
Dinda memang menjalani hidup yang cukup sulit setelah pergi dari ibu kota dan menghilang dari teman baiknya. Lalu bukannya kalau dia akan lebih baik hidupnya bisa terjamin dan tidak akan kesusahan seperti itu lagi. Tapi itu semua sudah menjadi pilihan Dinda. Dia sudah memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan orang kaya. Meski dia hidup penuh kekurangan sekalipun itu lebih baik dari pada punya hutang budi pada orang lain.
Sudah malam, Dinda masih berusaha mengais rejeki. Dia sangat amat sadar kalau pada malam hari begini bagi seorang gadis sepertinya memang sangat rawan tapi dia sudah berusaha hati-hati. Dinda melajukan motornya di tempat biasa dia menunggu pesanan. Bersama teman-teman seprofesinya yang lain, untungkah mereka baik tidak menindas Dinda yang masih baru di sini.
Ponsel Dinda berbunyi satu orderan masuk ke akunnya, dia pun pamit pada teman-temannya untuk menjeput pelanggan. Gadis itu berbakaian dan bergaya seperti laki-laki, pakai masker yang menutupi wajahnya. Maka orang awam tidak akan menyadari kalau dia sebenenarnya adalah seorang wanita. Ya itu semua demi melindungi diri orang-orang yang berniat jahat padanya.
Sampai di tempat tujuan, Dinda melihat sekeliling tapi tidak ada siapapun. Tempat itu sangat sepi dan rumah warga kebanyakan sudah gelap, pertanda pemiliknya sudah terlelap. Lama Dinda menunggu, tengkuknya terasa dingin. Dia sudah coba menelepon dan mengirim pesan pada orang itu tapi tidak ada balasan.
'Kurang ajar sekali yang membuat pesanan fiktif ini. Apa mereka tidak tau kalau kami para ojol sudah sangat berharap saat ponsel kami berbunyi. Mereka malah mempermainkan kami.' Dinda kesal tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak tau siapa orang yang sudah mengerjainya. Setelah lelah menunggu gadis itu memutuskan untuk pergi sekaligus pulang ke rumah karena sudah sangat larut.
Malam itu terasa sangat dingin menusuk hingga menembus jaket tebal yang digunakan Dinda. Dia bahkan menggigil saat sedang mengendarai motornya. Tidak ada satupun bintang di langit, yang ada hanya kegelapan dan angin yang berhembus kencang. Bau hujan, ya Dinda bisa menciumnya. Sebagai orang yang sudah cukup mengenal jalanan dia paham kalau sebentar lagi pasti akan turun hujan. Dia bergegas, menambah kecepatan. Beruntung jalanan lenggang jadi Dinda bisa ngebut.
__ADS_1
"Jangan hujan dulu, tunggulah aku sampai rumah," harapnya pada alam dan sang pencipta. Berharap air hujan tidak segera turun, bisa tambah dingin tubuhnya. Dan ia khawatir akan sakit, jika ia sakit maka akan sangat gawat. Tidak ada yang mencari makan, dia dan ayahnya mau makan apa.
Sampai di gang kompleks rumahnya. Dinda sedikit mengurangi kecepatan karena banyak polisi yang sedang tidur di jalanan. Hanya lima meter sudah ada polisi tidur yang lain. Memang benar si, di sana banyak anak-anak yang sudah berlalu-lalang dan polisi tidur itu sangat membantu agar para pengendara tidak ngebut seenaknya.
Sampai di polisi tidur terakhir, Dinda membelokkan motornya masuk ke gang kecil di mana rumahnya berada.
"Akhirnya sampai juga, untunglah belum sampai hujan," gumam Dinda sambil mengucap syukur.
"Pak ... aku bawakan martabat kesukaan bapak," teriak Dinda sambil menenteng kantong kresek berisi sekotak martabat yang tadi sempat ia beli. Dia langsung ke tempat di mana biasanya Bapaknya berada. Di ranjang yang ada di luar kamar. Dilihatnya sang bapak sedang tertidur. "Pak, bangun yuk. Kita makan martabak sama-sama." Dinda coba membangunkan Bapaknya tapi setelah ia tepuk-tepuk tapi Bapaknya sama sekali tidak ada pergerakan.
"Pak ... bapak ... bapak bangun Pak!!
__ADS_1
Dinda berteriak, menggoyangkan tubuh bapaknya tapi sama sekali tidak ada pergerakan apa-apa. Dinda memeriksa denyut nadi dan nafasnya. Dinda menemukan bahwa Bapak masih hidup, meski nadinya lemah dan nafasnya pendek.
Dinda meminta tolong pada tentangga yang mempunyai angkot di rumahnya untuk membawa bapaknya ke rumah sakit terdekat.
"Bertahanlah pak. Jangan tinggalkan aku sendiri pak. Aku cuma punya bapak. Hiks..." Dinda memangku kepala bapaknya, tubuhnya dibaringkan di bawah menggunakan karpet. Dinda terus menangis, wajar saja. Sang bapak adalah satu-satunya keluarganya yang ada. Ada saudara sebenarnya tapi mereka tidak pernah peduli dengan Dinda dan bapaknya.
Sampai di rumah sakit. Sang ayah langsung dibawa ke UGD. Dinda menunggu di luar agar tidak mengganggu dokter yang sedang bekerja. Sedangkan angkot dan supirnya sudah pulang. Mereka bahkan tidak menerima uang sepeser pun katanya untuk bela sungkawa. Padahal Bapaknya masih hidup.
Dokter yang menangani sang ayah sudah keluar. Dinda segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan bapak saya Dok. Dia baik-baik saja kan" tanya Dinda.
__ADS_1