
Dinda menceritakan bagaimana awalnya dia bertemu dengan Rezza. Lalu bagaimana Rezza diam-diam membantunya, memberikan fasilitas di tempat kosnya. Sampai Dinda harus pindah tempat kos beberapa kali tapi tetap saja Rezza berhasil menemukannya dan memberikan perlakuan yang sama. Sebenarnya tidak rugi juga untuk Dinda hanya dia tidak ingin tergantung lagi pada orang lain. Sampai Rezza mengatakan sesuatu yang membuatnya merasakan ketulusan Rezza.
"Sampai ke ujung dunia pun aku akan mengejarmu, aku sudah menunggu sejak lama. Tidak akan aku biarkan kamu pergi lagi, jadi bergantunglah padaku, Dinda. Aku mohon berikan aku kesempatan," kata Rezza saat mereka masih ada di Jogja.
Setelah itu hubungan mereka mulai membaik, Dinda tidak lagi menghindari Rezza dan tidak menolak apa yang Rezza berikan asal tidak berlebihan. Gadis itu juga memberikan Rezza kesempatan untuk mengejarnya. Setiap hari ada saja cara lelaki itu untuk dekat dengan Dinda dan mengekori gadis itu kemana-mana. Sampai saat hanya tersisa dua hari Rezza berada di sana karena proyek yang ia awasi sudah hampir selesai.
"Dua hari lagi, aku akan pulang. Maukah kau ikut denganku. Aku ingin membawamu pulang dan memperkenalkannya pada orang tuaku. Ijinkan aku menjagamu selamanya, jadilah istriku Dinda. Aku mencintaimu, Dinda. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi."
Saat itu Dinda tidak langsung menjawab, dia masih begitu syok mendengar pengakuan Rezza. Apa lagi mengajaknya menikah. Itu sungguh di luar dugaan Dinda. Meskipun dia juga sebenarnya merasakan hal yang sama tapi banyak sekali pertimbangan yang membuat Dinda ragu sebelumnya. Sampai akhirnya dia benar-benar merasa takut berpisah dengan Rezza. Dia pun berhasil melawan semua rasa kurang percaya dirinya.
"Jadi begitu kak Arin. Aku pikir awalnya mungkin saja keluarga kak Rezza akan menolak kehadiranku. Mungkin pada akhirnya aku harus pergi lagi. Tapi aku sudah bertekad akan melawan apapun itu asal aku tetap bersama kak Rezza," ujar Dinda malu-malu.
"Tidak semua orang kaya seperti yang kamu pikirkan, Kami tidak seperti itu, harta itu hanya titipan. Suatu saat bisa diminta lagi, dan tidak dibawa mati. Untuk apa menyombongkan diri karena harta."
"Iya kak, aku tau kalian berbeda. Keluarga kak Rezza juga begitu hangat padaku. Tidak memandang aku rendah walaupun aku tidak sepadan dengan mereka. Bahkan keluarga saja sudah tidak punya." Dinda tersenyum kecut. Alangkah baiknya kalau dia punya sedikit saja yang bisa ia banggakan agar Rezza tak malu memilikinya.
"Kau tidak boleh berbicara seperti itu, kau punya kami sekarang. Jangan pernah merasa sendirian lagi, aku akan senang kalau kau merepotkanku."
"Terimakasih Kak." Dinda merasa seperti mempunyai saudara perempuan sekarang. Orang tua yang lengkap juga, karena Lia dan Sakka memperlakukannya dengan sangat baik dan bonusnya dia juga punya kakek sekarang. Kakek Bayu yang begitu begitu perhatian dan membuatnya terhibur.
Setelah cukup mengobrol Arin dan Dinda turun ke bawah. Ternyata semua orang sedang ada di halaman belakang.
"Ayo ke sana, sepertinya mereka sedang berbeque tanpa kita." Arin langsung menarik Dinda untuk menyusul mereka.
Sampai di sana para laki-laki sedang membakar daging, ikan dan aneka seafood. Sedangkan para wanita menunggu di meja yang disediakan.
"Arin, Dinda. Sini nak, biarkan saja mereka menyelesaikan tugas mereka. Kita duduk saja di sini," panggil Lia, yang duduk bersama Febby serta kakek Bayu.
Arin sempat melirik Nathan, pria itu mengangguk dan menyuruhnya untuk duduk. Lewat matanya. Begitupun dengan Rezza yang senyam-senyum tidak jelas pada Dinda, seolah-olah dia sedang menunjukkan kalau dia bisa membakar makanan itu dengan baik.
"Hai kau, cepat kipas lagi. Berhenti memandangi gadis itu. Dia tidak akan berkesan melihatmu seperti itu," seloroh Sakka pada putranya.
