Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 57


__ADS_3

Mendengar suara tukang ojek didepannya Rezza merasa seperti tidak asing dengan suara itu. Tapi tidak begitu jelas karena orang itu menggunakan masker dan helm.


"Kemana saja mas, tempat yang indah di sini sambil merasakan semilir angin sore hari di Jogja." Rezza butuh sesuatu yang bisa menghilangkan penatnya, setelah bekerja keras mengikuti perkembangan proyek.


'Tidak jelas sekali orang ini, masih sama seperti dulu.' Dinda geleng-geleng kepala, lalu mulai menjalankan motor maticnya. Memecah jalanan kota itu yang cukup ramai di sore hari yang cerah.


Dan sore itu pun mereka menghabiskan waktu berdua. Berboncengan meski seperti orang asing tapi sebenarnya hati mereka begitu dekat. Setelah puas berkeliling, Rezza minta diantar ke tempatnya menginap. Sebenarnya dia penasaran dengan sosok yang sejak tadi membawanya pergi berkeliling. Dia sama sekali tidak bisa melihat wajahnya dan Rezza agak sedikit cemas kalau ternyata orang itu berniat jahat bagaimana. Dia tidak tau wajah orang itu.


Cit! Dinda menghentikan motornya tepat di depan pintu masuk hotel. Menyuruh pria itu turun. Jangan sampai dia terlalu nyaman di boncengannya.


"Kita sudah sampai Tuan," kata Dinda mengingatkan tapi dengan suara yang ia buat.


"Oh udah sampai ya." Rezza turun lalu merogoh sakunya untuk mengambil uang. Tapi ternyata dia tidak membawa dompet ya.


Sedangkan Dinda masih dia di sana menunggu bayaran yang dijanjikan. Yang katanya akan dibayar tiga kali lipat. Lumayan, Dinda bisa menggunakan uang itu untuk keperluan sehari-hari yang sudah pada habis.


"Mm ... begini mas. Dompet saya sepertinya ketinggalan di kamar. Apa kau mau menunggu dulu di sini dan aku ambil dompetnya atau ikut saja ke dalam.


'Sialan!! Ternyata tidak membawa dompet. Apa dia pura-pura atau tidak berbohong. Masih saja ceroboh seperti dulu.'


"Tidak usah, aku pergi saja. Hitung-hitung sedekah pada orang kaya," kata Dinda, lalu dia mulai menyalakan motor nya mau pergi dari sana.

__ADS_1


"Ehh tunggu, sekretarisku sedang menuju ke sini. Aku akan membayarnya," kekeuh Rezza, dia tidak ingin berhutang budi apalagi tadi sudah berkeliling ke tempat yang jauh dan pasti melelahkan. Bagaimana mungkin dia malah tidak membayar.


Dinda menghela nafas, lalu menunggu karena memang dia butuh uang. Uang yang dijanjikan Rezza cukup banyak jumlahnya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Itu dia, cepat-cepat mana dompetnya." Rezza memanggil Nuri agar cepat dan menanyakan dompetnya. Padahal Nuri sudah berlarian ke sana-kemari agar cepat. Nafasnya saja masih ngos-ngosan.


Rezza senang dompetnya kembali. Kemudian dia mengeluarkan beberapa lembar Uang yang ia janjikan. "Ini bayaranmu," kata Rezza sambil menyerahkan lima lembar uang pecahan seratus ribuan.


"Ini terlalu banyak Tuan." Dinda mengembalikan dua lembar pada Rezza.


"Tidak, itu untukmu. Kau ambil saja kembaliannya," tolak Rezza.


Sedangkan Nuri masih mengatur nafas, dia memperhatikan ojol itu. Dia berpikir seperti pernah bertemu dengannya. "Hai mbak yang tadi siang mengantarkan makanan kan?" tanya Nuri.


"Ah iya mbak, kalau begitu saya permisi," pamit Dinda.


"Apa dia perempuan?" tanya Rezza. Dia mematung di tempat sampai Dinda benar-benar sudah menghilang.


"Iya Tuan, tadi saja memesan makanan lewat aplikasi dan dia yang mengantarkannya. Kenapa Tuan, apa ada masalah.


Rezza mengingat-ingat suara ojol itu. Lalu ia bandingkannya dengan seseorang yang sudah lama tidak ia temui. Deg. Apa mungkin mereka orang yang sama.

__ADS_1


"Nuri, tolong kamu selidik identitas wanita tadi," perintah Rezza.


"Ada apa Tuan, apa anda mengenalnya?"


"Ya, mungkin saja dia adalah orang yang aku cari-cari selama ini. Aku harap begitu, sudah sangat lama aku tidak bertemu dengannya. Kalau memang dia adalah gadis itu, tidak akan aku biarkan dia pergi lagi." Tekad Rezza.


,,,


Di tempat lain.


Hari ini Arin akan kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikannya. Dia sudah siap untuk mengambil alih perusahaan keluarganya. Tapi dia tidak akan mengambil apa yang seharusnya milik orang yang sudah sangat berjasa padanya.


Dengan rambut panjang yang tergerai indah, Arin menyeret kopernya keluar dari pintu bandara. Dia sengaja tidak memberitahukan siapa-siapa mengenai kepulangannya. Terutama pada pria yang sudah sebulan ini tidak menemuinya. Dia mengingkari janjinya sendiri yang katanya akan sering berkunjung melihat Arin.


Arin pergi dari bandara menggunakan taksi. Dia tidak kembali ke rumah Febby, tapi dia berniat pulang ke rumahnya sendiri. Dia sudah tidak ingin merepotkan siapa-siapa lagi. Nanti dia akan berkunjung menemui Febby dan memberikan mereka kejutan.


"Kita sudah sampai Nona," kata supir taksi.


"Terimakasih pak, bisa tolong turunkan koperku," ujar Arin sambil menyerahkan uang.


"Tentu nona."

__ADS_1


Arin turun dan memindai sekeliling. Rumahnya masih sama seperti dulu saat ia kecil, saat keluarganya masih ada.


"Ibu, ayah, kakek. Aku sudah kembali."


__ADS_2