Nikahi Aku, Kak!

Nikahi Aku, Kak!
Bab 59


__ADS_3

Nathan sudah sampai di rumah Arin. Rumah besar peninggalan almarhum kakek Tio. Dia juga sudah lama sekali tidak ke sana. Bayangan Arin kecil yang ceria dan dikelilingi orang-orang yang sayang padanya terlintas di kepala Nathan. Karena Nathan dulu sering datang ke rumah itu bersama daddynya. Kakek Tio, ayah serta ibunya Arin begitu baik padanya.


Nathan membawa bungannya lalu turun dari mobil. Dia cukup berdebar, baru kali ini dia mau melamar wanita.


Seorang pelayan membukakan pintu, menunduk dan menyapa Nathan. Dia tau itu adalah putra dari Mike.


"Di mana Arin? Dia datang kemari kan?" tanya Nathan.


"Iya Tuan, nona Arin baru saja datang. Dia sedang ada di kamarnya."


"Baiklah, terimakasih. Aku akan melihatnya ke sana." Nathan berjalan begitu saja melewati pelayan.


"Tunggu Tuan, tapi nona Arin sedang-"


"Tidak apa-apa, aku sudah tau di mana kamarnya." Padahal pelayan itu belum selesai berbicara.


'Apa tidak apa-apa membiarkan tuan Nathan ke kamar nona Arin. Karena nona sedang mandi tadi. Ah sudahlah, toh sepertinya mereka memang pasangan yang sudah ditakdirkan untuk bersama. Jadi semakin cepat semakin baikkan.' Pelayan itu tidak jadi melarang Nathan.


Nathan tau mana kamar Arin dan langsung masuk begitu saja karena memang tidak dikunci. Di dalam kamar itu tidak ada siapapun tapi kemudian seseorang membuka pintu kamar mandi.


Itu Arin, dia baru saja mandi. Rasanya tubuhnya sudah bau keringat karena perjalanannya yang jauh. Dia keluar hanya menggunakan handuk karena ia pikir tidak ada siapapun di rumah itu, pelayan yang berkeliaran di rumah juga semuanya wanita.


"Bi, mana jus yang aku minta. Apa sudah dibuatkan?" tanya Arin sambil mengelap rambutnya yang masih basah. Dia tidak sadar kalau yang saat ini ada di kamarnya adalah Nathan.


Sedangkan laki-laki itu meneguk ludah melihat Arin yang hanya menggunakan handuk itu. Dimana kulit putih mulus Arin bagian bahu dan pah4 terekspos di depan Nathan. Setelah Arin beranjak dewasa baru kali ini Nathan melihatnya lagi. Kalau dulu mungkin sudah biasa, bahkan mereka seringkali mandi bersama saat kecil. Tapi sekarang, Arin yang hanya menggunakan handuk sudah mampu membangunkan adik kecilnya yang tersembunyi di dalam celana.


"Bi, mana jusnya?" Arin melihat ke arah pintu, dan betapa terkejutnya saat melihat Nathan yang ada di sana. "Kak Nathan? Aaa ... kenapa kakak masuk kamarku?" pekik Arin sambil menutupi bagian atasnya dengan handuk kecil yang ia pegang.


Nathan yang menyadari itu langsung berbalik, wajahnya sudah memerah. Tubuhnya gerah dan dia melonggarkan dasinya.

__ADS_1


"Eummm ... itu tadi kata bibi pelayan aku langsung masuk ke kamar saja. Aku kira kamu tidak sedang mandi jadi aku masuk begitu saja." Padahal pria itu sendiri yang mau langsung masuk.


Arin mengerutkan keningnya, jelas-jelas bibi pelayan tau kalau dirinya sedang mandi. Apa mungkin menyuruh Nathan masuk ke kamarnya.


"Kakak, itu namanya tidak sopan! Masuk ke kamar gadis. Kakak saja selalu protes kalau aku masuk kamar kak Nathan tanpa mengetuk pintu," protes Arin.


"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi," ujar Nathan.


"Ya sudah, kenapa kak Nathan masih di situ. Apa kak Nathan juga mau melihatku berganti pakaian."


Nathan sedikit terkejut dan berdebar, apa boleh dia tetap di situ. Apa iya, tidak apa-apa. Tapi bukankah mereka belum menikah. "A--aku ...."


"Ish, kenapa masih di situ. Apa kakak benar-benar tidak akan keluar."


"Aku akan keluar sekarang." Secepat kilat, Nathan keluar dari sana tanpa melihat ke belakang lagi. Takut kelepasan kalau menengok lagi.


"Kenapa dengan kak Nathan, apa aku salah lihat. Dia sepertinya malu-malu, lucu sekali kalau seperti itu," gumam Arin. Dia langsung memakai pakaiannya menyisir rambut panjangnya.


Arin sudah selesai memakai pakaiannya. Pergi kel luar untuk menghampiri Nathan. Pria itu ada di ruangan yang ada di lantai dua, yang di temboknya dipenuhi foto-foto dirinya dengan keluarganya.


"Kak Nathan, sedang melihat apa?," panggil Arin.


"Melihatmu, gadis kecil yang suka menggangguku sudah besar sekarang."


"Besar?" Arin bertanya-tanya, apa karena tadi Nathan melihat miliknya yang besar.


"Eh maksudku sudah dewasa," ujar Nathan jadi salah tingkah.


Arin mendudukkan dirinya di sofa yang ada di sana. Menikmati jus yang pelayan bawakan.

__ADS_1


"Ada apa kak Nathan kemari? Bukankah sudah tidak peduli lagi padaku." Arin mengingat sebulan ini tanpa melihat pria itu sangat membuatnya tersiksa.


Nathan menyerahkan bunga yang ia bawa dan berlutut di depan Arin.


"Maafkan aku yang belum sempat melihatmu lagi. Tapi aku sudah berjanji akan menjemputmu, aku baru mau ke sana tapi tiba-tiba mendengar kamu sudah kembali. Kau mau memaafkanku?"


"Maaf? tidak semudah itu." Arin memalingkan wajahnya, tidak mau menerima bunga itu. padahal dalam hatinya sudah berbunga-bunga.


"Tolong maafkan saya tuan putri Arin. Saya akan melakukan apapun agar tuan putri Arin mau memaafkan saya." Bergaya seperti pangeran yang sedang meminta maaf pada tuan putri.


Arin terkekeh dalam hati. Bagaimana bisa pria itu bersikap seperti itu sekarang.


"Sebagai permintaan maaf, apakah tuan putri bersedia makan malam dengan saya."


Tidak tahan, Arin pun mengangguk setuju.


"Yes ..., sekarang ikut aku," ajak Nathan.


"Ke mana kak? Ini masih siang." Arin enggan. Dia masih lelah rasanya.


"Bertemu seseorang. Kau pasti akan senang melihatnya."


"Siapa?" tanya Arin.


"Nanti kau akan tau." Menggandeng Arin.


Di dalam mobil, Arin terus menciumi bunga pemberian Nathan. Walaupun dia tidak terlalu suka bunga tapi kalau diperlakukan romantis seperti itu tentu saja dia senang. Wanita mana yang tidak meleleh kalau diperlakukan seperti itu.


"Kau suka bungannya?"

__ADS_1


"Hemm ... sebentar kita mau bertemu siapa Kak?"


"Teman lama," ujar Nathan.


__ADS_2