
Nathan memandang wanita muda yang sedari tadi tersenyum manis padanya. Sama seperti wanita-wanita yang biasanya tertarik padanya memang akan memasang senyuman yang sangat manis. Berharap seorang Nathan tertarik pada mereka.
"Hai, namaku Namira." Wanita itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Nathan.
Nathan yang jarang sekali bersentuhan dengan lawan jenisnya selain Arin tampak ragu menjabat tangan wanita bernama Namira itu. Tapi sejak tadi mata Omanya selalu mengawasi, menyuruhnya untuk menjabat tangan.
"Nathan," katanya sangat singkat sesingkat ia menjabat tangan wanita itu juga. Hanya menempel sekilas saja.
Wanita itu cukup senang bisa bersentuhan langsung dengan seorang Nathan. Seandainya saja dia bisa mengabadikan momen itu, dia bisa memamerkannya pada teman-temannya. Pasti mereka iri karena Namira punya kesempatan untuk sedekat itu dengan pria idaman banyak wanita.
"Maafkan cucuku, cantik. Dia memang kaku dan tidak banyak bicara." Oma Wina menjelaskan, takut temannya tersinggung dengan sikap Nathan.
"Tidak apa-apa Wina, kita baru pertama kali bertemu jadi pasti masih canggung. Ayo duduk, silahkan nak. Kau juga duduk," titah nenek Dona.
mereka sudah duduk berhadapan, Oma Wina dengan temannya dan Nathan dengan wanita itu yang sejak tadi mencuri pandang padanya. Nathan sangat berharap Omanya segera menyelesaikan urusannya agar mereka bisa cepat pulang. Dari pada disini, Nathan lebih memilih di rumah saja. Siapa tau Arin melakukan kesalahan lagi jadi mereka bisa melakukan hal yang seperti semalam. Oh tidak, Nathan masih mengingat bagaimana rasanya bibir Arin. Sangat lembut dan manis.
Nathan tersenyum sendiri sedang membayangkan apa yang terjadi tadi malam. Tapi rupanya wanita di depannya salah sangka, ia kira Nathan tersenyum padanya. Kedua nenek itupun sama, mereka mengira cucu-cucu mereka sedang saling melempar senyum.
"Cucumu sepertinya tertarik pada cucuku," bisik nenek Dona, tanpa didengar oleh Nathan dan Namira.
"Itu bagus, rencana kita akan berjalan lancar kalau mereka saling menyukai. Bagaimana dengan cucumu, apa dia tau rencana kita?" tanya Oma Wina yang berbisik juga.
"Aku sudah memberitahunya dan dia sangat senang, sepertinya cucumu memang idola pada wanita," cicit nenek Dona sambil membayangkan bagaimana keluarganya akan jadi keluarga konglomerat kalau cucunya bisa menikah dengan Nathan.
__ADS_1
"Baguslah, kita harus segera bertindak membuat mereka lebih dekat."
Mereka pun makan siang bersama di restoran itu. Nathan hanya sedikit makan karena dia tidak berselera makan mendengar para nenek yang terus membicarakan kelebihan wanita di depannya itu. Yang menurut Nathan biasa-biasa saja. Bahkan sama saja seperti karyawannya di kantor juga banyak wanita karir.
"Ya ampun kau hebat sekali nak. Masih muda sudah sukses dan mandiri. Seperti cucuku juga berhasil mendirikan perusahaannya sendiri tanpa bantuan orang tuanya," kata Oma Wina. Dia berbinar menatap Namira. Yang digadang-gadang bakal jadi calon cucu menantu.
"Terimakasih Oma, aku hanya melakukan apa yang aku suka. Menurutku semua itu bukan apa-apa karena masih banyak hal yang belum aku capai," kata Namira, dia merendah untuk menarik perhatian Oma Wina.
"Sudah cantik, baik, wanita karir, pasti banyak laki-laki yang mengantri untuk jadi pacarmu," puji Oma Wina lagi.
