Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 61


__ADS_3

Kehidupan Dinda berubah 180°, apa-apa sudah terpenuhi. Kalaupun tidak bekerja juga masih bisa makan dari fasilitas yang diberikan bu Jamal. Tapi justru hal itu rasanya aneh. Dia merasa ada yang salah. Sampai dia memutuskan akan pindah kos-kosan tapi Bu Jamal menahannya.


"Sepertinya ada yang tidak beres, ini tidak benar. Bagaimana mungkin Bu Jamal tidak mengijinkanku pergi. Aku harus menyelidiki sesuatu."


Dinda akan pura-pura pergi bekerja tapi sebenarnya nanti dia balik lagi untuk mengintai kegiatan Bu Jamal. Seharian ini dia sudah mengintai, bahkan membeli perlengkapan untuk menyamar agar tidak ketahuan tapi tidak ada yang aneh. Keseharian Bu Jamal hanya bersosialita dengan teman-temannya. Sampai Dinda bosan karena hanya mengikuti kegiatan Bu Jamal.


Di hari ke tiga barulah gelagat aneh terlihat dari Bu Jamal. Wanita itu berjalan keluar dari rumah dengan mengendap-endap. Kepalanya tengak-tengok melihat situasi. Lalu setelah tidak ada yang melihat barulah wanita itu menyebrang jalan dan sudah ada mobil mewah menunggu di sana. Aku langsung bersembunyi saat Bu Jamal menengok ke belakang. "Huft, hampir saja ketahuan."


Dinda segera menyalakan motornya yang sebelumnya sudah ia tukar dengan milik temannya. Mengikuti mobil itu dari belakang. Sampai mobil itu berhenti di sebuah restoran. Dinda mengamati dari jauh. Terlihat Bu Jamal turun dari mobil lalu memasuki restoran itu. Dari luar tidak bisa melihat apa yang wanita itu lakukan. Dinda pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Membenarkan topi di kacamatanya agar tidak ketahuan.


Dinda duduk agak jauh dari Bu Jamal, di antara mereka terhalang sebuah tiang besar. Tampaknya wanita itu menunggu seseorang.


"Permisi mau pesan apa mbak?"


Dinda terkejut saat seorang pelayan menghampirinya. Untung saja tidak ketahuan. Tidak mau menimbulkan kecurigaan, diapun memesan minuman dan camilan. "Yang ini saja mbak," ujar Dinda sepelan mungkin.


Setelah beberapa lama, minuman yang Dinda pesan bahkan hampir habis. Akhirnya seseorang datang menghampiri Bu Jamal. Dinda mengintipnya dari balik buku menu. Dia tidak mengenal orang itu. Lalu Dinda memasang telinganya untuk bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Saya kesini mewakili tuan, beliau ada rapat mendadak. Ini ada titipan dari beliau karena anda sudah menjaga orang yang sangat berarti untuk tuan dengan baik." Dinda melihat orang itu menyerahkan sebuah amplop coklat tebal pada bu Jamal.

__ADS_1


"Terimakasih Mbak, sampaikan rasa terimakasih saya pada tuan. Saya pasti akan menjaga gadis itu dengan baik. Semua yang tuan minta untuk gadis itu sudah saya penuhi."


"Bagus, kalau begitu saya permisi. Pesan tuan, anda harus selalu menjaga gadis itu. Memberikan laporan pada tuan dan memberitahukan jika ada yang terjadi."


"Saya mengerti mbak."


Orang itu pergi lebih dulu meninggalkan Bu Jamal yang sedang menghitung uang.


Dinda makin curiga. Dia memutuskan untuk mengikuti orang tadi. Urusannya dengan Bu Jamal nanti saja. Enak saja Bu Jamal dapat uang sendirian.


Cukup lama Dinda berusaha mengikuti mobil yang ditumpangi orang tadi. Sampai berhenti di depan sebuah hotel.


"Ini kan hotel dimana Rezza menginap?" gumam Dinda bertanya-tanya. Matanya masih mengikuti kemana mobil itu berhenti. Ternyata memang terparkir di depan hotel yang waktu itu Dinda datangi.


Sampai di lantai 5, Dinda melihat punggung orang yang tadi dia ikuti. Dengan berhati-hati gadis itu mengikuti kemana orang itu melangkah.


"Mau kemana dia, apa dia juga menginap di sini. Semoga saja aku tidak bertemu dengan Rezza kali ini." Sambil mengintai Dinda juga sedikit khawatir.


Orang itu berhenti di depan sebuah kamar. Dia mengetuk pintu lalu kamar itu terbuka. Sayangnya Dinda tidak bisa melihat orang yang di temui orang itu. Dinda tebak pasti itu adalah tuannya.

__ADS_1


"Ish, siall. Bagaimana aku bisa mengetahui siapa orang itu." Dinda mencari ide.


"Ahha.. kenapa aku tidak kepikiran sejak tadi. Ya aku bisa menyamar jadi pelayan hotel yang melakukan pelayanan kamar."


Dinda mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk menyamar, tepatnya dia akan meminjam seragam pelayan di tempat itu.


Dengan susah payah, akhirnya Dinda berhasil. Sudah memakai seragam pelayan hotel itu. Masker serta kacamata juga ia gunakan. Mendorong troli pembersih menuju kamar yang tadi.


Dinda mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka.


"Layanan kamar," kata Dinda.


"Tapi kami tidak memesan, apa Tuan yang memesan." Dia bingung.


"Ada apa?" tanya seorang pria.


"Ini tuan ada layanan kamar, apa anda yang memanggilnya."


"Tidak, untuk apa aku mengurusi hal seperti itu. Nuri yang meminta sepertinya. Ya sudah biarkan dia masuk saja."

__ADS_1


Dinda mencengkeram pegangan troli yang ia pegang saat mendengar suara pria itu. Dia sudah tau sekarang siapa yang menjadi dalang atas apa yang terjadi di kos-kosan. Ternyata Rezza, padahal dia sudah berusaha bersembunyi.


"Oh, iya Tuan sepertinya saya salah kamar. Kalau begitu saya permisi." Dinda langsung pergi dari sana.


__ADS_2