__ADS_1
"Sudah-sudah, mereka masih muda. Wajar saja. Bahkan Nathan lebih parah dari putramu. Dia kalau sudah bersama Arin pasti akan keliatan bucin parah." Mike ikut menyindir putranya. Mereka berdua pun tertawa mengingat tingkah putra-putra mereka.
"Dad!"
"Pah!"
Sentak Nathan dan Rezza bersamaan lalu mencebikkan bibirnya sebal.
Malam itu begitu hangat, kebahagiaan dan kasih sayang menyelimuti mereka. Ada doa dari mereka yang telah tiada, yang juga ikut tersenyum melihat putrinya dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Mereka akhirnya sudah bisa tenang di alam sana. Menyerahkan putrinya kepada laki-laki yang tepat.
"Bagaimana kalau pernikahan mereka dilakukan di hari yang sama saja," usul Febby.
"Ide bagus, kami setuju saja."
"Tidak bisa!" tolak Nathan tiba-tiba saja. Membuat semua orang melihatnya termasuk Arin yang sedikit kecewa. Mungkinkah Nathan belum ingin menikah.
"Kenapa nak? Kalau kau setuju kita akan mengadakan pesta pernikahan dua bulan lagi. Mommy dan Daddy sudah sepakat dengan aunty dan uncle," tanya Febby.
"Tapi nak ..." Saat Febby mau membujuk putranya lagi tiba-tiba Arin menggenggam tangannya agar tidak memaksa Nathan. "Baiklah, terserah kau saja," kecewa Febby.
Pernikahan Rezza dan Dinda sudah sepakat diadakan dua bulan lagi dari sekarang. Sementara, Arin dan Nathan mereka belum memutuskan.
Sepanjang perjalanan pulang, Arin hanya diam. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya tapi dia tidak ingin membuat Nathan tertekan karena keinginannya untuk cepat menikah. Sampai di rumah Arin pun keduanya masih diam.
"Aku masuk dulu kak," ujar Arin mengeluarkan suara lebih dulu. Dia merasa Nathan tidak akan mengatakan apapun. Dia pun langsung membuka pintu mobilnya.
Namun, tiba-tiba saja tangannya di tarik dan membuatnya berbalik menghadap pria yang sejak tadi diam itu.
"Apa ada yang mau kak Nathan bicarakan?" tanya Arin. Bukannya menjawab Nathan malah mendaratkan bibirnya, melu-maat bibir Arin penuh perasaan. Ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi tidak bisa. Hanya dengan cara itu dia bisa mengutarakan maksudnya.
Arin terpaku, pikirannya berkecamuk. Entahlah, tiba-tiba saja pikirannya dipenuhi dengan pikiran buruk. Walaupun begitu dia tetap membalas apa yang Nathan lakukan.
__ADS_1
"Hah hah ..." Nathan menempelkan kening mereka. "Kau percaya padaku kan? Tolong jangan pikirkan apapun," katanya.
Arin hanya mengangguk, perkataan Nathan selalu seperti sihir untuknya. Percaya artinya percaya. Dia akan selalu percaya pada Nathan.
"Baguslah. Sekarang kau istirahatlah. Jangan pikirkan apapun lagi. Aku mencintaimu," bisik Nathan dan mendaratkan kecupan singkat.
Setelah kepergian Nathan, Arin memandangi mobil itu yang semakin menjauh dari kamarnya. Ya, Nathan selalu menunggu Arin masuk sampai kamarnya, barulah dia pergi.
"Kak Nathan, sebenarnya kau kenapa?" gumam Arin bertanya-tanya.
Paginya. Karena ini hari Minggu. Arin pun bangun sedikit siang. Apalagi semalaman dia tidak bisa tidur karena terus memikirkan Nathan yang aneh.
Tok tok tok.
"Nona, apa anda sudah bangun?"
Mendengar hal itu membuat tidur nyenyak gadis yang beberapa jam yang lalu baru memejamkan matanya.
"Eeuughhh ... ada apa Bi," jawab Arin dengan suara sedikit serak.
"Ada tuan Nathan di bawah Non. Katanya nona disuruh bersiap-siap karena tuan Nathan akan mengajak nona pergi."
Mendengar nama Nathan membuat Arin membuka mata. Untuk apa pria itu ada di sana pagi-pagi sekali, di hari libur lagi. Tapi karena Arin selalu senang kalau pria itu datang. Dia langsung melompat turun dan membuka pintu.
"Bibi tidak bohong?" tanya Arin sambil melihat ke bawah, sama sekali tidak terlihat.
"Iya non, tuan sedang menyiapkan sarapan untuk nona."
Arin tersenyum, meskipun semalam dia menyebalkan tapi kalau diperhatikan seperti itu siapa yang tidak luluh.
"Baiklah aku akan bersiap." Arin langsung menutup pintu samping membuat bibi pelayan terlonjak kaget.
__ADS_1