Nathan hanya menyimak sambil menikmati minumannya tanpa ingin ikut berbicara, dia sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan mereka. Apalagi dengan wanita di depannya yang terkesan berlebihan. Padahal banyak wanita yang mendekati Nathan bahkan lebih dari apa yang wanita itu punya. Karis, jabatan, bahkan banyak dari kalangan bangsawan di luar negeri juga pernah tertarik pada Nathan tapi tidak membuat Nathan tertarik pada mereka. Hanya beberapa saja yang ia jadikan pacar, itupun tidak berlangsung lama. Apalagi wanita seperti Namira yang banyak jenisnya.
"Benarkan nak, Namira ini wanita yang sangat sempurna. Dia punya segalanya dalam dirinya," kata Oma Wina pada Nathan.
"Hahaha ... cucuku ini memang suka bercanda. Maaf ya, dia tidak mendengarkan mungkin karena sejak tadi terpesona pada nak Namira." Oma Wina menyenggol lengan cucunya agar mengiyakan perkataannya. Tapi bukan Nathan namanya kalau melakukan hal yang bertentangan dengan kata hatinya.
"Tidak Oma, aku memang tidak dengar karena memang tidak penting." Menyeruput kembali minumannya. Untuk apa dia memikirkan orang yang hanya ingin menumpang ke atas dengan jalan pintas. Nathan bukan orang yang mudah dibodohi.
Nenek Dona dan Namira langsung kesal karena Nathan menyepelekan mereka dan terkesan sombong. Apalagi Namira langsung mati Kutu. Dia kira sejak tadi pria itu sudah berkesan padanya tapi ternyata tidak menganggapnya sama sekali.
"Maaf Don, cucuku ini memang terbiasa memikirkan bisnis saja. Aku harap kalian bisa mengerti," pinta Oma Wina pada temannya. Ia yakin mereka juga tidak mungkin kesal padanya karena sikap Nathan, karena pasti meraka ingin Nathan jadi anggota keluarganya.
Nenek Dona langsung menarik sudut bibirnya ke atas, mencoba tersenyum. Tidak masalah dia diremehkan saat ini demi mencapai tujuannya. Ini kesempatan emas agar bisa menaikkan derajat keluarganya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Win. Kami mengerti, cucumu bisa hadir disini saja sudah sangat luar biasa. Pasti jadwalnya sangat padat," ujar nenek Dona yang menoleransi sikap kurang ajar Nathan padanya.
Mereka pun kembali berbincang sampai sore, tepatnya sampai Nathan bosan mendengarnya. Terlebih obrolan mereka yang selalu seputar wanita itu dan dirinya, entah punya tujuan apa. Mungkin saja nenek itu ingin cucunya bisa dekat dengan Nathan. Tapi Nathan tidak tau kalau Omanya yang merencanakan hal itu untuknya.
"Oma, apa masih lama? Bukankah Oma mau jalan-jalan, mau sampai kapan kita berada disini." Nathan mulai mengeluh pada Omanya.
"Ah iya, Oma lupa. Oma terlalu asyik mengobrol dengan nenek Dona. Apa kalian mau ikut kami berjalan-jalan, ayo kita ke kebun buah anggur yang dulu sering kita kunjungi. Di sana juga ada lapangan golf, sudah lama sekali aku tidak main golf." Oma Wina mengedipkan sebelah matanya pada nenek Dona.
"Oh tentu, aku juga sudah lama tidak bermain golf. Entah apa pinggangku masih kuat seperti dulu, hahaha ...." nenek Dona tertawa.
"Bagaimana denganmu nak Namira? Apa kau punya janji lain, atau ikut dengan kami?"
"Tidak ada Oma, hari ini aku sengaja meluangkan waktu untuk nenek," katanya dengan lemah lembut.
"Beruntung sekali kau punya cucu yang sangat perhatian padamu, Don." Oma Wina mulai lagi dan hal itu membuat Nathan malas. Dia lantas berdiri sebelum nenek Dona menyahut lagi.
"Ayo Oma, nanti keburu petang. Aku masih harus melanjutkan pekerjaanku," kata Nathan.
"Ish kau ini, pekerjaan saja yang dipikirkan."
Nathan membantu Omanya berjalan menuntunnya keluar dari restoran itu.
Sampai di depan ...
__ADS_1