
Mereka sudah ada di mobil menuju apartemen tempat Arin tinggal selama di luar negeri. Keduanya masih sama-sama diam dan canggung karena kejadian tadi. Arin masih sangat malu, bagaimana dia bisa begitu agresif. Tapi jujur memang tadi itu sangat nyaman. Mengingat kejadian tadi membuat pipi Arin bersemu merah dan senyum-senyum sendiri saat mengingat dia mendengar degup jantung Nathan yang begitu kencang. Apa artinya laki-laki itu gugup berdekatan dengannya.
Nathan sendiri masih salah tingkah, terlebih karena ia tebak gadis itu pasti tadi mendengar jantungnya yang berdetak kencang. Sungguh memalukan. Seharusnya dia bisa mengontrolnya.
"Kita sudah sampai tuan," ujar supir di depan. Menyadarkan lamunan kedua orang itu.
"Ehheemm, ya aku tau. Kau turunkan kopernya," titah Nathan pada supir itu.
"Ayo turun, kita sudah sampai di apartemen tempat mu tinggal selama disini." Setelah itu dia keluar lebih dulu.
Sampai di apartemen yang dimaksud.
"Waahhh ... aku tinggal disini kak? Ini sangat bagus, aku bisa melihat pemandangan kota ini dari atas sini." Arin berdecak kagum melihat apartemen yang disiapkan Nathan untuknya. Selera laki-laki itu tidak diragukan lagi.
"Apa kau suka? Kalau kau tidak nyaman kita bisa mencari apartemen yang lain."
"Aku suka kak, aku disini. Aku pasti betah disini. Terimakasih," kata Arin. Dia menyusuri setiap sudut ruangan. Ada kamar yang besar yang sudah didesain sesuai selera Arin. Dapur dan ruang tamu. Arin jadi bisa masak sendiri.
"Kau harus jaga diri disini, aku akan mengunjungimu seminggu sekali di akhir pekan," kata Nathan.
"Tidak perlu kak, itu akan sangat merepotkan kak Nathan. Sebulan sekali juga sudah cukup. Bagaimana Kak Nathan akan beristirahat kalau setiap akhir pekan harus ke sini." Arin sebenarnya sangat senang kalau lebih sering ditengok tapi mengingat perjalanan yang lama dan memakan waktu. Dia khawatir akan membuat Nathan kelelahan.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk menjaga diri. Akan ada beberapa pengawal, mereka tidak akan menggangu aktifitasmu. Mereka hanya akan muncul kalau kau dalam bahaya, tapi aku harap hal itu tidak akan pernah terjadi." Nathan menghampiri Arin dan mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Tenang saja kak, aku akan menjaga diri dan segera menyelesaikan pendidikanku disini agar bisa segera kembali ke Indonesia." Dan membuktikan diri kalau dia sudah dewasa dan mandiri, bisa berdiri disisi Nathan.
"Aku menunggu saat itu tiba. Sekarang aku akan membawamu berkeliling, ayo bersiap."
Mendengar hal itu mata Arin berbinar, dia sudah tidak sabar mau berjalan-jalan di negara itu. Mengingat ini adalah kali pertama dia ke luar negeri, bukan karena tidak punya uang tapi kalau rasa traumanya pada pesawat.
Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan kota yang ada di negara Inggris. Mengeksplor berbagai tempat wisata dan mencicipi makanan khas daerah setempat. Sebelum besok mulai aktivitas sebagai mahasiswi di sana.
Arin menikmati waktu mereka, Nathan mengajaknya berkeliling dan dia sangat senang. Pria itu juga banyak tersenyum melihat Arin yang bahagia. Gadis itu meski baru pernah menginjakkan kaki di sana tapi langsung bisa menyesuaikan. Sedikit mengurangi kecemasan Nathan.
Sampai malam harinya, barulah mereka kembali ke apartemen. Arin tertidur di mobil dan Nathan menggendongnya naik ke apartemen. Dia tidak tega membangunkan gadis itu yang tampak kelelahan.
