Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 60


__ADS_3

Dinda sudah lelah seharian bekerja. Tubuhnya seperti mau remuk rasanya. Hari ini banyak sekali orderan masuk ke akunnya. Membuat Dinda tidak punya waktu istirahat. Terlebih dia harus selalu waspada karena Rezza ada di kota yang sama. Bisa saja mereka tiba-tiba bertemu lagi. Tapi Dinda punya cara, setiap kali mendapatkan pesanan dari hotel tempat Rezza menginap ataupun di sekitar sana, selalu gadis itu tolak dengan berbagai alasan.


Jam tujuh Dinda sudah memutuskan untuk pulang karena sudah lumayan cukup banyak uang. Kesehatan lebih penting menurutnya karena kalau sampai sakit tidak ada yang merawat. Setelah berpamitan dengan rekan-rekannya dia pergi pulang.


Setelah hampir setengah jam menempuh perjalanan, Dinda sampai juga di kawasan tempat kosnya. Dia memang sengaja mencari kos yang jauh dari kota, yang lebih terjangkau tepatnya.


"Tumben sekali gang ini terang, siapa yang memasang banyak lampu di sini." Dinda bergumam sendiri melihat jalan menuju kos nya yang melewati gang itu diterangi lampu sepanjang gang. Padahal biasanya gelap gulita, hanya ada cahaya dari lampu motornya.


Tanpa curiga sedikitpun Dinda melanjutkan perjalanannya. Mungkin warga atau pemilik kos yang memasang lampu.


Sampai di depan kamar kos nya, Dinda lebih terkejut saat melihat di depan kamar kosnya ada begitu banyak barang. Dari mulai kasur busa, lemari pakaian, kulkas, kompor dan lainnya.


"Milik siapa ini?" Dinda bertanya-tanya.


"Milik kamu Din." Suara seseorang mengejutkan Dinda.


"Bu Jamal, apa maksud ibu. Aku tidak pernah membeli semua ini."


"Eh itu maksudnya itu milikku, tapi ibu membeli itu untuk melengkapi fasilitas kamar kos ini." Sedikit gugup dan berkeringat.

__ADS_1


"Ini semua fasilitas dari Bu Jamal? Tapi bagaimana dengan biaya kos nya? Apa naik juga kalau fasilitasnya selengkap ini?" tanya Dinda sedikit takut tiba-tiba harus membayar uang kos yang harganya selangit. Lebih baik dia pindah.


"Tidak, tidak. Masih sama seperti dulu. Itu hanya pelengkap saja."


"Benarkah, apa ibu tidak rugi kalau fasilitasnya selengkap ini tapi biayanya murah?" tanya Dinda curiga.


"Ish kau itu banyak sekali bertanya. Sudah, kau buka saja pintunya biar orang-orang ibu yang bantu bawakan ke dalam." Langsung pergi karena tidak ingin banyak ditanya lagi.


"Aneh," gumam Dinda.


Barang-barangnya tadi sudah ada di dalam kamar kos Dinda yang lebarnya tidak seberapa ditambah dengan barang-barang itu rasanya penuh sesak kehabisan nafas. Dia juga sempat protes karena hampir tidak bisa bergerak. Alhasil tidak semua barang dimasukkan. Ada yang ditaruh di depan kamar seperti mesin cuci dan kompor agar semua penghuni kos bisa ikut memakainya. Sementara kulkas hanya untuk Dinda sendiri, kalau makanan tidak perlu dibagi.


"Eh tapi tunggu dulu! Bukannya tadi Bu Jamal bilang ini adalah fasilitas kos. Lalu kenapa yang lain tidak seperti ini juga. Tadi kata Bu Jamal mesin cuci dan kompor bisa digunakan bersama, artinya hanya aku yang dapat. Tapi kenapa? Apa karena aku selalu bayar tepat waktu."


Pusing memikirkan hal itu, akhirnya Dinda memutuskan untuk mulai menjelajahi alam mimpi. Besok saja bertanya pada Bu Jamal. Istirahat lebih penting dari apapun.


Paginya. Belum juga Dinda membuka mata. Dia sudah diganggu dengan suara berisik di depan kamar kosnya. Suara orang dan suara barang-barang saling besgesekan. Dan satu lagi, ada bau masakan yang juga menggangu indra penciumannya.


"Bau apa ini? Kenapa enak sekali baunya." Hidungnya mengendus. Mencari sumber bau.

__ADS_1


Mata Dinda langsung terbuka lebar saat melihat seorang pria berpakaian serba putih dengan topi putih tinggi. Seperti koki-koki di hotel mewah.


"Dinda sini cepat." Panggil Bu Jamal.


"Bu ada apa ini? Apa ibu yang memanggil koki itu?"


"Iya, itu ibu siapkan khusus untuk penghuni kos. Bagaimana, kamu suka?"


"Kalau gratis aku suka Bu, tapi kalau bayar lebih baik aku beli rames di depan saja," kata Dinda.


"Tentu saja gratis, tenang saja."


Dinda menikmati sarapannya. Enak, dia suka. Yang lain juga. Mereka makan sama-sama di depan kamar ada meja panjang yang disiapkan Bu Jamal. Wanita yang biasanya pelit dan kikir tiba-tiba berubah baik dan royal, membuat semua orang bertanya-tanya. Selama mereka kos di tempat itu, hanya kasur lantai fasilitasnya. Mereka yang uangnya pas-pasan terpaksa mau karena biayanya murah. Dari pada hidup di jalanan.


"Terimakasih Bu Jamal. Sering-sering saja seperti ini." Mereka terkekeh.


"Tenang-tenang, selama ada Dinda di sini. Hidup kalian juga tidak akan susah."


Dinda menyerngitkan keningnya. Bu Jamal keceplosan.

__ADS_1


__ADS_2