Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 48


__ADS_3

Rezza mulai panik saat sudah hampir satu jam, Dinda masih belum keluar juga dari dalam toilet. Dia jadi berpikir macam-macam, takut yang di dalam toilet melakukan hal nekat. Mengingat perkataan psikiater yang katanya mental gadis itu cukup tertekan setelah kejadian itu. Walaupun selama ini Dinda tidak pernah menunjukkan gejala aneh di depannya atau di depan orang lain tapi yang Rezza tau pasti itu satu. Gadis itu suka menangis diam-diam.


"Hai kau sudah terlalu lama di dalam sana. Cepat keluar atau aku buka paksa pintunya!" ancam Rezza sambil menggedor-gedor pintu toilet.


"Astaga!! Sedang apa gadis itu, bikin orang susah saja." Rezza mondar-mandir di depan pintu menimbang apa dia panggil perawat saja untuk membuka pintu. Tapi sebelum itu ternyata dia lebih memilih untuk mencoba menggedor pintu lagi. "Hai kau jangan main-main, cepat keluar dari sana. Aku benar-benar akan mencari perawat dan membuka pintu ini kalau kau tid--"


Klek. Akhirnya Dinda membuka pintu juga.


"Maaf kak, perutku tadi agak sakit. Maaf kalau membuat kak Rezza khawatir," kata Dinda, dia menunduk tidak berani menatap laki-laki itu. Takut pria itu melihat matanya yang sembab.


"Ish kau ini, setidaknya katakan sesuatu agar aku tidak panik. Ya sudah, ayo aku papah kau ke ranjang." Rezza baru mau memegang pundak Dinda tapi gadis itu menghindar.


"Aku bisa sendiri kak. Terimakasih." Dinda berjalan melewati Rezza begitu saja. Berpegangan pada apapun, dia tidak ingin bergantung pada siapapun. Meski ia senang laki-laki itu bersikap baik padanya tapi dia sadar kalau semua itu karena rasa bersalahnya.


Dinda sudah duduk di bibir ranjang, menghadap ke jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan ibu kota. Beruntung dia di rawat di kamar yang pasti mahal ini, belum fasilitas dan perawatannya. Semua ini pasti karena teman-temannya yang merasa kasihan padanya. Walaupun katanya dia dapat kompensasi dari para pelaku yang sudah menganiayanya. Jumlahnya sangat besar, mungkin butuh waktu bertahun-tahun kalau Dinda bekerja untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.

__ADS_1


Namun hal itu tidak membuat Dinda senang, siapa sih yang mau dipukuli seperti itu lalu diberi uang yang banyak untuk ganti rugi. Dinda tidak ingin semua itu. Dia lebih senang bisa berteman dan akur dengan teman-temannya. Para orang tua pelaku juga sudah menjenguknya lalu meminta maaf atas nama anak-anak mereka. Ada juga yang menawarkan uang lebih banyak tapi anaknya jangan di penjara. Ya mereka sangat baik, tau kalau Dinda butuh uang. Sayangnya mereka salah, Dinda tidak menginginkan uang itu dan tanpa diminta pun dia sudah memaafkan mereka. Dia tidak suka berurusan dengan polisi, dia hanya orang miskin biasanya tidak akan di dengar.


Biarlah mereka bebas dan Dinda juga bisa hidup dengan damai. Meski Arin maupun Rezza menawarkan bantuan dan pengacara tapi Dinda tidak ingin memperpanjang semua itu. Ya mungkin sekarang mereka bisa melindungi Dinda tapi suatu saat nanti, mereka punya kesibukan sendiri dan saat itu para pelaku maupun keluarganya menyimpan dendam pada Dinda saat tidak ada siapapun lagi di sampingnya. Mereka bisa dengan mudah balas dendam.


"Kalau ada apa-apa jangan disimpan sendiri. Ceritakan pada Arin, setidaknya bebanmu bisa sedikit berkurang. Kau juga tidak perlu memikirkan mereka lagi." Entah kenapa melihat wajah Dinda yang memprihatinkan membuat Rezza merasa kasihan.