"Aku mau itu ... ya yang itu ..." rancau Arin dalam tidurnya. Dia sampai mengigau mengingat jajanan yang tadi ia lihat. Memang Nathan melarangnya makan makanan yang terlalu pedas. Itu juga yang ia cemaskan, saat dia tidak ada takutnya Arin akan makan sembarangan.
"Dasar gadis kecil," gumam Nathan sambil tersenyum geli melihat tingkah Arin yang terus mengigau dalam gendongannya.
"Sudah pagi, kenapa kak Nathan tidak membangunkanku. Hooamm ...." Arin turun dari ranjang, kaki-kakinya mulai menapaki lantai. Berjalan keluar mencari laki-laki yang semalam bersamanya. Entah tidur dimana pria itu malam tadi. Arin sama sekali tidak ingat apapun, mungkin karena kelelahan.
"Kak Nathan ... kak ... kau dimana?" panggil Arin. Dia sudah mencari di ruang tamu dan di balkon tapi tidak ada. "Apa dia di dapur?" bergumam sendiri.
Di dapur tidak ada siapapun. Tapi di meja makan sudah ada menu sarapan. Dua potong sandwich dan segelas susu hangat. Arin mengambil segelas susu lebih dulu dan meminumnya. Barulah dia menyadari ada sebuah kertas kecil di bawahnya.
^^^Jangan lupa memakan sarapanmu. ^^^
__ADS_1
^^^Aku akan datang lagi saat aku ingin.^^^
^^^Nathan ♥️^^^
"Kak Nathan sudah pergi, kenapa tidak membangunkanku. Sepertinya mulai sekarang aku harus melakukan apapun sendiri." Arin menyimpan pesan itu kemudian memakai sandwich yang sudah disiapkan Nathan.
Nathan baru saja keluar tadi pagi. Setelah selesai membuat sarapan untuk Arin. Ia tidak tega membangunkan gadis itu yang masih terlelap dalam mimpinya.
'Aku harap kamu bisa jadi gadis yang pemberani dan mandiri. Cepatlah pulang.'
Masih banyak yang harus Nathan urus juga di perusahaan. Termasuk membantu daddynya mengurus orang-orang di perusahaan milik keluarga Hermawan. Mereka harus berusaha keras agar orang-orang di perusahaan mau berpihak pada Arin saat gadis itu siap mengambil alih nanti. Bukan hal yang mudah membuat para petinggi perusahaan yakin pada gadis muda yang belum berpengalaman.
Nathan dan Mike juga sedang berusaha mencari bukti-bukti orang-orang yang beriman curang di sana setelah kematian kakek Tio dan cucunya, Revan.
Di tempat lain. Dinda gadis itu ada di kota Surabaya. Dia pulang kampung bersama ayahnya, setelah ibunya meninggal dunia. Banyak hal yang sudah ia lalui. Saat ini dia kerja banting tulang untuk makan sehari-hari karena ayahnya terkena stroke. Hanya bisa berbaring di atas ranjang. Dinda bekerja di restoran kalau pagi, malam gunakan waktunya untuk bekerja sebagai driver ojek online.
"Aku berangkat pak," pamit Dinda pada ayahnya, setelah memastikan ayahnya kenyang barulah ia pergi mencari pelanggan.
Sang ayah hanya bisa mengangguk dan meneteskan air mata tiap melihat perjuangan putrinya. Dia sebagai ayah hanya bisa menyusahkan. Berbicara pun tidak jelas. "Amu aii-aii ..." coba berbicara.
Meski terkadang Dinda tidak paham tapi dia mengerti maksud ayahnya. "Tenang saja pak. Doakan saja putrimu dapat banyak uang agar bisa mengobati bapak."
Sang ayah menggeleng, kalau saja dia bisa berkata. Dia ingin bilang tidak usah.
__ADS_1
'Tidak, jangan nak. Tidak perlu memikirkan bapakmu ini, bapak lebih baik pergi menyusul ibumu agar kau bisa hidup tenang. Kau pikirkan saja dirimu, nak. Bapak harap kamu bisa mendapatkan suami yang baik kelak. Suami yang bisa menyayangi mu seperti bapak sayang padamu.'
Sang bapak hanya bisa terisak.