Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 46


__ADS_3

Mereka sudah ada di rumah sakit. Setelah kejadian tadi, Arin, Nathan serta Rezza langsung membawa Dinda ke rumah sakit. Betapa menyedihkannya keadaan gadis itu. Luka lebam dan darah dimana-mana.


Arin tertunduk di kursi tunggu, rasa bersalahnya begitu besar pada sang sahabat. Andai ... andai dia tidak pergi dan tetap bersama Dinda pasti kejadiannya tidak akan seperti itu. Tapi semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Arin karena ternyata Dinda lah yang mendorongnya agar mau mencoba berteman dengan siapa saja.


'Tidak apa-apa kak, mereka mau berteman dengan kak Arin sepertinya. Banyak teman kan menyenangkan kak. Coba saja,' kata Dinda pada saat itu.


Sungguh kenapa dia harus pergi dan berbicara pada orang-orang yang hanya mencari muka dan meninggalkan Dinda yang berteman tulus padanya tanpa tujuan apapun.


Arin menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia menangis. Ya, rasanya sakit saat kita tidak bisa melindungi orang yang dekat dengan kita.


"Hiks hiks hiks ... maafkan aku, semua salahku." Arin sesenggukan.


Nathan baru saja berbicara pada dokter mengenai keadaan Dinda. Dia lah yang menggendong Dinda dari dalam cafe ke mobil. Bahkan jas dan kemejanya dipenuhi noda merah. Melihat Arin yang begitu terpukul dan Rezza yang hanya mematung sejak tadi. Dia memilih menjadi orang yang paling waras. Menemui dokter salah satunya, dia meminta dokter untuk memeriksa semua luka luar dan dalam untuk dijadikan bukti nanti. Dan yang mengejutkan kata dokter, Dinda juga dalam pengaruh obat perangs*g.


Nathan pasti akan mengurusnya, mencari siapa saja yang terlibat. Bukan karena Dinda, tapi karena Arin yang begitu sedih melihat temannya dianiaya. Lalu juga demi nama baik kampus yang merupakan yayasan milik perusahaan keluarga Arin. Dia tidak bisa membiarkan seorang penjahat tinggal dan berkeliaran di kampus. Bisa saja Arin dalam bahaya.


Nathan duduk di sebelah Arin yang masih menangis. Tangannya mengusap punggung gadis itu. "Jangan menangis lagi, tolong berhentilah," pinta Nathan yang tidak tega melihat Arin bersedih.


"Hiks hiks hiks ... kak a- a--aku ... huhuhu ... ini semua karena aku. Aku sudah meninggalkannya di sana. Hiks hiks hiks ...." Arin mengangkat kepalanya dan menangis semalam keras.

__ADS_1


Tangan Nathan menarik tubuh Arin masuk dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis dalam dadanya. Agar tidak terlalu berisik dan mengganggu pasien yang ada di rumah sakit itu.


"Cup cup cup, sudah sudah. Jangan menangis lagi. Ini bukan salahmu, kau tidak salah. Bagaimanapun kau bukan keluarganya jadi kau tidak punya kewajiban untuk menjaganya kan," kata Nathan ingin sedikit menghibur tapi malah salah bicara.


"Bagaimana kakak bisa berkata seperti itu. Aku juga bukan keluarga kakak, jadi kakak juga tidak punya kewajiban untuk menjagaku, hiks." Arin tidak terima, menurutnya kalau kita sahabat dan dekat ya harus saling menjaga satu sama lain.


Nathan menggaruk pelipisnya, "Emm ... maksudku kau tidak bersalah sepenuhnya. Kau juga tidak tau apa yang akan terjadi, kau tidak tau kalau temanmu akan berada dalam masalah. Dan kau juga tidak bisa menyamakannya dengan aku dan kamu. Kita berbeda, aku punya kewajiban sepenuhnya untuk menjamin kamu baik-baik saja," ujar Nathan. Yang punya arti lain.


