Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 39


__ADS_3

Sampai di rumah. Arin yang melihat Oma Wina pulang pun menyapa wanita tua itu dengan ramah tapi sama sekali tidak dianggap.


Tapi Arin sama sekali tidak marah atau kesal karena sudah biasa mendapatkan sikap seperti itu dari Oma Wina. Kemudian dia beralih pada sesosok laki-laki yang berjalan di belakang Oma Wina. Dadanya langsung berdebar kencang saat laki-laki itu melangkah semakin mendekat. Dia ingin lari dan bersembunyi tapi sudah terlanjur dilihat.


Nathan menyeringai dari kejauhan, akhirnya dia bisa bertemu dengan gadis itu yang sejak kecil tadi mengganggu pikirannya. Dan lihatlah ketika gadis itu malu-malu, pipinya memerah sangat lucu. Nathan jadi tertarik untuk menggoda gadis itu, mungkin bisa sedikit memperbaiki moodnya yang berantakan karena Omanya.


'Kenapa kak Nathan mendekat ke arahku, mau apa dia. Please, jangan kesini.' Kaki Arin sudah gemetar, jantungnya berdegup lebih kencang lagi saat melihat Nathan semakin dekat. Tinggal beberapa langkah lagi laki-laki itu sampai dihadapannya.


Arin mundur kebelakang, ingin menjaga jarak dengan pria yang bisa membuat jantungnya tidak sehat itu karena berpacu terlalu kencang. Dia tidak takut hanya saja grogi kalau ingat yang semalam. Itu adalah ciumaann pertama Arin dalam hidupnya dan dia senang karena yang mengambil ciuman pertamanya adalah orang yang dia sukai sejak dulu.


Niatnya cuma mau menggoda sebentar tapi saat melihat Arin mundur dia jadi ingin maju lagi. Dengan senyum menyeringai seperti tadi.


Selangkah Nathan maju, maka Arin akan mundur dua langkah ke belakang. Sampai kakinya menabrak sofa di belakangnya. Hampir saja Arin terjungkal kebelakang karena yang ia tabrak adalah bagian senderan sofa. "Aaa...." pekik Arin.


Beruntungnya Nathan dengan sigap menarik tangannya hingga tubuh Arin menabrak tubuh Nathan saat ini. Mereka begitu dekat dan menempel. Arin mendongak dan tepat melihat wajah Nathan dari dekat.


"Kenapa kau mundur, bagaimana kalau jatuh?" ujar Nathan tanpa rasa bersalah, padahal karena dirinyalah Arin hampir terjatuh.


Mata Arin melebar mendengarnya. "Itu karena Kakak, mau apa maju-maju," cicit Arin sambil manyun.


Nathan terkekeh kecil melihat Arin kesal. "Aku hanya ingin menyapamu, lalu kenapa kau menghindar? Apa kau takut padaku?" goda Nathan.

__ADS_1


Arin salah tingkah, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia bukan takut tapi gugup. Bagaimana tidak gugup kalau bertemu dengan laki-laki yang semalam mencuri ciuman pertamanya dengan dalih hukuman. Sungguh sangat menyedihkan seharusnya. Tapi Arin senang-senang saja karena yang menciumnya adalah Nathan.


Arin gigit bibir.


"Jangan menggigit bibir seperti itu, kalau tidak ingin aku hukum lagi." Sambil menarik pinggang Arin hingga tubuh mereka makin menempel saja.


"Kak ...." Arin gugup maksimal. Dadanya kian bergemuruh.


'Ish kenapa gadis ini makin cantik saja kalau dilihat. Kenapa dari dulu aku tidak sadar,' monolog sendiri dalam hati.


Dua insan manusia itu asyik sendiri saling tatap menumbuhkan benih-benih cinta dalam hati mereka. Yang makin lama berubah jadi bunga-bunga yang bermekaran menghiasi perasaan mereka. Sampai tidak sadar kalau ada yang melihat kemesraan mereka. Lagi-lagi ada Febby yang tidak sengaja melihat mereka.


'Astaga mereka sangat mesra dan membuatku iri. Aku seperti sedang melihat drama percintaan anak muda.' Febby senyum-senyum sendiri dari kejauhan. Dia pun melanjutkan langkahnya dan sengaja berdehem untuk mengagetkan mereka berdua. "Ehemmm ...."


