pergi takut kursinya ada yang menempati.


Dinda, gadis yang sedang Arin cari ternyata saat ini sedang berada di mini market yang tidak jauh dari tempat pertandingan basket. Dia baru saja membeli dua kantong minuman, untuk pada pemain basket dari kampusnya. Tentu saja itu atas suruhan Rezza yang belakangan ini suka sekali menyuruh-nyuruh Dinda melakukan apa saja. Dinda mau saja karena laki-laki itu memberinya upah setelannya dan upahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan saat ia bekerja di cafe.


Dinda tampak kesusahan membawa dua kantong plastik minuman yang cukup berat itu. Ditambah cuacanya begitu terik membakar kulitnya. Keringat sudah mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Beruntung jaraknya tidak terlalu jauh. Dinda berjalan tergopoh-gopoh, takut si bos marah karena lama menunggu.


"Hah, sampai juga akhirnya," gumam Dinda saat dirinya sudah memasuki aula tempat pertandingan. Dia kemudian menuju para pemain basket yang sedang melakukan pemanasan.


"Akhirnya minuman kita datang juga, lama sekali. Dari mana saja kau? Kita sudah kehausan sejak tadi," oceh Rezza seperti biasa. Apapun yang Dinda lakukan seperti tidak pernah ada benarnya di mata pria itu.


"Maaf kak, tadi aku sudah berlari agar sampai lebih cepat," kata Dinda. Dia menyerahkan dua kantong plastik itu pada teman-teman Rezza.


"Terimakasih cantik." Teman-teman tim Rezza menggoda Dinda.


"Eh nanti kalau kita menang bagaimana kalau kau ikut merayakan. Ya kan Za, aja saja dia ikut nanti," usul salah satu teman Rezza yang sudah pasti punya maksud lain. Dan itu membuat Rezza sebal karena berpikir Dinda sengaja menggoda teman-temannya.


"Ngapain masih disini! Sana pergi temani Arin," usir Rezza, dia enggan menanggapi ocehan teman-temannya.

__ADS_1


Dinda menurut, dia paling takut melihat Rezza yang sudah marah. Dia tidak tau kenapa tiba-tiba pria itu terlihat marah. Ya sudahlah, lebih baik dia pergi saja dari sana. Menyusul Arin yang sudah menunggunya. Sejak tadi ponselnya bergetar, sepertinya Arin yang mengirimnya pesan tapi Dinda belum sempat membukanya.


Melewati para penonton yang sangat ramai dan berdesakan. Akhirnya Dinda sampai juga ke tempat duduknya.


"Dinda, kau dari mana saja? Apa Rezza menindasmu lagi, dia menyuruh-nyuruh kamu lagi," tanya Arin yang sangat khawatir. Dia tidak suka saat Rezza semena-mena dengan temannya meskipun Dinda di bayar nantinya tapi bagi Arin sama sekali tidak manusiawi.


"Tidak apa-apa kak Arin, aku tidak apa-apa. Tadi kak Rezza hanya menyuruhku untuk membelikan minuman," jawab Dinda sambil tersenyum. Baginya tidak terlalu buruk bekerja dengan Rezza meski kadang dibentak dan banyak maunya, tapi itu lebih baik dari pada dia bekerja di cafe-cafe yang ada bahaya setiap hari untuknya. Seperti om-om rese atau pelanggan yang bermacam-macam.


"Jangan terlalu pasrah Din. Katakan padaku kalau dia sudah keterlaluan padamu."


"Iya kak, lain kali aku bilang pada kakak." Dinda sangat senang bisa berteman dengan Arin yang begitu baik, meski dia kaya dan punya segalanya tapi tidak pernah menindas orang. "Pertandingannya sudah mulai kak, ayo lihat." Dinda bersemangat. Seperti para gadis yang ada di sana. Ya kalau boleh jujur siapa yang tidak kesengsem pada ketampanan Rezza apalagi saat sedang bermain basket yang memperlihatkan otot lengannya yang sangat maskulin.


Dinda sangat mengagumi sosok Rezza saat sedang serius bermain basket. Dari wajahnya jelas sekali menunjukkan perasaannya. 'Kak Rezza sangat tampan saat berkeringat seperti itu. Untuknya aku masih punya kesempatan untuk melihat kak Rezza bermain basket.'


Pertandingan basket siang itu berlangsung sangat panas. Kedua kubu tidak ada yang mau mengalah. Rezza dan teman-teman harus mengeluarkan tenaga ekstra. Suara riuh para penonton menambah semangat mereka bagi para pemain basket. Apalagi ada Rezza yang sangat mencolok mata para penonton dengan bakat dan kemampuannya di lapangan. Dia memang pantas menjadi kapten tim.


"Ya ampun, anak itu jago juga ternyata," kata Arin. Agak berteriak karena di sana begitu bising.


"Iya kak, kak Rezza sangat jago mainnya. Baru beberapa menit sudah bisa memasukkan bola ke ring lawan. Dia juga bisa lompat sampai tinggi itu tadi." Dinda memuji Rezza dengan begitu semangat tampak seperti para fans fanatiknya Rezza. Untung Dinda tidak ikut gabung dengan para fans itu.

__ADS_1


Arin tersenyum melihat Dinda yang begitu mengagumi sosok Rezza.


Pertandingan pun dimenangkan oleh tim basket kampus Rezza dan teman-teman. Mereka sangat puas bisa mengalahkan yang katanya jagoan itu. Usaha dan latihan kerasnya tidak sia-sia.


"Hebat Za, kita berhasil mengalahkan mereka."


"iya, selama ini mereka sangat berlagak. Sekarang baru tau rasa saat ada yang bisa mengalahkannya. Lihat sendiri kan cara bermain mereka yang curang. Untung kita sudah persiapkan sebelumnya. Semua berkat kamu Za. Ide dan triknya sangat berguna."


Rezza tak lantas jadi sombong. "Tidak, semua karena kerja sama kita. Trik yang aku berikan tidak akan berguna kalau kita tidak bisa bekerjasama dengan baik. Kita semua sudah berhasil menunjukkan pada mereka," ujar Rezza.


"Ayo kita rayakan kemenangan kita, ayo ..." Mereka pun berangkat ke tempat biasa mereka berkumpul.


Arin dan Dinda menunggu di dekat tribun. Kata Rezza mereka tidak boleh langsung pergi dan berharap Arin akan mengelu-elukan penampilan Rezza tadi.


Setelah para penonton sebagian meninggalkan tempat itu, Rezza pun berjalan menghampiri Arin dan Dinda. Bisa gawat kalau masih banyak orang. Gadis-gadis bisa langsung histeris.


"Selamat kalian menang." Arin memberikan selamat.


"Terimakasih, Kak Arin sudah datang untuk melihat pertandingan ku." Karena Arin adalah salah satu alasan mengapa Rezza sangat berjuang keras hari ini. Hanya demi menunjukkan kalau Rezza punya kelebihan.

__ADS_1


"Selamat atas kemenangan tim basket kita," kata Dinda yang sedikit grogi melihat pakaian olahraga raga yang dikenakan Rezza basah karena keringat. Sehingga perut kotak-kotaknya tercetak jelas dari luar.


__ADS_2