Kalau saja Arin tidak sedang dalam keadaan seperti itu pasti akan tau maksudnya. Arin masih sesenggukan, dia kembali masuk dalam pelukan Nathan.


Sementara Rezza. Sejak tadi dia berdiri dalam diam, kepalanya menunduk. Lalu apa dia tidak merasa kasihan pada Dinda? Dia bahkan jauh lebih merasa bersalah pada gadis itu. Dia memaku bukan karena menyesal rencananya menembak Arin gagal tapi karena syok melihat Dinda tergeletak di lantai dengan banyak luka di tubuhnya. Terlebih setelah mendengar apa yang terjadi. Teman-temannya yang bahkan ikut membuly gadis berkepang itu saat dirinya tidak ada.


Ini karenanya, saat teman-temannya bertanya apa mereka bisa memerintah gadis itu. Ia hanya mengangguk. Pikirnya dia sudah membayar Dinda dengan mahal, kalau memang mereka mau menyuruh dia tidak masalah. Tapi di luar ekspektasinya. Apa yang mereka lakukan sungguh keterlaluan. Dia tidak akan memaafkan mereka.


Dan saat tadi Arin menolongnya pun Dinda sempat tersenyum padanya sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


Rezza juga tidak menyangka kalau rencananya yang akan menyatakan cinta membuat orang bisa terluka. Dia terlalu fokus pada tujuannya. Bahkan tadi dia sempat melihat Dinda yang pucat dan memegangi kepalanya tapi dia malah mengabaikan hal itu. Sekarang saat semuanya jadi seperti ini, ia sungguh sangat menyesal.


Setelah Arin cukup tenang dan tidak menangis lagi, Nathan memberikan gadis itu minum dan sedikit cemilan meskipun gadis itu sama sekali tidak menyentuhnya. Dia tidak bisa makan katanya kalau belum tau kabar Dinda.

__ADS_1


"Kau mau makan atau aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan gadis itu lagi. Dia sudah berani membuatmu menangis dan tidak mau makan, lebih baik kalian tidak usah bertemu lagi."


Arin membulatkan matanya yang sembab. "Aturan macam apa itu kak. Dia temanku satu-satunya, apa kakak akan menjauhkan kami?" tanya Arin.


"Ya kalau memang itu perlu. Kau tidak boleh berdekatan dengan dengannya lagi. Karena dia sudah membuatmu bersedih," kata Nathan.


"Cepat makan, patuhlah, atau mau aku suapi?"


"Tidak kak ... aku akan makan sendiri." Arin mengambil sekantong cemilan dan minuman itu.


"Bagus, sangat patuh sekali."


Setelah menemani makan sebentar Nathan pun mau menghampiri Rezza, ada yang perlu ia bicarakan. "Aku kau berbicara pada bocah itu, tunggu disini!" kata Nathan.


Nathan sudah ada dihadapan pria itu yang terlihat sangat berantakan padahal tidak melakukan apapun. Dia kesal karena harus menggendong gadis itu jadinya.


"Ada yang mau aku bicarakan," tukas Nathan.


Rezza mendongakkan. "Bicara apa, nanti saja."

__ADS_1


"Ck. Kau itu tidak tau berterimakasih. Aku sudah menolongmu untuk mencari bukti tapi kau malah seperti itu. Kau yang menyebabkan masalah ini, kau harus bertanggungjawab. Terlebih pada psikis gadis itu yang mungkin terganggu. Aku juga sudah menyuruh orangku untuk mencari tau siapa saja yang terlibat. Dan satu lagi, dokter mengatakan kalau dia juga diberi obat perangs*g. Aku curiga pada teman-teman lelakimu." Nathan menyerahkan bukti visum yang tadi dia minta pada Nathan agar pemuda itu yang menyelesaikannya.


Kenapa bukan dia sendiri, entahlah hanya dia yang tau. Tapi meski begitu Nathan tidak akan lepas tangan, dia akan tetap mengawasi Rezza dan juga para penjahat itu.


__ADS_2