Febby pura-pura tidak melihat mereka, dia berjalan sampai melihat ke arah lain.


"Mom, sudah tidak usah berpura-pura lagi." Nathan jengah, mengganggu saja pikirnya.


"Eh anak mommy sudah pulang, kalian dari mana saja dimana Oma." Febby mengalihkan pembicaraan agar anak-anak tidak malu.


"Di kamarnya mungkin, oh iya tolong mommy bantu Oma mengasihi pakaiannya. Dia akan terbang besok pagi," kata Nathan lalu pergi.

__ADS_1


"Kenapa mendadak, apa terjadi sesuatu pada papah Bayu. Atau mamah melakukan sesuatu tadi saat pergi, Nathan terlihat kesal saat aku menanyakan Omanya." Febby bertanya-tanya dan menebak-nebak apa yang terjadi. Lalu dia ke kamar mamahnya.


Tepat di depan pintu kamar mamahnya Febby tidak sengaja mendengar Wina sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Dia pun mengurungkan niatnya untuk masuk.


"Aku minta maaf sekali atas sikap cucuku, Don. Dia juga sangat kesal padaku, aku akan membujugnya pelan-pelan nanti agar mau mengenal lebih dekat cucumu," ujar Wina pada temannya di telepon sambil duduk di tepi ranjang membelakangi pintu kamarnya.


"Apa! Jadi Nathan mengancam akan menghancurkan karir cucumu? Ya ampun, maaf maaf aku tidak tau akan seperti ini jadinya. Tapi kau tenang saja, kalau aku merengek padanya pasti dia akan menuruti perintahku lama-lama."


"Ya, Namira adalah wanita yang sangat cocok dengan cucuku. Hahaha iya kau tenang saja kita pasti akan berbesan." Setelah cukup lama akhirnya Wina mematikan teleponnya. Ternyata sejak tadi Febby mendengar semua ucapan mamahnya, jadi seperti itu rencana mamahnya. Pantas saja Nathan kesal.


"Apa maksud mamah mau menjodoh-jodohkan Nathan!" seru Febby membuat Wina terperanjat.


"Kau ... sejak kapan kau ada di sana. Tidak sopan sekali menguping pembicaraan orang lain." Oma Wina bukannya merasa bersalah malah kesal.


"Mah, cukup mah. Apa yang mamah lakukan? Untuk apa mamah ikut campur urusan Nathan. Mamah itu orang yang baru kemarin masuk dalam hidup Nathan, dari dulu mamah sama sekali tidak mau menerima dan mengakui Nathan sebagai cucu mamah. Lalu sekarang apa, seenaknya mamah mau menjodoh-jodohkan Nathan dengan wanita yang tidak jelas. Pantas saja Nathan sangat kesal, apa mamah sadar kalau Nathan tidak mau kalau urusan pribadinya dicampuri."


"Aku ini Omanya, aku berhak mencarikan pasangan yang terbaik untuk cucuku. Tidak seperti kau yang bisa-bisanya membiarkan Nathan dekat dengan anak orang yang sudah merebut kekasihmu dulu," sungut Oma Wina masih saja menyimpan dendam yang tidak berguna.


"Mah!! Arin tidak salah apa-apa, dan lagi ibunya sama sekali tidak merebut Revan mah. Revan sendiri yang memutuskanku. Aku juga sudah bahagia dengan Mike. Aku sama sekali tidak menyesal karena tidak jadi menikah dengan Revan, justru aku bersyukur karena itu aku bertemu dengan Mike dan berubah jadi lebih baik karena Rara." Febby tidak habis pikir dengan mamahnya yang terus saja mengungkit masa lalu yang tidak berguna. Jelas jasa Rara dan Revan lebih besar ketimbang masalah itu. Bagaimanapun juga tidak bisa menyalahkan perasaan orang lain. Mereka sudah sepantasnya saling jatuh cinta sebagai suami istri. Dan dirinya orang ketiga sudah seharusnya menyingkir.


"Aku akan menyuruh pelayan membantu mamah mengemasi pakaian. Aku setuju dengan Nathan, lebih baik mamah menenangkan diri di Singapura bersama suami mamah."

__ADS_1


"Apa kau mengusir Mamah?" Wina berdiri dan melotot tajam.


__ADS_2