
Malamnya, Arin masih merenung memikirkan rencana Oma Wina yang berniat menjodohkan Nathan dengan wanita pilihannya. Dia pikir kenapa Oma Wina tidak melihat dirinya yang begitu mencintai Nathan. Kenapa harus mencari wanita lain untuk cucunya, apa mungkin Arin tidak cukup baik untuk pria itu. Lalu apa kurangnya Arin, kenapa tidak ada yang memberitahunya kalau dia punya kekurangan. Agar Arin bisa memperbaikinya, agar dirinya bisa layak ada di samping Nathan.
Kenapa juga Oma Wina tidak menyukainya, sampai sekarang itu masih jadi teka-teki untuk Arin. Dia pernah bertanya pada Febby tapi katanya hanya kesalahan pahaman di masa lalu pada orang tua Arin. Jadi seharusnya Oma Wina tidak membenci Arin kan, apa karena kesalahpahaman itu Arin juga jadi ikut dibenci. Bukankah itu tidak adil.
Sudah banyak kain kanvas yang terbuang karena sejak tadi Arin tidak bisa fokus pada lukisannya. Ya dia sedang ada di balkon kamarnya sambil mencorat-coret kain kanvas yang biasanya akan menghasilkan sebuah seni yang indah. Entah bakat dari mana Arin bisa pandai melukis.
"Ish, kenapa salah lagi." Membuang kanvasnya dan menggantinya dengan yang baru. Untung saja dia kaya jadilah bisa bergonta-ganti sesuka hati. Tapi tidak untuk ditiru ya teman-teman, ini hanya cerita halu saja.
Lagi, Arin mulai menggoreskan kuasnya yang sudah ia lumuri cat pewarna. Mencoba fokus dan konsentrasi, melukiskan apa yang sedang ia pikirkan terkadang juga melukiskan apa yang ia rindukan. Seperti keluarganya dan apa saja kenangan indah bersama keluarganya.
"Sedang apa?" tanya seseorang dengan suara baritonnya. Dia berdiri di pinggir balkon, melipat tangannya.
Arin melirik sekilas lalu kembali melanjutkan melukisnya. "Tidak sedang apa-apa, hanya sedang melakukan apa yang aku suka," kata gadis berambut sebahu itu.
"Ini sudah malam, di luar dingin. Masuklah kalau tidak ingin sakit," ujar Nathan memperingati. Seharusnya Arin sudah punya ruangan lukis sendiri di rumah itu tapi jarang digunakan oleh Arin. Hanya ia gunakan sebagai ruang penyimpanan karya-karyanya.
Mike pernah menawarkan mau membuatkan pameran untuk memajang karya-karya Arin. Tetapi gadis itu tidak mau, karena menurutnya karyanya biasa saja. Untuk ia koleksi sendiri saja.
"Sebentar lagi Kak, aku mau menyelesaikan ini," ujar Arin yang wajahnya sudah sedikit belepotan terkena cak minyak.
Pria dengan tubuh tinggi tegap itu menghampiri Arin, setelah tadi masuk untuk mengambil selimut. "Disini makin dingin, menurutlah" Nathan berbisik di telinga Arin setelah memakaikan selimut yang ia bawa untuk menutupi tubuh gadis itu.
__ADS_1
Tentu saja hembusan nafas pria itu membuat Arin mere-mang. Sesaat matanya terpejam menikmati geleyaran aneh dalam dirinya.
"Kak ...," panggil Arin saat Nathan mau pergi. Ya seenaknya saja pergi setelah membuat Arin merinding.
"Ada apa?" tanya Nathan.
"Kenapa Kak Nathan memaksa Oma untuk pulang. Padahal dia masih ingin tinggal disini," kata Arin sambil memegangi selimut yang tersampir di bahunya agar tidak terjatuh.
"Karena Oma sudah melakukan sesuatu yang membuat aku tidak suka."
"Apa karena Oma mencoba menjodohkan kakak dengan seorang wanita pilihannya? Kenapa kakak menolaknya, bagaimana rupa wanita itu. Apa dia cantik, apa dia tinggi dan apa dia termasuk tipe kakak?" tanya Arin, dia ingin tau seperti apa jawaban Nathan. Apa betul dia menolak wanita cantik pilihan oma Wina.
