
Ternyata Nathan telah menyiapkan kejutan yang romantis untuk Arin. Gadis itu diminta memakai gaun yang sudah ia siapkan dan didandani oleh perias yang Nathan kirim ke sebuah hotel tempat kejutannya berada.
"Sudah nona, anda sungguh sangat cantik sekali."
Arin tersenyum di depan meja rias. Dirinya memang sangat cantik menggunakan gaun yang dipilih oleh Nathan. Ukuran dan modelnya sangat cocok di tubuh Arin. Padahal kata perancang gaunnya, gaun itu dipesan sebulan yang lalu sesuai ukuran yang diberikan oleh Nathan. Entah dengan apa pria itu mengira-ngira ukuran tubuh Arin. Memang selama di luar negeri setiap bertemu pasti Nathan memeluknya tiba-tiba apa iya hanya dengan cara itu saja.
"Apa ini cocok denganku, kenapa Kak Nathan bisa tau ukuran tubuhku. Tapi bagus juga seleranya. Warnanya juga aku suka."
Tanpa Arin tau sejak tadi para perias dan beberapa orang yang membantunya berdandan sudah keluar saat seseorang masuk ke kamar itu tanpa Arin tau. Nathan memandangi Arin. Lebih cantik dari yang ia bayangkan. Dia juga senyum-senyum sendiri mendengar celotehan Arin yang membicarakannya.
"Sangat cantik," ujar Nathan.
Mendengar suara seseorang Arin langsung berbalik. Dia sangat malu karena ternyata sejak tadi ada Nathan di belakangnya.
"Kak Nathan sejak kapan kau di sana?" tanya Arin matanya memindai seisi ruangan. Kemana para pelayan yang tadi ada di sini, pikirnya.
"Sejak kau membicarakanku." Berjalan mendekat ke wanitanya.
"Kapan? Kapan aku membicarakan kakak?" Arin salah tingkah, dia terus mundur. Malu ditatap seperti itu.
__ADS_1
"Oh yaa? Kenapa tadi aku mendengar kau menyebutkan namaku?" tersenyum menyeringai melihat Arin malu.
Arin sudah tersudut, punggungnya sudah menabrak tembok di belakangnya. Sedangkan Nathan masih terus maju, menguncinya dengan kedua tangannya.
"Aku tidak membicarakan kakak, aku hanya ..."
"Hanya ngedumel, apa kau tidak suka dengan gaunnya? Kalau tidak aku akan menyuruh orang untuk mengganti dengan yang lain."
"Aku suka Kak, siapa juga yang bilang tidak suka. Huft." Arin menghembuskan nafas kasar.
"Lalu?" Pria itu menaikkan kedua alisnya.
"Hanya dengan melihatnya saja aku sudah tau."
Mata Arin membola, kemudian dia menutupi bagian sensitif tubuhnya. Menyilangkan ke dua tangannya ke depan dada. Apa maksudnya dengan hanya melihat bisa tau ukurannya. Nathan seperti pria mesuumm saja. Apa mungkin dia juga tau ukuran b-raa Arin.
"Apa yang kau pikirkan?" Nathan menyentil kening Arin.
"Ehh itu ... tadi kakak bilang hanya melihat bisa tau ukurannya. Jadi apa kakak juga tau ukuran yang lain?"
__ADS_1
"Apa maksudmu ukuran pakaian dalammu? Hahaha ..." Pria itu tertawa. "Kau percaya dengan apa yang aku katakan? Arin ... Arin ... mana mungkin aku bisa tau hanya melihatnya. Bukankah aku selalu memelukmu kalau bertemu, ya aku hanya mengira-ngira dari itu. Dan kalau ukuran yang lain tentu saja aku tidak tau karena aku belum menyentuhnya."
Blush. Pipi Arin langsung merona malu karena telah berpikir yang tidak-tidak.
"Kakak ... kau mengerjaiku," protes Arin sambil memukul-mukul dada Nathan.
Hap. Nathan berhasil memegang kedua tangan Arin dan menempelkannya ke tembok. Mendekatkan wajahnya. Hembusan nafasnya sampai menyapu seluruh wajah Arin. Jantungnya mendadak melompat-lompat dari tempatnya.
"Kenapa kak Nathan sedekat ini, apa dia mau menciumku. Ah aku sangat gugup, apa aku harus memejamkan mata sekarang." Arin mengikuti apa kata hatinya, matanya terpejam karena berpikir pria itu akan mendaratkan bibirnya.
"Kenapa lama sekali, kenapa kak Nathan belum juga menciumku. Aku sudah sangat berdebar menunggunya, aku sudah sering menontonnya di dalam drama. Aku akan mempraktekkannya sekarang. Semoga saja aku tidak membuat kak Nathan kecewa."
Sedangkan Nathan saat ini sangat gemas melihat ekspresi Arin. Gadis itu memejamkan mata pasti mengira karena dirinya akan menciumnya. Tentu saja dia sangat ingin tapi merasa belum saatnya. Harus bersabar sedikit lagi sampai nanti malam. Agar apa yang ia rencanakan lebih berkesan untuk mereka berdua.
Lama menunggu tiba-tiba sesuatu yang hangat menyentuh kening Arin. Matanya sedikit membuka untuk mengintip apa yang terjadi. Ternyata pria itu bukannya mendaratkan kecupan di bibirnya tapi di keningnya. Mendadak Arin sedikit kecewa, ah padahal dia sudah bersusah payah berlatih dengan menonton drama tapi tidak juga digunakan.
"Tidak sekarang, tunggu nanti malam," ujar Nathan sambil mengusap lembut bibir Arin setelah mendaratkan kecupan di kening gadis itu.
Deg deg. "Aaaa jantungku berdebar kencang sekali. Apa maksudnya kak Nathan bicara seperti itu." Batin Arin meronta-ronta.
__ADS_1