"Kak ... bisakah kak Rezza pulang saja hari ini. Aku sudah sembuh dan bisa melakukan apapun sendiri. Jadi kak Rezza sudah tidak perlu menemani ku lagi," pinta Dinda.


"Tidak, aku tidak akan pergi sampai kau benar-benar sembuh," kata Rezza.


"Kak, aku ingin sendiri. Bisakah kakak pulang saja. Kak Rezza juga pasti butuh istirahat di tempat yang lebih nyaman. Aku tidak ingin menyusahkan siapa-siapa lagi."


"Tidak, aku akan tetap disini. Tenang saja aku tidak akan mengganggumu. Lakukan apapun yang kamu mau, cukup tidak menganggap ku ada disini." Rezza langsung merebahkan diri di atas sofa dan pura-pura memejamkan matanya. Agar Dinda tidak mengusirnya lagi.


Dinda hanya menghela nafas, pria itu begitu tidak peka. Apa dia tidak memikirkan perasaan Arin kekasihnya. Ya karena Dinda pikir Rezza dan Arin sudah jadian dengan kata lain mereka sudah berpacaran. Jadi bagaimana bisa beberapa hari ini Laki-laki itu terus-terusan ada disini menemaninya. Kemudian, dia pun ikut merebahkan diri dia akan ranjang rumah sakit. Masih membelakangi Rezza.

__ADS_1


Esoknya. Dinda sudah bertanya apa dirinya sudah boleh pulang atau tidak. Dengan sedikit bujukan, akhirnya dokter memperbolehkan pulang. Kebetulan Rezza sedang tidak ada. Laki-laki itu sudah berangkat kuliah pagi-pagi. Jadi Dinda bisa pulang tanpa ada yang tau. Dia pulang sendiri, mengemas pakaian sendiri lalu pulang ke kos-kosan. Dia belum berani pulang ke rumah. Luka-lukanya masih ada bekasnya. Ada juga yang masih diperban. Tidak mau bikin panik orang rumah.


Sementara di rumah sakit Rezza dan Arin sedang kelimpungan karena Dinda tidak ada di kamarnya. Barang-barangnya masih ada hanya pakaiannya saja yang tidak ada.


"Bagaimana? Apa mereka tau kemana Dinda?" tanya Arin pada Rezza yang baru saja bertanya pada bagian administrasi.


Rezza mengangguk. "Kata mereka, dia sudah pulang tadi pagi. Saat dokter memeriksa dia ngotot minta diijinkan untuk pulang."


"Kok bisa? Keadaan lukanya saja belum sembuh sepenuhnya. Kenapa dia keluar dari rumah sakit tanpa bilang pada kita," bingung Arin.


"Sepertinya dia terlalu merasa tidak enak pada kita. Kemarin saja dia memintaku untuk pulang, katanya tidak mau menyusahkanku. Tapi aku tidak mau. Aku yakin dia sebenarnya tertekan hanya saja tidak mau bercerita pada siapa-siapa," seloroh Rezza menyimpulkan.


Arin tampak setuju, saat dia berkunjung saja Dinda banyak melamun seperti memikirkan sesuatu. Sebenarnya dia juga tidak memaksa agar dia memenjarakan para pelaku perundungan itu, terserah Dinda kalau mau memaafkan mereka dan mencabut berkas. Mungkin dia punya pemikiran dan pertimbangan sendiri. Tapi Arin yang rasanya tidak rela kalau mereka di lepas begitu saja. Jadilah dia menghukum mereka dengan caranya. Tepatnya meminta tolong pada Nathan untuk memperingati mereka. Rezza juga minta tolong ayahnya untuk hal yang sama karena ayah-ayah mereka ada yang bekerjasama dengan Sakka.


"Ya sudah ayo kita lihat ke rumahnya," ajak Rezza.

__ADS_1


"Dia tidak mungkin pulang ke rumahnya, dia kan mau menyembunyikan hal ini dari orangtuanya. Mana mungkin pulang dalam keadaan seperti itu."


"Benar juga, kalau begitu kita cari di tempat kosnya."


__ADS_2