Nathan kembali menghampiri Arin, gadis itu sepertinya sedang merasa cemburu. Dia ingin tau bagaimana reaksi gadis itu kalau Nathan memuji wanita lain.
Arin sungguh tidak suka mendengar Nathan memuji wanita lain. Rasanya sangat kesal dan sesak di dada. "Lalu kenapa Kak Nathan menolaknya kalau dia sudah sesuai dengan kriteria kakak?!" Arin berseru dengan rasa cemburu.
"Karena dia tidak lucu dan menarik sepertimu, dia juga tidak menggemaskan dan dia bukan kamu ...." Nathan menatap mata Arin dalam-dalam.
"A--apa maksud kakak, kenapa karena aku." Arin salah tingkah, pipinya memerah.
"Aku juga tidak tau, tapi saat bersama wanita itu aku tidak merasa nyaman seperti saat bersama denganmu. Kalau dia bicara aku malah jadi sebal, lalu saat dia tersenyum malah membuatku muak. Saat aku bersamanya yang aku ingat malah kamu," tutur Nathan membuat gadis didepannya kian tersipu.
__ADS_1
"Apa yang kakak bicarakan? Aku sama sekali tidak paham, kenapa kakak mengingatkanku saat bersamanya." Arin beringsut menunduk malu-malu.
"Aku juga tidak tau kenapa, sepertinya kamu sudah mendominasi seluruh ruang dalam pikiranku," ujar Nathan.
"Sejak kapan Kak Nathan pandai membual. Sudah sana keluar, aku sudah mengantuk mau tidur." Mendorong tubuh Nathan agar segera keluar dari kamarnya. "Cepat sana keluar Kak," usir Arin. Rasanya dia sudah ingin berjingkrak-jingkrak mendengar apa yang Nathan katakan tapi malu.
"Iya, ini aku keluar. Selamat malam." Nathan keluar dari kamar Arin.
Arin langsung menyenderkan punggungnya pada pintu setelah tertutup rapat. Detak jantungnya sudah tidak normal, dia memegangi dadanya. Tersenyum sendiri sambil mencubit pipinya. Ia takut kalau itu cuma mimpi. Sejak kapan Nathan jadi pandai membuat orang tersipu.
"Apa kak Nathan sudah mulai menyukai ku? Apa karena ciuman semalam, apa aku harus menciumnya lagi agar dia menyadari perasaannya." Kemudian menggeleng.
"Tidak Arin, bagaimana kau bisa jadi gadis yang tidak tau malu seperti itu. Masa kamu yang harus selalu mulai duluan." Lalu dia berlari ke arah ranjangnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
"Ah, padahal aku mau membicarakan soal kuliahku ke luar negeri." Arin sudah memikirkannya, dia setuju dengan usulan Nathan. Dia harus punya bekal dan dasar yang bagus untuk berbisnis. Arin tidak mau kalau perusahaan peninggalan ayah dan kakeknya bangkrut kalau tidak tau apa-apa.
Akhirnya beberapa hari lagi ujian semester.
Arin sudah mempertimbangkan dengan matang, dia sudah bertekad mau mendapatkan nilai yang terbaik agar bisa masuk ke universitas terbaik di luar negeri. Akhir-akhir ini dia belajar mati-matian, banyak menghabiskan waktu di perpustakaan dan banyak berdiam diri di rumah.
Temannya Dinda yang selalu menemani Arin sekarang. Sementara Rezza sedang sibuk-sibuknya dengan tim basket kampus. Dia sudah lebih tenang meninggalkan Arin karena sudah ada Dinda yang menemani. Sejauh ini Rezza sudah sedikit percaya dengan gadis bertubuh tinggi itu.
__ADS_1
Hari ini kebetulan Arin dan Dinda diminta Rezza untuk melihat pertandingan basketnya. Katanya sebelum Arin lulus, setelah lulus pemuda itu tidak punya kesempatan lagi untuk menunjukkan bagaimana ketampanannya saat sedang bermain basket. Saat sedang melakukan Slam dunk yang selalu memekikkan para penonton, Arin harus melihat hal itu. Makanya dia akan bermain totalitas hari ini.
Rezza mengerlingkan sebelah matanya pada Arin yang sudah duduk di kursi penonton.